Negeri Terluka
Bahkan sejak kanak kanak pun
kita kena dusta!
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku…
Tanah tumpah darahku! Tanah di mana darahku
tumpah oleh sangkur senjata tentara
oleh pistol polisi!
Bagaimana mungkin tanah di mana darahku
ditumpahkan oleh kekuasaan
masih harus kusebut tanah airku!
Dan para pelawak ramai ramai
ikut menyanyikan dusta itu
untuk menutupi bau busuk dari luka luka kita:
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…
Mari Kita Iringi Nyanyi Mereka Itu dengan Koor Ini:
Orang bilang tanah kita tanah surga
Politikus dan ulama benar benar menikmatinya
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tentara polisi kerjasama dengan preman bela pengusaha
Orang bilang tanah kita tanah surga
Buruh dan tani tak lebih berharga dibanding asap pabrik dan pestisida
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
karena tak ada lagi hutan dan sawah!
Puisi karya sastrawan nyentrik Saut Situmorang ini dibacakan oleh penyair Flores Timur, Martin Kabellen dan Melkior Cimeng.

Ciamik mereka melantunkan musik sambil berpuisi di serambi Sepatu Q Sore itu, Sabtu, pekan terakhir bulan Januari 2023.
Lalu lalang orang di jalanan tak menyurutkan niat mereka melagukan kritik persis di jantung kota Larantuka. Pilihan pasang mata menyaksikan mereka dengan rupa rupa rasa.
Pada bait, Orang bilang tanah kita tanah surga // Politikus dan ulama benar benar menikmatinya, menjadi bagian penting dalam penekanan lafal lagu puisi itu. Mereka menyodorkan sebuah fakta sosial lewat lagu puisi Saut Situmorang.
Suasana semakin temaram. Orang orang yang lewat meynedengkan telinga. Dan puluhan mata terpana. Ada tepukan meriah lalu lunglai apalah artinya negara jika // Tentara polisi kerjasama dengan preman bela pengusaha//.
Martin dan Melkior memang sedang gelisah. Bagi mereka kesenian adalah keindahan, namun kesenian tak melulu harus manis manis saja.

Sesekali Seni mesti keluar dari zona nyaman menyampaikan kegelisahan atas apa yang terjadi di sekitar. Begitulah tajuk #NgopiPuisi 12, tasbih hidup Seniman kawakan Zaeni Boli.
Boli, tentu juga gelisah seperti Marthin dan Melkior. Mereka sadar akan kalimat Ws Rendra dalam penggalan sajak sebatang lisong “apalah arti kesenian bila ia terlepas dari derita lingkungan”.
Alasan mutlak Boli memilih lokasi #NgopiPuisi 12 di Serambi Sepat Q, sebab usaha yang digawangi Monsa Itu berdiri di atas tanah sengketa. Boli bersama kawan kawan menciptakan suasana #NgopiPuisi 12 di Serambi Sepat Q sebagai dukungan moril karena lapak usaha Sepat Q bersama beberapa usaha kecil lainnya diusir oleh polisi yang menamakan diri pamong praja.
“Kami berpuisi di atas tanah sengketa dalam agenda Ngopi Puisi yang ke 12,” begitu Boli berujar serirama kalimat Saut Situmorang // Tentara polisi kerjasama dengan preman bela pengusaha/.
Berkesenian harus mampu mempertanyakan keadilan yang sering dirampas. Sangat pilihan Puisi karya Saut Situmorang berjudul Negeri Yang Terluka, adalah cara Martin Kabellen dan Melkior Cimeng mempertanyakan dan menyuarakan kisah ketidakadilan yang dialami oleh Sepat Q yang juga anggota Komunitas UMKM, PoDKop Arisan Ilmu itu.
“Situasi sosial lainnya yang kami dengan teks teks yang menggigit begitulah seniman berpihak pada ketidakadilan yang dirasakan bukan kebetulan bahwa hari ini sebagai sesama manusia kita turut prihatin atas apa yang menimpa saudara saudara kita yang telah bekerja lama tapi karena keadaan yang tak berpihak mereka sekitar 2.000 manusia di Flores Timur terpaksa harus di rumahkan,” ungkit Boli.
Situasi yang getir. Suasana yang menyesakkan. 2000 orang dirumahkan oleh pemerintah. Dan#NgopiPuisi 12 selain memberi kritik juga mengajak 2000 yang ‘bernasi tumpah’ oleh Pemerintah itu mesti bangkit seperti owner Sepat Q, yang bangkit walau berulang kali runtuh oleh kemauan alam dan ulah Polisi yang berlabel Pamong Praja itu.
Punggawa Bengkel Seni Milenial, Boli, ingin agar Sepat Q menjadi tempat berkumpul anak anak muda yang resah pada keadaan kota yang tak berpihak pada orang orang kecil. Turut hadir dan mengisi acara dalam gelaran Ngopi Puisi anak anak SMPN Satap Nobo, Jhon Da Silva dari Nara Teater.
Boli, Marthin, Melkior, Johanes mengajak untuk berjuang tanpa kata berhenti sebab Ws Rendra selalu berkata ” Hidup adalah pelaksanaan kata kata”. +++vera.korohama/sandrobalawangak









