Modalnya Hanya Bisa Menenun

suluhnusa.com_ Diceritakan oleh Bahjan, SE. ME. Seorang guru Madrasah Aliyah Negeri Kecamatan Wanasaba Lombok timur.

Ada seorang pedagang tenun gedogan memiliki art shop, membina kelompok-kelompok membantu para pegerajin setempat, bersetatus sudah menikah berumur 36 tahun, si ibu dari Laily Ramdani beragama islam bertempat tinggal di desa Kembang Kerang Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur dialahibu Nur’aini, S.Pdi.

Sebelumnya mengerjakan tenun gedogan tersebut semenjak masih gadis, dan sudah berpengalaman mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan dan pameran-pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Prindusterian & Perdagangan, Koperasi dan Pengusaha Kecil, serta Badan Usaha Milik Negara(Pertamina) mulai dari tingkat kabupaten sampai nasional.

Melalui Bahjan, SE. ME. Kepada suluhnusa.com  ibu Nura’ani megatakan ”Saya mulai megerjakan usaha ini pada waktu masih gadis, profesi orang disini dari turun temurun jadi semua masyarakat sejak dulu sudah mulai menenun.”

Pemesanan tetap, barang tidak ada yang fakum di rumah maka ibu-ibu itu antusias bekerja, jumlah pegiriman tidak tentu kalau jadi seratus atau kurang itulah diantar perbulan ke Cikeas dan Jakarta tuturnya.

Dengan harga barang sepuluh juta sampai lima belas juta rupiah dengan  dua kali pembayaran misalnya kalau kita mau kirim lagi sudah selesai pembayaran tunggakan yang  kedua.

“Kita sudah lama berhubungannya dengan pihak yang di sana sehingga kami berani memberikan seperti saudara,” ungkapnya.

Lalu, peran pemerintah sudah menyentuh, termasuk Pertamina jadinya usaha ini berkembang  sebagai mata pencaharian.

Orang tinggal dikembangkerang asyik melanjutkan, produksi ini Dikenalkan oleh Pertamina melalui pameran, promosi, semua pembiayaan tempat pameran, makan, penginapan, perjalanan, semua ditanggung pertamina, walaupun dapat penjualan kita setor dikembalikan lagi terangnya.

Kalau ada even-even besar di Jakarta, Surabaya, Jogja, lampung, cocok dengan bahan tenun pasti diundang pernah ikut pameran expo internatinal di Jakarta Itu kebanyakan datang orang luar dalam acara sehingga ketemu relasi, pelanggan.

Pada tahun 2003 pernah kesulitan modal, lalu mendapat perhatian dari pertamina dibantu kemudian dibina seperti motif batik kami seneng motif warna putih.

Melaksanakan usaha ini awalnya butuh permodalan, lalu modal bukan segala-galanya tapi sekarang pasar yang utama, ada dana Tapi pasar tidak ada percuma ungkap Nur’ani.

Kalau masalah permodalan masyarakat megambil dari saya nanti dipotong dengan hasil pendapatan jelasnya.

Kebetulan seminggu sekali pasaran tenun di Lombok Barat katanya, ada yang jaga kami control biasanya dua minggu sekali berangkat ada omzet masuk dapat lima enam juta dari penjualan.(habib)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *