suluhnusa.com_Bagi Kania, waktu yang terukir adalah kehidupan yang harus dijalani dengan semangat yang terus dan terus diikuti kemana arahnya.
Arah yang ia telusuri kadang berkelok namun kadang juga lurus menyerupai lorong hitam yang belum pasti di mana ujungnya. Kania ingin berbagi, tapi pada siapa? Semua yang dilimpahi keluh kesahnya seakan bumerang kata-kata yang menyerang balik kiprahnya sebagai seorang Ibu, ya mereka telah menyalahkan dirinya menjadi Ibu yang gagal, Ibu yang tak bisa mencipta masa depan yang cerah bagi keluarganya dan puteranya sendiri.
Kania, perempuan berusia lima puluhan, pensiunan sebuah tabloid, mantan wartawati yang kini berprofesi sebagai penulis tak tetap, tertunduk membisu tatkala semua kesalahan itu tertimpa padanya. Seorang anak laki-laki yang dikasihinya, yang dia didik dengan kasih sayang melebihi takaran ibu-ibu lainnya, yang selalu ia pantau di mana pun ia berada, yang tak pernah diberinya rasa tentang susahnya hidup ini, yang selalu ia jejali dengan pemenuhan demi pemenuhan akan kebutuhan yang ia inginkan, yang ia ibaratkan bagai tulang rusuk kehidupannya, kini harus menerima pukulan balik yang ia sendiri tak pernah menyangka akan seperti ini jadinya.
Sang waktu berjalan begitu cepat dan memberikan jawaban yang sesungguhnya tak pernah ia harapkan. Kania berjalan dalam lenguhan duka, mencari apa dan kenapa semua menimpanya. “Aku telah memberikan yang terbaik untuk anakku, tapi mengapa jawaban yang mereka berikan seperti ini?” Di antara rasa sesalnya, di antara deru halilintar, di antara derai air mata yang tersapu derasnya hujan di pipi, Kania menatap langit. Ia bertanya dan terus bertanya mengapa kebaikan yang ia berikan harus dibalas dengan air tuba?
Itulah pertanyaan yang ia tengadahkan ke langit kelam yang terselimuti awan hitam. Gelegar halilintar memberi jawaban yang tak pasti, apakah ia memang salah mendidik atau memang dirinya yang terlalu lemah? Kania menangis lagi, ia bersimpuh di antara derasnya hujan, air mata telah berbaur menyatu dengan derasnya luruhan air yang tertuang dari hamparan mega berwarna kelabu, sekelabu hatinya.
“Keluarkan aku dari penjara ini, Mama, aku tidak bersalah…” desah parau suara puteranya terdengar dari balik jeruji besi. “Aku hanya ingin meringankan beban Mama, membantu Mama agar tidak perlu bekerja keras lagi, sungguh aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya disuruh menyampaikan benda itu ke orang yang akan mengambilnya di tempat yang sudah dijanjikan. Aku tidak tahu apa isi benda itu Mama. Uang sebesar satu juta rupiah sebagai imbalan akan kuberikan pada Mama, uang itu untuk membantu membayar listrik di rumah, agar listrik kita tidak padam…”
Kania meremas jeruji besi dengan segenap daya yang ada di dada. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Tak ada dispensasi yang bisa ia dapatkan. Sang penguasa keadilan, telah menjatuhkan palu yang berdetak cepat, secepat detak di jantungnya. “Hukuman penjara seumur hidup karena telah menjadi kurir narkoba berjenis ganja!” Itu vonis yang didengar Kania. Tak ada kompromi lagi. Kania menangis histeris tatkala melihat sang putera digelandang ke dalam sel pengap yang penuh dengan beragam penjahat dari beragam spesialisasi. Hanya ganja seberat satu ons hukumannya penjara seumur hidup? Kania bertanya pada angin. Dan jawabannya adalah tebusan sebesar lima puluh juta rupiah. Kania memandang sosok sang pemberi keadilan dengan mata nanar. Uang sebesar itu? Dari mana ia peroleh?
“Naaaak…benarkah kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan?” tanyanya serak.
Tatapan mata itu, ya tatapan mata sang putera sayu dan memudar tertuju ke wajah Kania. Ia berkata pelan, “Sungguh, Ma…aku tidak bohong. Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya ingin membantu Mama…”
Kania membisu. Umpatan sang suami yang mengatakan dirinya sebagai Ibu yang gagal tak lagi membuatnya tersiksa. Ia menerima semua itu dengan hati lapang. Yang menyakitkan kini, ia melihat sinar hitam di lorong waktu sang putera. Haruskah masa depan anaknya terhenti sampai di situ. Ah, Kania tak kuasa menahan debar di dada, ia kembali menangis dalam diam.
Jika masa bisa kembali berbalik, jika waktu tak berlalu dengan cepat, jika rengkuhan tak hilang dari ke dua tangan, jika bayi mungil yang dulu dirawatnya dengan penuh kasih kembali menyelusup di kandunganya, Kania ingin mengulangi semuanya. Menjadikannya pembelajaran hidup yang tak lagi perlu ia tangisi. Namun masa telah mengambil semuanya, waktu telah tercipta tanpa ia dapat kendalikan. Anakku…maafkan Ibu tak bisa mendidikmu dengan baik…
***
Jakarta, Jumat (11/2)
Seorang pemuda berusia 25 tahun, berinisial AE telah ditemukan gantung diri di sel no 2 Lembaga Pemasyarakatan Tunjungsari. Diduga ia mengalami stres hebat karena hukuman penjara seumur hidup yang divonis hakim, tidak sesuai dengan barang bukti yang dibawanya. Ada kecurigaan bahwa pemuda berinisial AE itu dibunuh terlebih dulu sebelum digantung, sebab di beberapa bagian tubuhnya ditemukan luka-luka memar bekas pukulan dan sayatan pisau di pangkal pahanya. Pemuda ini kemungkinan dibunuh agar ia tidak memberikan kesaksian berkaitan dengan narkoba jenis ganja yang dibawanya. Polisi masih mengusut bunuh diri yang tak wajar ini…
Kania terpana. Koran yang dibacanya jatuh ke lantai. Berjuta jarum seakan tertuju ke segenap jaringan tubuhnya. Sang suami menatapnya dengan mata memerah. Ketika tamparan tangan yang kokoh menimpa wajahnya, Kania tersungkur. Pandangannya gelap, dadanya nyeri dan ia seolah terbang di awan gemawan. Inilah keadilan yang ia terima. Di tengah senyum pucatnya, Kania berucap perlahan, semua memang tertuju kepadaku, aku perempuan yang melahirkan dia, jika dia bersalah akulah yang menjadi tumpahan kebodohan, akulah yang menurunkan semua derita padanya. Semua itu seakan aku sendiri yang mengusungnya. Maka di antara senyum letihnya, Kania mengatupkan mata. Ia menari mengitari cakrawala, melesat terbang meninggalkan semua derita. Kania terbang menyusul sang putera, selesai sudah derita yang ia pikul. Kania berharap di sana, di awan gemawan ia dapat bertemu dengan sang putera…
Fanny J.Poyk
Depok, gerimis malam 2012
