Malam Meragu

lagi lagi malam meragu
denyar ingatan mengasah waktu
saat dulu
aku berdiri di simpang haru
tertegun melihat wajah manismu

lalu sepanjang titian
kita bergenggam tangan
pasir di pesisir kuta
adalah jejak langkah kita

dalam perahu yang tersamar
angin mengendap perlahan
bulan menyimpan impian

kini kembali kukunjungi malam
ketika mendung menanam kegelisahan
kereta kehilangan penumpang
perahu kehilangan muatan

entah kapan waktu menunggu
serupa menghitung pasir satu satu
berharap hujan meresap di batu
mengendap, membiru

widyastuti

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *