suluhnusa.com_Enam Puluh Sembilan (69) tahun kemerdekaan Indonesia di tahun 2014, masih menyisahkan sekian persoalan dari hulu hingga ke hilir.
Sungguh, Pernyataan Soekarno Bapak Proklamator Republik Indonesia masih sangat relevan dengan kondisi bangsa hari ini. Beliau pernah mengatakan “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Mengapa tidak, Usaha untuk meningkatkan kesehjateraan yang terus diperjuangkan, diperhadapkan pada kasus Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang hingga kini, masih merajalela, baik dari Pusat hingga ke daerah.
Alhasil, ada sekian kebutuhan dasar masyarakat yang bermanfaat besar dalam peningkatan kesehjateraan kemudiaan terabaikan pemenuhannya oleh Pemerintah.
Semua kita tentu sepakat bahwa Kebutuhan yang paling mendasar dari masyarakat kita saat ini adalah Air, Jalan (Infrastruktur), dan Listrik.
Air, Jalan, dan listrik, manakalah terpenuhi dengan baik, maka tentu dampak ikutannya adalah adannya perbaikan kehidupan pada bidang ekonomi, kesehatan, juga pendidikan serta lain- lainnya.
Tidak menyebutkan disemua wilayah Kabupaten Flores Timur, tetapi jika siapa saja yang sudah berkunjung atau melintasi jalur jalan di wilayah Tanjung Bunga, maka tentunya memeilkiki kesimpulan yang sama. Jalan ke tanung Bunga Rusak Parah.
Pantauan suluhnusa.com Sabtu 22 Agustus 2014, di salah satu ruas utama jalan yang melintasi wilayah Waikelak, Lama Ojan Desa Bahinga, Riangpuho Desa Waibao, Desa Riangkeroko, Turubean Desa Lamatutu, Desa Tanah Belen, hingga ke Bou saat ini mengalami kerusakan yang sangat parah.
Di sepanjang jalan, kita akan menemukan batu- batu dari kecil hingga besar yang berceceran disepanjang badan jalan, belum lagi topografi medan yang tidak rata, seakan menambah sulitnya kehidupan masyarakat di tempat ini.
Bahkan dari Bou ke Koteng Walang dan Basira masyarakat harus rela dan tabah melalui jalan setapak. Di wilayah ini, baik sepeda motor maupun kendaraan roda empat belum bisa masuk.
Ada alternatif lain melalui jalur trasportasi laut tetapi itupun hanya sekali jalan dalam satu minggu.
Silvinus Paun, ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) di Riangpuho desa Waibao, ruas jalan ini, awalnya sudah mengalami pengaspalan, tetapi sejak gempa bumi 1992, aspal di ruas jalan ini hancur tak berbekas dan belum mengalami perbaiki hingga saat ini.
Masyarakat didaerah ini, memanfaatkan mobil pick up untuk mengangkut penumpang dan juga mendistribusiakan komoditi ke Larantuka ibu kota Kabupaten Flores Timur.
Untuk bisa membawa hasil komoditi dan bisa terjual di Pasar Inpres Larantuka, warga untuk satu hari hanya bisa bertahan di Larantuka tiga atau empat jam.
Misalnya, di Riangpuho, Desa Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, warga yang menjual komoditinya atau berbelanja di Kota Larantuka, harus sudah berangkat dari rumah dan keluar dari kampung pada pukul lima (05.00) pagi, dan akan tiba di Larantuka pada pukul jam 09.00. sementara siang tepat jam 13.00 mobil harus kembali lagi ke Kampung.
Sehingga para Petani memiliki waktu yang sangat singkat untuk berjualan atau berbelanja.Tarif untuk penumpang Rp.20.000 untuk satu orang. Sementara untuk tarif barang berkisar antara Rp.10.000 hingga Rp.30.000 per muatan. Lanjutnya, untuk wilayah di Tanjung Bunga, hasil komoditinya, tergolong produktif. Ada jambu mente, pisang, pohon jati, mangga, buah asam, buah Jeruk nipis, nangka, kelapa, dan lain- lain.
“Jarak dari Kota Larantuka Menuju ke Riangpuho Desa Waibao kurang lebih 48 Km, tetapi karena jalannya yang rusak masyarakat harus menempuh dengan mengahabiskan waktu sekitar 3-4 jam dalam perjalanan.Kondisi ini, sangat mempersulit kehidupan masyarakat di wilayah ini. Namun masyarakat tetap melakoni aktivitas seperti ini pada setiap harinya dengan tabah, dari tahun ke tahun.” Tutur Paun.
Dia berharap, semoga pemerintah bisa memperhatikan jalan di Tanjung Bunga khusus untuk ruas jalan yang kerusakannya sudah sangat parah.
“Menyelesaikan seluruhnya, tentu tidak secepat yang diharapkan, tetapi baiklah kalau sudah mulai dibicaran, sudah mulai didiskusikan untuk bagaimana caranya, kebutuhan – kebutuhan dasar itu harus bisa pelan –pelan dipenuhi,” ungkapnya penuh harap.
Sementara itu Kondradus Kosa Brinu tokoh pemuda dari Riangpuho Desa Waibao mengatakan bahwa, aspirasi masyarakat untuk perbaikan jalan, kadang jawaban pemerintah, adalah jalur itu jalan Provinsi sehingga nanti pemerintah provinsi yang mengurusnya, jalan itu jalan pusat/ negara sehingga nantilah pemerintah pusat yang perhatikan.
Tetapi tentu bahwa, pemerintah daerah juga adalah perpanjangan tangan dari pemerintah provinsi dan pmerintah pusat, sehingga baik kalau ada komunikasi yang intens dalam upaya membangun, memperbaiki, dan mendatangan kebutuhan kebutuhan dasar Masyarakat demi peningkatan kesehjateraan bersama. (maksimus masan kian)
