Bali Bersih, Bersih-Bersih Sawah

suluhnusa.com_Tampak seluruh pulau dipenuhi sampah.

Berlapis-lapis sampah plastik dimana-mana. Akan diperlukan usaha keras untuk memunguti sampah plastic karena sampah ini akan terus berada di bumi sementara orang-orang terus membuangnya sembarangan.

Inilah alas an Komunitas Bali Bersih mengadakan kegiatan bali bersih Epiosde I dengan kampanye ‘reduce reuse recycle’, pada hari Minggu, 25 Mei 2014.

Komunitas Bali Bersih menyelenggarakan #BaliCleanup Episode 1. Agenda yang diusung adalah Rice Field Cleanup atau bersih-bersih sawah di daerah Pengubengan, Kerobokan Kelod, Bali dan juga Kelas Sampah.

Kegiatan bersih sawah mengambil lokasi di sawah Pengubengan, Kerobokan Kelod karena banyaknya sampah terdapat di pinggir sawah, jalan, dan tikungan saluran air yang menumpuk. Ironisnya meski belakangan terlihat sebuah spanduk berukuran cukup besar yang bertuliskan “Dilarang Buang Sampah” di area sekitar sawah, di bawah spanduk masih terdapat tumpukan sampah baru.

Kurang lebih 80 sukarelawan bergabung dalam kegiatan bersih sawah dan sekitarnya. Aksi dimulai oleh warga sekitar pada jam 7 pagi, turut serta dalam kegiatan adalah Lurah Kerobokan Kelod, Made Wistawan beserta para staff dan beberapa petani setempat.

Menyusul pada jam 8, sukarelawan dari komunitas lokal juga tak mau ketinggalan; Blues Troops Bali, Komunitas Mbambung Adventure (Kombad), Bali Mendidik, Rotaract Club of Denpasar, United Indonesia Bali, Foundation Soul Surf Project Bali serta para mahasiswa/i Stenden University Bali.

Bersih sawah dimulai dari titik temu di Warung Taulan, Banjar Semer ke arah barat dan selatan selama kurang lebih 1,5 jam. Berbagai sampah plastik seperti botol minuman, bungkus makanan, sedotan, kantong plastik, dan lain sebagainya menjadi target pembersihan oleh para sukarelawan.

“Tampak seperti seluruh pulau dipenuhi sampah, berlapis-lapis sampah plastik dimana-mana. Akan diperlukan usaha keras untuk memunguti semuanya (sampah plastik-red) karena sampah ini akan terus berada di bumi sementara orang-orang terus membuangnya sembarangan,” ujar Imants Cielens, salah satu sukarelawan.

Ternyata benar adanya, sampah-sampah plastik memang tertanam dalam tanah. Beberapa sukarelawan bahkan harus sedikit menggali baru bisa mengambil sampah tersebut.

Saluran air di pinggir sawah pun tak luput dari aksi pembersihan. Saluran air yang terlihat bersih di permukaan ternyata ketika digali, dari dalamnya muncul sampah-sampah plastik.

“Yang harus diubah memang terutama harus dari diri kita sendiri lebih dulu, untuk tidak membuang sampah sembarangan. Jika secara pribadi sudah peduli, kita bisa menularkan ke orang lain di sekitar kita, keluarga, dan teman, sehingga akan makin banyak yang peduli terhadap kebersihan lingkungan kita,” ujar Erni dan Ayu, sukarelawan aksi dari Kombad.

Meski cuaca panas terik, para sukarelawan tetap bersemangat dalam menjalankan aksi. Kurang lebih total 50 kantong sampah berhasil dikumpulkan. Sampah – sampah non-organik yang terkumpul tersebut akan didaur-ulang oleh Eco Bali Recycling.

Masuk dalam rangkaian kegiatan adalah “Kelas Sampah” yaitu sharing informasi dan diskusi mengenai masalah dan upaya penanggulangan sampah dengan narasumber Ketut Mertaadi dari Eco Bali Recycling.

“Kita harus mengubah pola pikir kita. Bumi bukanlah sebuah tempat sampah yang besar. Jika bukan kita yang peduli, siapa lagi?” tegas Ketut Mertaadi.

Masalah sampah memang kompleks. Karenanya, kita harus mulai dengan kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi produksi sampah, terutama plastik karena tidak bisa terurai oleh alam.

Selain itu, fasilitas seperti tong sampah dan pengangkutan sampah juga menjadi bagian dari upaya penanggulangan sampah yang tidak kalah penting, demikian disampaikan Mertaadi. Inilah salah satu alasan Komunitas Bali Bersih tidak henti-hentinya untuk terus menggaungkan semangat Reduce, Reuse, Recycle. Kurangi, gunakan kembali, dan daur-ulang sampah.

Selain cleanup dan “Kelas Sampah”, para sukarelawan juga menonton bersama kompilasi video mengenai sampah plastik dan dampak buruknya terhadap lingkungan Indonesia juga negara-negara lain.

“Orang-orang harus tahu dampak buruk sampah plastik ini dalam jangka panjang, ini merupakan pengetahuan yang sangat penting,” ucap Marieke, sukarelawan dari Stenden University Bali.

“Melalui acara ini kami sebagai komunitas berharap semakin banyak masyarakat yang ingin lebih tau tentang sampah plastik dan bahayanya sehingga bisa mengurangi penggunaan plastik sekali pakainya,” ujar Dani Aristya, Ketua Komunitas Bali Bersih.

Kegiatan #BaliCleanup kali ini didukung oleh Logod Design, Bali Treetop Adventure Park, EcoBali Recycling, Stenden University Bali dan Star Invasion dan merupakan acara ketiga yang diadakan oleh Komunitas Bali Bersih. Kedua kegiatan komunitas sebelumnya adalah Denpasar City Cleanup dan Kuta Beach Cleanup, masing-masing pada 12 Januari dan 9 Februari 2014 lalu.

Dan kegitan ini menurut Ketua Komunitas Bali Bersi, Dani Aristya akan tetp di gelar sebab mrekamereka sesungguhnya DNA-nya Generasi Anti Sampah. (sadrsandrowangak/*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *