suluhnusa.com_Walau pun sebagian sesamanya telah dibunuh dengan cara digantung atau dibunuh dengan cara yang sangat keji, tentunya bukan alasan untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak di negara lain.
Sebagai buktinya, terdapat sebagian masyarakat yang berada di garis perbatasan RI- RDTL yakni Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka, terpaksa harus nekad merantau ke Malaysia.
Tujuan merantau adalah ke negara tetangga adalah untuk mencari pekerjaan yang lebih layak dengan upah yang manusiawi.
Dimana, di Indonesia sendiri belum menjamin kehidupan masyarakatnya dengan memberikan upah yang layak. Sehingga dari itu, membuat banyak kaum laki dan perempuan, baik tua maupun muda “terpaksa” mengadu nasib ke negeri jiran, Malaysia untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia/ Tenaga Kerja Wanita (TKI/ TKW).

Walau pun ada yang diberangkat secara illegal atau secara legal, telah menunjukan bahwa di Timor Barat merupakan “lahan” nya untuk merekrut TKI/ TKW. Soal mau diapaan setelah di negara tujuan, itu merupakan hal terbelakang.
Melihat kondisi yang semakin miris itu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) TIFA bekerjasama dengan Panitia Pengembangan Sosial Ekonomi (PPSE) Keuskupan Atambua mengadakan training/ pelatihan bagi para pendamping TKI/ TKW di Kabupaten Malaka, Belu, TTU, dan Larantuka, Flores mengenai cara-cara untuk bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri. Agar setelah tiba di negara tujuan, tidak menimbulkan masalah sekaligus dapat meringankan beban Pemerintah Daerah dan Pusat.
“Memang harus diakui juga bahwa di Indonesia khususnya di NTT, ketersediaan akan lapangan pekerjaan masih jauh dari harapan. Dan juga upah yang diberikan pun masih di bawah. Sehingga membuat masyarakat kecil dan miskin serta berada di garis kemiskinan, harus pergi merantau ke luar negeri. Kebanyakan dari mereka adalah bekerja ke Malaysia. Sedangkan ke Hongkong, Singapura, Filipina, Jepang dan China masih sangat minim. Kenapa minim peminat ke sana? Karena mengalami kekurangan yakni tidak mampu berbahasa Inggris. Sedangkan di Malaysia, masih merupakan negara tetangga yang menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu masih hampir sama dengan bahasa Indonesia, sehingga agak memudahkan pekerja Idonesia untuk beramai-ramai ke sana,” demikian dikatakan Johanes Bria, Project Offier LSM TIFA wilayah NTT, belum lama ini di Malaka.
Hal menarik lainnya adalah terdapat juga anak muda yang seharusnya masih berada di bangku pendidikan, terpaksa pun nekad merantau ke Malaysia untuk membantu perekonomian orangtuanya. Mana bisa bangsa Indonesia mau sejahtera, jika sebagian warganya menjadi “budak” di negara orang? Inikah yang disebut Peri- Kemanusiaan Indonesia? Sebenarnya apa yang mendorong mereka, sehingga mereka berlomba-lomba untuk menjadi tenaga kerja di luar negeri? (felixianus ali)
