Caleg Perempuan Gagal dan Budaya pun Menjadi ‘Kambing Hitam’

suluhnusa.com_ Sebanyak seratus tiga puluh Sembilan (139) calon legislatif perempuan yang tersebar di setiap daerah  Pemilihan di Kabupaten Flores Timur, tak satupun yang  berhasil mendapatkan kursi.

Lalu Budaya pun menjadi tumpahan kekesalan. Naifnya, budaya menjadi kambing hitam atas kegagalan ini.

Hasil rekapitulasi dan penetapan hasil perhitungan perolehan suara Partai Politik dan Calon Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten Tingkat Kabupaten Flores Timur yang  berlangsung sejak minggu 20 hingga berakhir Rabu 23 april 2014, menunjukan sebuah hasil yang mengejutkan.

Sebayak seratus tiga puluh Sembilan (139) calon legislatif perempuan yang tersebar di setiap daerah  Pemilihan di Kabupaten Flores Timur, tak satupun yang  berhasil mendapatkan kursi.

Dari  Quota tiga puluh kursi (30) DPRD Kabupaten Flores Timur semuanya diraih oleh Laki laki. Tak satupun caleg perempuan yang mampu mengumpulkan suara untuk mendapatkan kursi di DPRD Flores Timur.

Semuanya gagal. Data yang dihimpun  suluhnusa.com hasil rekapitulasi dan penetapan. Hasil Perhitungan Perolehan suara, dari  setiap dapil (baca: dapil I-

V) kurang lebih sekitar dua (2)  hingga (3) caleg perempuan yang hanya mampu mendapatkan suara di bawah sepuluh (10). Sebagai contoh di dapil empat (4) meliputi kecamatan Witihama, Klubagolit, Adonara, Adonara Timur dan Ile Boleng dua  caleg perempuan dari Partai Amanat Nasional (PAN) Valentina Uto Doni, 2 suara, Dahlia Yusuf mendapat 4 suara.

Di dapil lima meliputi Kecamatan Solor Barat, Solor Timur dan Solor Selatan, caleg perempuan dari partai PBB Nunung Shipa hanya meraih 1 suara, dan Siti Ernawati Watampo 2 suara.

Kondisi ini menurut Ernestha Uba Wohon, SH, M.Hum Mantan Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kupang, Dosen di Jurusan Hukum  Unwira Kupang, adalah sebagai bukti kegagalan perjuangan.

“Saya liat separuh dari caleg perempuan ini, muncul jelang pileg dan didaftarkan menjadi caleg hanya untuk memenuhi Quota 30 Persen untuk setiap partai peserta pemilu,” ungkap Ernest

Alhasil, mereka hanya menjadi pelengkap dan tidak memiliki pemahaman serta strategi politik yang baik untuk bisa memenangkan hati masyarakat. Pada Konteks ini terlihat jelas bahwa partai politik gagal membina perempuannya dan ini adalah dosa terbesar dari partai politik. Lanjut Ernes, Partai politik, harusnya menjadi wadah untuk mempersiapkan kader menjadi petarung dan pejuang.

Saya kira, modal terbesar perempuan untuk bisa memenangkan kompetisi dalam pileg itu adalah kecerdasan dan kecerdikan internal. Kecerdasan ini akan menyumbang pikiran berlian yang bermanfaat untuk perbaikan kehidupan masyarakat, termasuk bagaimana ia bisa menawarkan ide cerdasnya yang bisa mengugah masyarakatnya untuk memilih. Sementara kecerdikan, menurut Ernes adalah berkaitan dengan bagaimana mengelolah peluang.

Bagaimana ia bisa blusukan di masyarakat dan mengubah cara pandang masyarakat tentang perempuan yang selalu dilihat sebagai warga “kelas dua”.

Pada akhirnya, atas kegagalan perempuan dalam pileg di Flotim, saya boleh mengatakan bahwa hal ini terjadi karena partai gagal mendidik kader perempuannya, disamping perempuan sendiri belum bias mengelolah kecerdasan dan kecerdikannya untuk mengajak masyarakat bekerja sama mengusungnya menjadi wakil rakyat, ungkap Ernes.

Sementara itu Veronika Lamahoda aktivis perempuan Flores Timur juga penggiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dihubungi  suluhnusa.com terkait kondisi yang sama mengatakan bahwa kegagalan Caleg Perempuan untuk mendapatkan kursi diakibatkan oleh dua hal yang mendasar

Yang pertama berhubungan dengan penganutan budaya Patrilinear , dimana cara pandang masyarakat terhadap perempuan sebagai kaum yang tidak selevel atau sekelas dengan laki laki. Di Masyarakat, caleg perempuan belum mendapat kepercayaan yang penuh seperti seorang caleg laki laki.

Budaya kita belum mendukung. Yang kedua menurut Veronika, kegagalan Caleg perempuan  juga diakibatkan oleh  partai yang tidak sunguh sunguh mempersiapkan kader Perempuan, tetapi hanya merekrut perempuan sebagai formalitas pemenuhan regulasi tentang syarat keterlibatan Partai politik dalam pemilu.

Menjelang Pileg Partai politik pontang panting harus ke lapangan mencari caleg yang bisa diusung oleh partainya. Partai sendiri tidak memiliki bank kader yang bisa diandalkan untuk berkompetisi.

Partai hanya berusaha untuk memenuhi syarat secara administratif. Partai tidak sedang sunguh sunguh dalam mempersiapkan caleg berkompetisi dalam pemilu Legislatif.

Ditanya terkait bagaimana perjuangan aspirasi kelompok atau komunitas perempuan di masyarakat manakalah tidak adanya keterwakilan perempuan di DPRD, Menurut Vero bahwa  Dewan bekerja secara kolektif, artinya bahwa segala kebijakan yang diambil tentunya berdampak umum untuk seluruh masyarakat.

Ia berharap walau nantinya tidak ada perwakilan perempuan di Dewan bukan berarti kelompok perempuan tidak  diperhatikan tetapi semoga saja bisa dipikirkan yang terbaik dalam kaitan dengan pembahasan dan penetapan anggaran  yang harus juga responsif terhadap kebutuhan perempuan.

Salah satu Caleg Perempuan dari Partai Golkar dapil satu Maria K. Tukan yang dihubungi mengaku bahwa kegagalannya  bersama teman teman lain sesama caleg perempuan yang paling pertama menurutnya adalah factor budaya.

Budaya kita, laki laki harus di depan, sementara yang perempuan harus berada di belakang. Cara Padang masyarakat seperti ini yang sudah turun temurun membuat kami (Caleg perempuan) sangat kesilitan saat sosialisasi diri di masyarakat.

“Saya sendiri menyadari bahwa saat kita berada di lapangan, berhadapan dengan caleg laki laki, kita satu mereka bisa kelipatan lebih dari dua atau tiga kali dalam hubungan dengan penerimaan masyarakat,” katanya.

Ivon sapaan ibu Maria yang juga sebagai Anggota Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Flores Timur menyatakan tidak menyesal sedikitpun dengan kegagalan mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.  Bagi saya untuk memperjuangkan nasip rakyat tidak mutlak harus menjadi anggota DPRD.

“Di dapil saya, saya meraih 258 suara urutan terbesar kedua dalam partai setelah caleg pemenang. Bagi saya kegagalan saya kali ini lumrah, karena memang baru kali ini, saya terjun ikut dalam pemilu legislatif. Semoga pengalaman ini bisa memotivasi saya untuk lebih baik lagi dalam mempersiapkan diri, sehingga kelak nanti, saya bias dengan percaya diri berkompetisi dan bisa meraih kemenangan,” ungkapnya. (maksimus masan kian)

Data dan Nama-nama Anggota DPRD Flotim 2014/2019 (sumber: Hasil Rekapitulasi KPUD Flotim/olahan.suluhnusa.com)
Data dan Nama-nama Anggota DPRD Flotim 2014/2019 (sumber: Hasil Rekapitulasi KPUD Flotim/olahan.suluhnusa.com)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *