Suluh Nusa, Jogjakarta
Bencana alam telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam ini telah banyak menelan korban manusia dan harta benda. Meskipun pemerintah telah banyak berupaya mengurangi risiko dampak yang ditimbulkan, tetapi upaya tersebut belum terlihat maksimal dan komprehensif.
“Seringkali bencana alam terjadi, tidak berbanding lurus dengan upaya maksimal penanggulangan bencana oleh pemerintah yang telah menyusun kerangka penanggulangan dampak bencana dan kemungkinan-kemungkinan mempersiapkan masyarakat tangguh bencana,” kata Dosen Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo, Idaman, S.Ag., M.A., dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Filsafat UGM tahun 2018 silam
Ia mengatakan masyarakat Indonesia telah terbiasa berhadapan dengan bencana alam dan pada gilirannya memberikan pengalaman dan pengetahuan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut. Penelitiannya yang melakukan kajian filsuf kenamaan dari Jerman, Martin Heidegger, tentang sikap manusia atas bencana alam, menurut Idaman, sangat relevan pemikiran Martin Heidegger bagi penanganan bencana di Indonesia.
“Dapat dilihat dari tawarannya perihal kesadaran diri mengenai diri dan realitas bencana. Melalui kesadaran diri, manusia pada akhirnya akan memahami keberadaannya di dunia ini,” katanya.
Berdasarkan pendapat Martin Heidegger bencana mampu menggerakkan solidaritas masyarakat secara masif dan spontan dengan kesadaran sendiri, mampu menggugah kesadaran sosial dan nilai-niali dasar kemanusiaan secara universial.
“Bencana dapat membangkitkan semangat kreatifitas masyarakat sehingga sangat mungkin memupuk kebersamaan antar pihak walau sesaat,” ungkapnya.
Ia menambahkan dalam perspektif pemikiran Martin Heidegger, kesadaran diri korban bencana bukan sesuatu yang begitu saja dapat dipahami oleh orang lain, tetapi diperlukan waktu melalui penantian untuk menjabarkan kesadaran diri tersebut.
“Oleh karena itu, diperlukan komunikasi, empati, dan relasi yang intens dengan calon korban dan korban bencana,” paparnya.
Menurutnya, kearifan lokal masyarakat dalam hal mitigasi bencana tingkat lokal akan bersinergi dengan gagasan Hermeneutika Martin Heidegger dalam efektifitas penanganan bencana alam di Indonesia.
“Kearifan lokal dan hermeneutika Martin Heidegger merupakan dua sumbangan penting bagi pemerintah di dalam menangani bencana alam,” pungkasnya.
Bencana alam merupakan peristiwa alamiah dan non-alamiah. Sebagai peristiwa alamiah, maka bencana alam merupakan peristiwa yang pasti terjadi, atau tidak dapat diprediksi oleh manusia.
Bencana alam yang seringkali terjadi dalam kehidupan umat manusia, antara lain, adalah gempa bumi, gunung meletus, banjir bandang, dan sebagainya.
Sementara bencana non-alamiah biasanya lebih sebagai akibat dari perbuatan manusia itu sendiri (man-made disaster). Bencana alam merupakan peristiwa yang sulit dihindari dan dihentikan.
Hal terpenting dilakukan oleh umat manusia adalah meminimalisir akibat yang ditimbulkan oleh bencana alam. Sejalan dengan ini, masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat lokal, telah memiliki perangkat yang cukup memadai di dalam meminimalisasi dampak yang ditimbulkan bencana alam. Hal ini didasarkan kepada pengetahuan dan pengalaman berhadap-hadapan dengan bencana alam.
Di dalam konteks ini, manusia yang biasa tinggal di area bencana alam telah memiliki kemampuan memprediksi peristiwaperistiwa di lingkungan mereka, seperti pergerakan dan karakter binatang dan sebagainya.
Pengalaman yang panjang berhadapan dengan bencana alam memberi pengetahuan mendasar perihal bencana yang akan terjadi. Di berbagai masyarakat lokal di Indonesia, struktur pengetahuan mengenai bencana alam didasarkan kepada kebiasaan yangberkembang atau pengetahuan lokal (local knowledge) yang diwariskan secara turun temurun. Pada sisi ini, dapat dimaklumi, bahwa terdapat relasi yang cukup kuat antara manusia dan bencana alam.
Bencana alam tidak semata dipandang sebagai peristiwa atau fenomena yang berdampak destruktif, tetapi bencana alam dipandang sebagai berkah. Alam sedang menuju kesempurnaan. Melalui cara pandang ini, alam sedang merekonstruksi dirinya melalui peristiwa bencana alam tersebut. Oleh karena itu, berbagai ritual diadakan oleh manusia untuk kembali mempertegas relasi harmonis mereka dengan alam semesta.
Hermeneutika Martin Heidegger telah memetakan jalan untuk memahami relasi manusia dan bencana. Melalui tiga istilah yang diperkenalkannya, yakni, being-in-the-world, being-with-others, dan being-towards-death, maka manusia, idealnya, tidak lagi berhadap-hadapan penuh ketegangan dengan bencana yang terjadi. Ketiga istilah ini merupakan kesadaran diri Dasein didalam menghadapi realitas dunia sebagai konsekuensi keterlemparan ke dalam dunia. Dua hal yang pertama mengindikasikan proses mengada manusia dan kesadaran mengenai keterhubungannya dengan manusia lain, atau ada-adaan lainnya. Keterhubungan ini kemudian berimplikasi kepada munculnya kesadaran mengenai kepedulian.
Di dalam realitas kebencanaan, manusia sesungguhnya menyadari keterikatannya oleh rasa solidaritas bersama, yang kemudian menggiring untuk saling peduli antar-sesama. Sedangkan yang terakhir mengindikasikan kesadaran manusia untuk lebih menghargai hidupnya, lebih kreatif menata diri, khususnya lebih kreatif mengelola bencana yang menimpanya.
Cara pandang Heidegger ini akan membuat ‘manusia bencana’ lebih mandiri atau tidak lagi tergantung sepenuhnya kepada orang di luar lingkungan mereka. Selain itu, melalui hermeneutika Martin Heidegger, manusia akan memandang dan menyikapi setiap bencana alam yang terjadi secara positif dan memberi keuntungan ganda bagi kehidupan mereka. ***
Gusti Grehenson
