Nafas Tanpa Syair

Coretan dinding itu masih jelas terbaca

Membingkai ungkapan rasamu

Tentang datang dan perginya purnama seiring redup mentari senja

Waktu itu tawa lepas kita menggaung seakan mencabik pengap malam berbisa

Suasana hening, bisu,

Meretas perkara jiwa ,yang tinggal sedetik lagi menunggu saat penghakiman

Diantara kita tidak ada perbedaan dan masalah

Bersama merakit waktu menunggu senja, labuhkan lelah, tanpa harus beradu kata

Titip keraguan di remang merahnya cakrawala

Seakan kita tak pernah bersama menitih kemelut panjang

Sudah sekian musim menyiksa rasa

Perjalanan panjang di bibir pantai, tersendat di onggokan pasir,terkilir di deraian ombak

Menepis sejuknya angin pantai hingga lelah memapah di batas tanah itu

Kudaki lalu kupahat batu itu jadi sebuah ukiran tanpa gambar

Ku tertawa sendiri seiring derai gugur dedaunan, melayang, terbang, menjauh, menembus batas langit

Aku menatapnya lelah tak berkedip hingga sesak mendesak

Lepaskan Dia Tuk Pergi Jauh

Kerinduan membungkam

Nafas mengalun tanpa syair

Langkah semakin lelah

Perasaan melayang setinggi awing

Adakah doamu tercurah di sana ?

Melepasmu pergi dengan sejuta rindu

Seakan hilang semua yang kupunya selama ini

Tapi di balik kabutnya rasa

Ada harap yang menjulang, terbit kembali bersama fajar

Hilangmu sudah memberi aku isyarat untuk herus bertahan hidup

Berkacalah setiap ada kerinduan

Jangan biarkan malammu terlalu lama sibak mimpi tuk segera bangun bersama pagimu

Titip salamku

Bersama doamu dalam doaku

 

Honihama, Adonara, Maret 2021

Imelda Lambertini Curman

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *