I Nyoman Laka: Gagal Jadi Dewan, Saya Pulang ke Desa

suluhnusa.com_ Peta pertarungan Pemilu Legislatif (Pileg) untuk ke DPRD Bali cukup mengejutkan. Pasalnya banyak calon legislative (caleg) yang notabene muka lama harus tersingkir dan digantikan dengan caleg pendatang baru.

Namun ada juga caleg yang lolos namun masih merasa waswas, misalnya caleg incumbent partai Golkar Ida Bagus Gede Udiana. Diam-diam Udiana yang berasal dari Denpasar Selatan ini mengantongi perolehan suara sebanyak 12.530 belum jika dijumlah dengan sisa suara di Golkar yang mencapai 23.847.

Meski demikian dirinya masih merasa waswas dengan hasil yang dia dapatkan, baginya lebih baik menunggu ketok palu dari KPUD provinsi dulu barulah dia bisa bernafas lega.

“Ada margin error  dari 12.530 itu, terus terang saya tidak tau lawan saya jumlahnya berapa dan buat saya lebih percayakan penuh ke lembaga negara yang mengumumkan. Dari awal saya percayakan penuh jujur saya tidak kawal suara saya kalaupun ada volunteer mereka yang inisiatif sendiri membantu saya,” ungkapnya, Senin (21/4) di Gedung DPRD Bali.

Intinya saya  belum bisa bernafas lega, imbuhnya baginya sifat jangan terlalu over confident menjadi kekuatan Udiana menghadapi persaingan di internal partainya. “Semuanya nothing as posible pasti, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi.

Memasuki periode kedua bagi Udiana menjadi Dewan adalah sebuah investasi sosial. Dia pun menyayangkan lemahnya rekruitmen caleg yang dilakukan internal partainya sendiri. Menurutnya partai Golkar lemah disaat menentukan caleg yang akan maju ke DPRD baik dari DPRD Kota/kabupaten hingga ke DPR RI.

“Partai ini menurut saya dimana-mana sama dia tidak melihat trek record si caleg selain itu kondisi Pileg sekarang lebih kepada politik transaksional,” beber dia.

Sehingga di internal partainya sendiri, Udiana mengatakan jika ada istilah like or dislike yang sangat mempengaruhi outcome si caleg itu sendiri.

Lain caleg anggota DPRD Bali yang tak lolos adalah  I Nyoman Laka. I Nyoman Laka merupakan caleg PDI-Perjuangan Dapil Badung. Mengantongi suara lebih dari 15 ribu suara tidak menjamin dirinya bisa melenggang dengan tenang ke DPRD Bali.

Bersaing ketat dengan Disel Astawa  dan Ketut Tama Tenaya yang merupakan teman sesama partai baginya merupakan seni tersendiri. Diapun kini sudah pasrah dan ikhlas menerima hasil yang dia peroleh.

“Saya tidak lolos dan kembali ke habitat awal saya kembali ke desa menjadi petani  ini saya coba maju untuk yang ketiga kalinya namun ternyata saya gagal karena bersaing dengan Disel Astawa dan Tama Tenaya, ya harus bersyukur karena saya memang dibesarkan oleh partai,” ucap anggota Komisi IV ini.

Dirinya cukup puas dan percaya dengan kinerja dari KPU dan Panwaslu, “kekalahan kita dari perolehan suara saja ini kan dihadapkan dengan kompetitor satu partai jadi bersainglah, partai juga begitu bersaing dengan dengan partai lain,” pungkas dia.

Politisi asal Banjar Tegal Narungan desa Sobangan kecamatan Mengwi ini pun memastikan akan kembali ke pekerjaannya semula sebelum menjadi anggota dewan yakni kembali jadi petani yang mengerjakan sawah dan beternak, kedepannya dirinya jika dihadapkan dengan faktor situasional dan keinginan Partai diapun akan kembali maju lagi jika Tuhan mengijinkan.

Caleg Yang Gagal Harus Sadar Diri

Uforia pasca Pleno di kabupaten/kota merilis nasib sang caleg yang mengadu nasib maju sebagai legislator. Bagi yang berhasil dirinya tentu akan bersyukur kepada Tuhan atas kesuksesannya bisa lolos di Pileg kali ini.

Namun lain halnya dengan caleg yang gagal, umumnya menurut Psikolog RS Siloam Caecilia Nirlak Sita, mengatakan jika mereka tidak bisa menerima kegagalan yang dia dapatkan. Biasanya mereka tidak bisa menerima kegagalan dari kekalahan tarung bebas dengan pesaingnya yaitu sesama teman di internal partainya, imbuh dia. Media terkadang dijadikan alat untuk mengutarakan kegagalannya di Pileg.

“Ada dua kemungkinan sebenarnya antara  gagal dan berhasil,” jelasnya belum lama ini.

Menurutnya si caleg harus sadar kalau dia juga bisa sukses atau dia bisa gagal, “kalau sukses biasanya diperlihatkan kepada khalayak umum kalau gagal biasanya tidak, nah kalau gagal dia harus menyadari kegagalan itu,” katanya.

Ketua Asosiasi Psikologi Forensik (APSIFOR) Bali ini lebih jauh menggambarkan seperti sifat manusia dimana semuanya saling timbal balik. Menurutnya masyarakat khususnya di Indonesia tidak bisa menghargai sebuah kegagalan. Padahal dari kegagalan ini bisa menjadi cambuk untuk kedepannya agar menjadi lebih baik lagi.

“Ada dua tipe baik buruk, bagus jelek, tinggal pilih saja sekarang mau gagal atau mau sukses,” tegasnya.

Sementara itu, dikonfirmasi kepada Kepala Dinas Kesehatan Bali Ketut Suarjaya, perihal caleg yang gagal ini menurut Suarjaya hingga saat ini tidak ada caleg yang gagal lantas mengakibatkan stress sampai gila. “Belum ada caleg yang gagal terus stress karena kalah di Pileg, kami belum punya data untuk itu,” jelasnya via Ponsel ketika dihubungi suluhnusa.com, 22 April 2014. (kresia)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *