LEWOLEBA – AKSI massa yang tergabung dalam. Forum Parlemen Jalanan Lomblen (Formalen) di Kantor DPRD Lembata, 8 September 2025 memicuh keributan antar anggota DPRD Lembata bahkan nyaris ricuh.
Puluhan massa yang tergabung dalam Formalen ini mendatangi Gedung DPRD Lembata, dipimpin Heribertus Tanatawa selaku Penanggung Jawab Aksi (Koordinator Umum) dan Syaiful Nene Kapala Selaku Koordinator Lapangan membawa sejumlah spanduk dengan tulisan DPR TUNJANGAN TINGGI RAKYAT TELANJANG KAKI, JABATAN ITU PENGABDIAN BUKAN BISNIS MENGHABISKAN KEKAYAAN, UANG RAKYAT JANGAN CEKE SENDIRI, MISKINKAN DPRD SEJAHTERAKAN RAKYAT LEMBATA.
Setidaknya ada sepuluh spanduk yang bertuliskan seruan moral, RAKYAT EFISIENSI PEJABAT ROYALSIENSI, TURUNKAN TUNJANGAN ATAU TURUN DARI JABATAN, VOX POPULI VOX DAY, YANG BEBAN ITU DPR BUKAN GURU HONORER, TUNJANGAN MENINGKAT RAKYAT MELARAT, dan TUNJANGAN JUMBO KINERJA LOYO.
Massa yang bergerak dari titik kumpul Taman Swaolsa Titen Kelurahan Lewoleba Tengah dan bertemu dengan Anggota DPRD Lembata bersama Forrkompimda. Sayangnya aksi ini berakhir dengan caci maki antar Anggota DPRD Lemnbata.
Tuntutan Formalen dan Gugatan Moral
Salah saty orator Choky Askar Ratulela mengkritik tunjangan Transportasi 17.400 .000 / bulan & Tunjangan Perumahan sebesar Rp. 9.600.000/ bulan yang dianggap fantastis ditengah usaha daerah untuk membayar Utang Dana PEN & kondisi ekonomi masyarakat yang sulit.
“Oleh Karena itu Bupati Lembata perlu mengambil Sikap melalui Keputusan Bupati / Peraturan Bupati untuk memangkas Tunjangan Transportasi & Tunjangan Perumahan DPRD Lembata. Anggota DPRD Lembata yang tidak menempati Rumah Dinas DPRD Lembata. Dan apabila apabila tuntutan tidak di penuhi maka Formalen akan melakukan Konsolidasi lanjutan dengan melakukan Aksi Massa yang lebih besar,” tegas Choky.
Emanuel Boli Labaona, orator lainnya memulai orasi dengan menybutkan Vox Pupulix Dei “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”.
“Kondisi Tunjangan Pejabat Publik Lembata benar menyita Perhatian Masyarakat tanpa memperhatikan Asas Manfaat sehingga Formalen Harus berkonsolidasi untk menyuarakan Suara Rakyat. Bahwa Formalen hadir untuk menjawab ketidak adilan yang ada di Kab. Lembata,” tutur Eman Boli.
Dalam aksi itu Formalen menhadirkan empat oprator sekaligus. Selain Emanuel Boli dan Choky, dua orator lain Heri Tanatawa dan Broin Tolok juga menyampaikan tuntutan dan seruan moral yang sama.
“Fokus dan tujuan Utama Aksi massa hari ini adalah terkait tunjangan DPRD Lembata yang sangat Fantastis. Bahwa Daerah Kab. Lembata tidak menghasilkan uang namun DPRD Lembara paling banyak menghabiskan Uang sedangkan Para ASN sampai dengan saat ini belum Menerima Tukin,” tuntut Tanatawa.
Hery Tanatawa juga menyoroti beberapa persoalan di Kabupaten Lembata yang menggantung, diantaranya Persoalan Tenaga PPPK, Permasalahan Los Pasar Pada serta banyak Persoalan lainnya yang belum di selesaikan oleh Pemerintah dan FORMALEN akan Mengawal Permasalahan tersebut sampai selesai.
Menurut Broin Tolok, sertidaknya ada 3 Tuntutan utama dalam aksi tersebut, yaktu Memangkas Tunjangan Transportasi dan Tunjangan Perumahan Anggota DPRD Lembata yang sangat Fantastis dan Patut diduga bahwa Hal tersebut merupakan Hasil Kompromi antara Bupati Lembata & DPRD Lembata, Menuntut Pimpinan DPRD Lembata untuk segera menempati Rumah Jabatan DPRD Lembata, Menuntut Transparansi dari Bupati Lembata untuk menyampaikan secara terbuka kepada Publik Berapa besar tunjangan Bupati dan Wakil Bupati setiap bulan.
“DPRD Lembata telah memangkas Biaya Perjalanan Dinas DPRD Lembata namun terdapat 1 Item Perjalanan Dinas yang masih di bayarkan yakni Perjalanan Dinas Koordinasi yang sebenarnya perlu dihapus untuk mengefisiensi anggaran Daerah. Menuntut agar paling lambat dalam waktu 1 Minggu Tunjangan Transportasi & Perumahan DPRD Lembata harus dipangkas. Bahwa Formalen akan tetap melakukan Konsolidasi apabila Tidak dilakukan Pemangkasan Tunjangan Transportasi & Tunjangan Perumahan DPRD Lembata,” tegas Broin Tolok.
Forkompimda Ketemu Massa, Bupati Ucap Terimakasih
Saat aksi sedang berlangsung, sekira Pkl.11.30 Wita, Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq, Ketua DPRD Lembata, Syarifudin Sira didampingi Kapolres Lembata, AKBP Nanang Wahyudi, S. Psi.,M.Psi.Psikolog, Dandim 1624 Flotim Letkol inf Infantri M. Nasir Simanjuntak. S.Ag., M.I.P., serta Para Anggota DPRD Lembata menemui Massa aksi di Jalur Jalan Trans Lembata Depan Kantor DPRD Lembata.
Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, menyanpaikan terimakasih atas Aspirasi yang disampaikan dengan Damai dan aman sembari menyampaikan tuntutan Massa Aksi untuk dilakukan Dialog maka terbuka ruang untuk dilakukan baik di Kantor DPRD maupun Kantor Bupati Lembata sekaligus menghimbau agar tetap menjaga situasi agar tetap Kondusif.
Dialog Yang diakhiri dengan Nyaris Ricuh
Massa Formalen lalu diterima berdialog di ruangan Gedung DPRD Lembata, dihadiri lengkap Anggota DPRD Lembata dan Forkompinda. Dialog yang dipandu oleh Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapobali ini awalnya berjalan lancar sayangnya diakhiri dengan kericuhan dan saling mengeluarkan kata kata makian oleh anggota DPRD Lembata.
Bermula dari salah satu orator aksi Choky, menyampaikan pujian dan apresiasi dengan menyebut Anggota DPRD Lembata, John S. Batafor yang menolak tunjangan perumahan, tunjangan transportasi dan pakaian dinas yang mendapat protes dari 24 anggota DPRD lainnya. Karena untuk pakaian dinas yang disebutkan Vhoky ditolka oleh John Batafor ternyata tidak benar. John Batafor menerima pakaian Dinas sebagai anggota DPRD Lembata.
Kejadian ini serentak menaikan tensi dialog, karena penyataan Choky terkait penolakan pakaian Dinas anggota DPRD oleh John Batafor mendapat sorakan dari 24 anggota DPRD lainnya.
Tidak menerima ia disoraki John Batafor, anggota DPRD Lembata Partai Nasdem ini, langsung menyambar dengan teriakan dan suara tinggi sekalipun Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq dan Dandim berusaha untuk meredahkan suasana.
Melihat situasi nyaris ricuh, karena John Batafor menuding Salah Satu Wakil Ketua DPRD Lembata, Fransiskus Chiku Namang dengan sebutan ‘mulut perempuan’. Bukan hanya itu saja, John Batafor juga mengeluarkan kata makian, sembari menyebut, pencuri dan penipu semua yang ada dalam ruangan.
Sayangnya, masih ada Forkompimda dan 24 anggota DPRD lainnya masih berada didalam ruangan dialog tersebut bersama massa Formalen. Situasi redah ketika John Batafor diamankan oleh beberapa wartawan yang hadir meliput aksi tersebut.
Wakil Ketua DPRD Lembata, Fransiskus Xaverius Namang mengungkapkan DPRD tidak perna minta gaji dan tunjangan dinaikan sejak Thn 2022, DPRD juga sudah melakukan banyak efisiensi sejak berlakunya Inpres No. 1 tahun 2025.
“Mobil pimpinan tetap yang lama, Perjalanan dan Bimtek dikurangi juga biaya makan minum rapat rapat. Kalau besaran tunjangan Transportasi dan Perumahan yang dianggap besar itukan penilaian sangat subjektif,” ungkap Namang.
Menurutnya, semua penghasilan dan tunjangan diatur dalam PP 18 Thn 2017 sepanjang tidak melebihi tunjangan perumahan dan trasnportasi DPRD provinsi dan sesuai Kondisi Keuangan Daerah.
Disinggumng terkait situasi aksi yang berakhir nyaris ricuh dan saling caci maki, Namang nggan berkomentar.
“Minta maaf Reu. Tanyakan ke aktor yang mau miskinkan DPRD saja. Saya tadi tidak lihat masyarakat dari Dapil IV daerah yang saya wakili. Jadi saya menikmati saja dialog tadi. Bahwa ada riak-riak tanyakan saja pada yang teriak-teriak tadi di ruangan,” tutup Namang. +++sandro.wangak

