KPU Lembata Ajak Pemuda Muslim Kolipadan Jadi Agen Demokrasi Yang Berintegritas

Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk menempah diri, belajar membangun karakter diri remaja dalam kehidupan sosial.

LEMBATA – Suasana hangat bulan suci Ramadhan 1447 H menyelimuti Masjid Raudhatul Mustaqim, Desa Kolipadan, Kecamatan Ile Ape, pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lembata hadir menyapa warga dalam agenda bertajuk “Sedap Ramadhan 1447 H: Safari Demokrasi Partisipatif”.

Kegiatan ini bukan sekadar buka puasa bersama, melainkan ruang pendidikan politik bagi remaja muslim, anggota karang taruna, dan pemilih pemula di Desa Kolipadan. Hadir sebagai narasumber, Ibrahim Kader (Kadiv Teknis Penyelenggaraan KPU Lembata), Paulina Y.B. Tokan (Kadiv Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM KPU Lembata), serta Rifky Balamaking (Tokoh Pemuda Desa Kolipadan).

Dalam pemaparannya, Ibrahim Kader menekankan bahwa meskipun saat ini sedang berada di masa non-tahapan, KPU tetap berkomitmen memberikan edukasi politik.

Di bulan Puasa ini, dimana Ramadhan merupakan bulan pendidikan maka mari kita jadikan momentum ini untuk membagi informasi, demi peningkatan kemampuan dan pemahaman kita dalam kehidupan berdemokrasi.

Bulan ramadlan disebut pula dengan Syahru at-Tarbiyyah atau bulan Pendidikan, karena Ketika berpuasa kita dididik dan dilatih berbagai hal, diantaranya adalah Pendidikan kedisiplinan, disiplin pada waktu berbuka, disiplin pada waktu makan sahur, disiplin menaati aturan atau ketentuan-ketentuan lain agar tidak membatalkan puasa.

Disiplin pada saat berbuka tergambar dalam hal waktu, karena walaupun kurang satu detik sekalipun, tapi kalua belum masuk waktu sholat maghrib maka kita belum boleh berbuka, begitu juga pada saat sahur, walaupun makanan masih tersedia banyak di piring dan seenak apapun makanan itu, namun kemudian waktu sahur sudah habis, maka wajib kita berhenti makan sahur, tepat waktu inilah sebagai Pendidikan dan Latihan dalam kedisiplinan.

Baginya, Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk menempah diri, belajar membangun karakter diri remaja dalam kehidupan sosial.

“Membangun karakter generasi muda adalah kunci. Terutama kejujuran dan disiplin serta rasa empati dan saling menghargai. Jangan mudah tergiur dengan politik uang (money politics), punya rasa peduli dan saling menghargai dalam perbedaan pilihan. Pemuda Muslim harus menjadi corong informasi yang cerdas dalam menyaring berita di media sosial,” tegas Ibrahim.

Ia menambahkan bahwa demokrasi tidak harus diwujudkan dengan masuk ke partai politik. Demokrasi dimulai dari hal-hal kecil di keluarga, seperti berani menentukan pilihan secara bertanggung jawab, hingga aktif berkontribusi dalam organisasi kepemudaan demi kemajuan desa.

Senada dengan Ibrahim, Paulina Y.B. Tokan mengajak para pemuda untuk memperkuat literasi membaca. Di tengah banjir informasi, Paulina menekankan pentingnya verifikasi berita agar masyarakat, khususnya pemilih pemula, tidak mudah termakan berita bohong atau hoaks yang dapat memecah belah persatuan. Remaja Muslim harus menjadi garda terdepan dalam memfilter berbagai informasi terutama informasi terkait demokrasi dan kepemiluan.

Diskusi menjadi lebih dinamis ketika tokoh masyarakat setempat, Rifky Balamaking, memaparkan potret nyata di lapangan. Ia menyoroti fenomena politik kepentingan di desa yang kerap memposisikan penyelenggara pemilu (PPS, PPK, KPU) sebagai pihak yang disalahkan.

Rifky juga mengkritisi teknis kampanye yang seringkali terpusat dan kurang merata, serta mencatat adanya kendala kepercayaan diri di kalangan pemuda desa untuk terlibat sebagai penyelenggara pemilu. “Kami mengharapkan adanya perbaikan dalam proses rekrutmen dan teknis di lapangan agar lebih baik dan inklusif,” ujar Rifky.

Sesi tanya jawab menghadirkan suara kritis dari Fajrul, perwakilan pemuda Desa Kolipadan. Ia berbagi keresahan mengenai nepotisme dalam keluarga dan maraknya politik uang yang membuat pemuda seringkali hanya menjadi penonton dalam pesta demokrasi. Fajrul menambahkan bahwa, dalam menentukan pilihan, pemilih Pemula lebih cenderung mengikuti arah pilihan orang tua.

Menanggapi hal tersebut, Ibrahim dan Paulina memberikan dorongan kuat: berani melapor dan menjaga integritas. Mereka menegaskan bahwa niat dan kemandirian adalah kunci. Pemuda harus berani memilih berdasarkan hati nurani, bukan karena tekanan atau imbalan.

Acara ditutup dengan buka bersama dan motivasi bagi para pemuda di Masjid Raudhatul Mustaqim untuk tidak lagi menjadi penonton. “Jadilah agent of control dan agent of change bagi lingkungan sekitar,” tutup Ibrahim, mengakhiri Safari Demokrasi dengan harapan akan lahirnya generasi pemilih yang cerdas dan berintegritas di Desa Kolipadan. ++R.B

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *