suluhnusa.com_Ini pembelajaran untuk masyarakat kita agar berhati-hati dalam musyawarah pemilihan pemimpin yaitu Kadus (kepala dusun) setiap tindakan yang kita lakukan harus dipikirkan matang matang terlebih dahulu jika kita tidak siap menerima konsekwensi akan kita dapatkan.
Jadi pada musyawarah pencalonan kadus masyarakat gubuk kr anyar timuk dulu ada yang menolak dikarenakan orang yang dicalonkan sudah tahu karakter yang diusung sebagai kadus tapi dari kejadian tersebut banyak yang menentang pada akhirnya si calon naik menjadi gadus memang berjalan mulus awalnya.
Pada rentetan perjalanan sampai saat ini sebenarnya penulis tim Forum Wartawan Lombok (FWL) malas megungkapkan permasalahan kepublik karena keseringan mendengar keluhan, kekesalan pada akhirnya tidak tega melihat keadaan tidak memuaskan masyarakat, perihatin melihat kondisi dari struktur pemerintahan Kabupaten lombok Timur.
Seperti Kadus (kepala dusun) Karang Anyar Timur, Desa mamben lauk, Kec. Wanasaba, Lombok Timur, NTB masyarakat banyak yang menggunjing dengan alasan lemah memimpin.
”Dengan mengingat Undang-undang Dewan pers tahun 2008 nomor 14 megenai keterbukaan informasi publik, bagian C. bahwa keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan Badan Publik lainnya dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik. bahwa pengelolaan informasi publik merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan masyarakat informasi”.
Kisahnya sampai detik ini pernah diinformasikan masyarakat pada malam jumatan ada acara pembacan yasinan dalam kegiatan itu dia menyampaikan perogramnya para pendengar turun bahkan ada yang mengecilkan soundsystem, lain lagi cerita masyarakat ingin melebarkan jalan umum dia melarang.
Seperti dikatakan ketua gubuk dan ketua pemuda saudara Duyan menyampaikan seharusnya dia meganjurkan melebarkan jalan umum diwilayah pecatu sebagai bapak gadus bahkan sebaliknya melarang, ken-ken ne dalam bahasa Bali.
Menurut masyarakat dua tahun lalu pernah musyawarah gubuk rencana mau diberhentikan tidak jadi dengan alasan dikasih perigatan dulu, buktinya sampai sekarang tanggung jawab tetap dilalaikan.
Beberapa ungkapan dihimpun tim FWL Seperti yang dibilang dulu amak Man Juheri “kepala dusun kita Kadus Pecatu cuma memperhatikan gaji saja”.
Sering kalau ada acara sang kepala dusun ini disindir, walaupun keritikan masyarakat tidak digubris bagaimana perkataannya itu dianggab masa bodoh.
Kata Papuk Murham “kalau berhubungan dengan urusan keuangan baru dia semagat inikan perbuatan licik panas, pekerjaan tidak berkah”.
Aen oji pernah bercerita, dulu minta bantuan ke gadus untuk megurus BPJS (surat kesehatan) karenakan ibunya sakit, terus kebetulan ketemu dengan Pak Kadus malamnya kemudian paginya kerumah kepala dusun tersebut, ketemu sama ibunya beralasan ia sakit lalu si Oji ini megatakan kadus anjing kalau megurus surat ini !!!Gampang!!! ungkap dengan nada marah didepan ibunya, karena meghargai sebagai kadus sehigga lewat dia, tuturnya.
Zaman sudah maju, masih ada masyarakat brekele berbudaya seperti ini, yang menjadi pertanyaan apakah ada pelatiahan pelatihan megenai cara memimpin masyarakat setelah naik jadi kepala dusun diprogramkan pemerintah kabupaten Lombok Timur, kalau memang ada kenapa seperti ini ??? terakhir riwayat ini siapa disalahkan, lo kadus atau Mr. gubuk. (habib)
