Lelaki Itu dan Dunia yang Absurd

suluhnusa.com_Lelaki itu datang dengan senyum manisnya, senyum dengan sejuta pesona yang ia miliki, dan senyum itu sepertinya sanggup meluluhlantakan hati siapa pun yang menatapnya. Namun di mata itu ada tatapan sendu yang membias, bila melihatnya lebih tegas, seakan ada air mata mengambang di situ. Lelaki itu, dia tak banyak berkata-kata. Bila ada yang bertanya, dia hanya berkata singkat, “suara-suara itu adalah temanku!”

Ia mengenakan celana jins dan baju atasan putih, membawa seikat bunga lily yang juga berwarna putih. Lelaki itu melangkahkan kakinya pada sebuah rumah mungil mirip kastil kecil di pegunungan dingin Irlandia sana. Ketukan yang ia lakukan pada pintu rumah itu, menandakan bahwa dia sudah tahu betul di mana posisi terbaik untuk berdiri dan melakukan hal yang tepat untuk memberi sinyal pada seluruh penghuni rumah. Ketika ketukan itu semakin keras, semua mata yang ada di dalamnya tertuju pada satu arah, pintu masuk rumah, dan mata itu kemudian beralih ke gadis berambut sebahu yang tengah duduk membisu dengan wajah lugu tanpa dosa.

“Cepat buka pintunya, Sha, jangan biarkan orang itu berdiri lama di situ!” nada tinggi keluar dari lelaki yang sedang duduk menonton televisi.

“Tapi kita tidak mengenali orang yang mengetuk pintu itu, Yah. Siapa tahu…”

“Rampok maksudmu? Jangan ngaco kamu. Di dalam rumah ini ada tiga lelaki dan dua perempuan, jika dia berani berbuat macam-macam, enam orang yang ada di sini termasuk dirimu akan mengeroyoknya. Ayo cepat buka pintunya!”

Sha, nama gadis itu dengan langkah tersendat berjalan menuju pintu, membuka kunci dan menekan gagang pintu. Perlahan suara derit pintu terdengar, lalu tatkala pintu setengah terbuka, desir angin malam menelisik masuk dan Sha mundur ke belakang beberapa langkah. Lelaki berbaju putih dan bercelana jins itu tersenyum padanya. Benar, Sha tak mengenalnya.

“Halo, kau Shatinez, kan?” tanyanya dengan senyum dikulum.

Sha berdiri termangu. Sudah hampir sepuluh tahun tak ada yang pernah menyebut nama lengkapnya. Ia mengerjapkan mata.

“Boleh aku masuk?”

“Oh, si…silahkan!”

Tiga laki-laki dan dua perempuan selain Sha yang ada di dalam ruangan, secara otomatis memandang ke laki-laki itu. Ayah Sha yang masih mengenakan kaca mata dengan segera menurunkannya, kemudian ia menatap tajam lelaki itu. “Kau siapa dan apa tujuanmu kemari?”

Lelaki bercelana jins dan berbaju putih itu, untuk beberapa saat menata kata-kata yang akan dikeluarkannya. Tanpa disuruh, ia mengambil salah satu kursi yang masih kosong, kemudian ia duduk di situ. “Saya ingin melamar Sha!” katanya singkat.

Serentak orang-orang yang ada di ruangan itu menatapnya dengan cermat. Curiga. Sha juga demikian, wajah eloknya yang seolah tanpa dosa itu memucat. Ayah Sha lalu berdehem. Katanya, “Kamu siapa? Kok tidak ada angin tak ada hujan, langsung mengatakan hendak melamar putri saya. Kamu pikir putri saya benda mati? Saya ayahnya, saya belum pernah melihatmu datang ke sini, bagaimana kamu bisa tiba-tiba datang lalu hendak melamarnya?”

“Maaf, saya memang tidak mengenal putri Bapak, saya mengetahuinya dari televisi. Dia penyanyi idola saya, ya, sejak kemunculannya pertamakali di TV, saya sulit untuk melupakan wajahnya.”

Wajah-wajah yang ada di ruangan itu kian mengeras. Jim sang kakak seketika berdiri. “Heh kau, berani-beraninya kau mengatakan itu pada adik kami. Kau tahu, kau berhadapan berhadapan dengan siapa?” Ia kemudian mencengkeram kerah baju lelaki itu.

“Dengar aku sungguh-sungguh ingin melamar adikmu. Ini hanya untuk tiga bulan saja, ya…ya…tiga bulan saja…”

“Plak!” sebuah tamparan keras mengenai pipi lelaki itu. Ia hampir terjatuh dari tempat duduknya. Ketika seseorang lagi hendak menamparnya, sang ayah berteriak keras. “Hentikan, jangan kalian lakukan kekerasan padanya. Nanti kita bisa kena pasal penganiayaan. Dia ada di rumah kita. Heh anak muda, katakan, apa sesungguhnya maksudmu datang ke rumah kami?”

“Sungguh, saya ingin melamar putri Bapak. Saya akan memberikan apa saja padanya. Dia menemani saya hanya tiga bulan saja, cukup tiga bulan saja!”

“Kau pikir apa anak saya? Kau tiba-tiba datang melamarnya dan berkata menikahinya untuk tiga bulan saja? Aneh sekali kau ini. Katakan apa sesungguhnya maumu!”
***

Di dalam rumah megah itu Pratomo duduk mematung di kursi megahnya yang terbuat dari kulit asli. Lampu Kristal nan mewah bergelayut gemulai menerangi wajahnya yang tampan, pucat dan dingin. Pra, demikian ia dipanggil, menyipitkan matanya kemudian menutup telinganya, lalu berkata pada sendiri, “Tidak, hentikan, jangan katakan itu lagi. Aku letih, sungguh aku sangat letih!” namun kalimat yang berkata, bakar dirimu, bunuh dirimu, itu terus mengorek-ngorek gendang telinganya. Pra mencoba untuk berdiri, tapi entah kenapa, tatkala tubuhnya baru setengah bangkit, tiba-tiba ia terhempas kembali. Lalu suara-suara itu datang lagi, suara itu mengejeknya dengan nada rendah, mendesaknya untuk mendengar dan akhirnya ke luar seperti gigitan ular yang teramat menyakitkan; ayo gantung dirimu, kau akan menjadi segar bugar dengan lidah menjulur ke luar. Bila darahmu menetes, kau bisa menghirupnya dan akan akan sehat kembali. Tak ada kebaikan di dunia ini, tak ada…

Pra tersentak. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Ia segera menyalakan televisi dan di sana, di layar kaca lebar dari televisi yang menempel di tembok ruang tamunya, muncul Shatinez, gadis itu tengah melantunkan tembang lawas Pergi Untuk Kembalinya Ello. Pra memperkeras volume televisinya. Gaung suara Sha menggema memenuhi seluruh ruangan. Pra memejamkan matanya, untuk sementara, suara-suara yang mengejek dan menyuruhnya bunuh diri hilang.

Suara-suara itu datang satu tahun yang lalu, saat Pra berada di puncak karirnya, sebagai pengusaha batubara yang sukses, Pra adalah bujangan tampan yang telah memiliki segalanya. Materi bukan lagi hal mencengangkannya, ia telah merasakannya sejak kecil, sejak wujudnya masih bayi merah. Orangtuanya yang juga pengusaha tambang yang sama, telah membuatnya menjadi pewaris bisnis raksasa yang ia sendiri tidak tahu mengapa bisa ada di dirinya. Pra, si pewaris tunggal memang ditakdirkan untuk menjadi kaya, kaya sejak lahir.

Dan suara-suara itu adalah petaka yang diduganya dikirim dalam bentuk supranatural dari orang-orang yang tak menyukai keberhasilan keluarganya. Ia merasa dirinya adalah korban. Mati kau, mati kau, mati kau…suara-suara itu kembali menerornya. Pra mengeraskan volume televisi, alunan suara Sha yang syahdu sejenak menenangkannya. Mata sejuk gadis itu, tiba-tiba menyadarkannya, dialah obat yang mampu mengalahkan suara-suara itu.

“Tidak, dia tidak bisa mengobatimu. Selain skizofrenia, kanker otak telah bersemayam di kepalamu. Kanker itu telah memasuki stadium empat. Kau akan mengalami kelumpuhan, sulit berjalan dan seluruh jaringan untuk mengontrol aktivitas yang dilakukan otak, terganggu karena sel-sel kanker telah menggerotinya. Nah berkaitan dengan skizofrenia, kau akan tergantung dengan obat clozaril, risperdal, zyprexa dan seroquel. Kami tidak tahu sampai kapan suara-suara itu akan memerintahmu. Yang penting kau harus bisa bertahan, jangan sampai suara-suara itu terus meneror dan menyuruhmu bunuh diri!” Ultimatum itu sungguh membuatnya gamang. Sungguh.

Suara Sha masih berkumandang. Ruang tamu yang megah itu menjadi sedikit hangat, Pra meneteskan air mata, tiba-tiba ia jatuh cinta pada gadis itu. Gadis yang melalui suaranya bisa meredam sejenak suara-suara yang berdengung di telinganya. Kehangatan kemudian menjalari hatinya. Gadis itu harus menjadi isterinya, seluruh hartanya rela ia berikan asal dia mau menjadi isterinya.
***

Itu kata dua dokter, yang satu dokter jiwa, satunya lagi dokter penyakit dalam. “Kata mereka, usia saya tinggal tiga bulan lagi. Itulah sebabnya saya datang ke sini untuk melamar anak Bapak. Tolonglah Pak, harta saya banyak, usia saya tinggal tiga bulan lagi. Saya akan mewariskannya semua pada anak Bapak asal dia mau menjadi isteri saya.”

Tiga lelaki dan dua perempuan yang ada di ruangan itu terkejut. Kali ini lelaki yang bertubuh tinggi gagah dan berjanggut lebat benar-benar naik pitam. Ia meninju Pra hingga babak belur. Katanya, “Jangan kau pikir dengan hartamu bisa membeli adikku. Sana kau pulang, bersatulah dengan suara-suara itu dan penyakitmu!”

Ingat, kamu tidak akan lari lagi. Perempuan itu tidak bisa menolongmu. Kamu tidak bisa menghindar dari kami, kamilah teman terbaik yang kamu miliki. Di mana pun kamu berada, kami akan ada di sana juga…suara-suara itu terus mengorek-ngorek gendang telinganya.

Pra berjalan lurus ke depan, tatapannya kosong. Ia terus berjalan, terus berjalan, hingga akhirnya tubuhnya melayang bagai layang-layang yang menari-nari di cakrawala. Dunia yang absurd telah menemani dan menghentikan semua kegundahan hatinya. Dan suara-suara itu telah kehilangan satu sosok yang dikuasainya. Suara-suara itu, ia berjalan lambat, berdesis mencari mahluk dengan segudang luka, segudang imaji, segudang ilusi dan segudang keserakahan, maka berhati-hatilah, jangan sampai ia berdengung di telingamu…(Fanny J.Poyk)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *