Mengintip Boru dari Rumah Kalwat

suluhnusa.com_Boru sebuah tempat diujung barat Kabupaten Flores Timur tepatnya di kecamatan wulanggitang terkenal dengan penghasil buah buahannya.

Sebagai daerah yang beriklim dingin, tempat ini menjadi daerah yang subur dan bisa ditanami buah apa saja pada setiap tahunnya.

Buah buahan yang bisa kita jumpai dari hasil panen warga boru diantaranya Rambutan, Alvokad, salak, durian, anggur, pisang, pepaya, mangga, dan lain lain.

Hasil buah buahan ini selain dipanen dikebun yang khusus ditanami tanaman buah buahan yang ada, masyarakatpun hampir disetiap rumah memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam tanaman penghasil buah.

Karena akses yang sedikit jauh menuju ke kota Larantuka atau ke kota Maumere untuk menjual hasil panen buah buahannya, masyarakat Boru sering memanfaat tempat tempat dipinggir jalan untuk menjajakan buah buahan dari hasil tanamannya, karena wilayah Boru merupakan wilayah yang dilewati oleh setiap orang yang akan beperregian ke Flores Bagian Barat, atau sebaliknya.

Salah satu tempat dipinggir jalan tepatnya dipertigaan menuju vila sesabanu Hokeng yang dikenal dengan rumah kalwat, merupakan satu tempat masyarakat menjajakan buah bauhan untuk siapa saja yang melewati jalur ini.

Saat suluhnusa.com melewati dan singgah di tempt itu, terlihat warga yang menjual buah rambutan, Alvokad, Salak, Durian, Pisang, dan juga Pepaya.

Ines Kwuta salah satu Penjual yang berasal dari desa Wolorona mengaku sudah hampir setahun ia berjual di tempat itu. Jualan saya seperti yang terlihat terdiri dari Alvokad, rambutan, pepaya dan juga pisang.

“Saya aslinya dari Watobuku, tetapi tinggal di Wolorona. Kami berjualan dari pagi hingga jam enam sore. Kalau sudah malam kami tidak jaulan terang ines. Beberapa Penjual lain yang kami wawancarai mengaku menjual buah untuk memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga. Diantara kami, ada yang menjual tangan ke dua atau dengan membeli buah milik orang lain baru dijual kembali,” ungkap Kwuta

Harga jaualan mereka bervariasi mulai dari Rp.5.000 (Lima Ribu Rupiah), hinggga Rp.20.000 (Dua Puluh Ribu Rupiah) per bagiannya. Misalnya rambutan satu bagian yang terdiri dari kurang lebih 20 buah dijual dengan Rp.10.000, Alvokad satu bagian yang terdiri dari 4 (empat) buah dijual dengan Rp. 10.000.

Sementara Buah yang paling mahal adalah buah durian, dimana satu buah terjual dengan harga Rp. 70.000 (Tujuh Puluh Ribu Rupiah).

Hampir semua penjual yang berjual di tempat ini mengaku dalam satu hari keuntungan mereka lumayan. Karena tempat jualan mereka berada dijalur strategis yakni di jalur jalan Larantuka-Maumere sehingga penumpang yang ingin membawa ole-ole untuk keluarga sering membeli buah buahan ditempat ini.

Kesulitan mereka adalah tempat jaualan yang belum layak, sebab hanya sebagian tempat saja yang dibangun sebagai tempat jualan sementara yang lain masih harus mejajakan buah buahan diluar dari bangunan tersebut, sehingga saat hujan mereka sangat kewalahan.

Emanuel Boro warga Desa Lewotobi kecamatan Ile Bura yang ditemui dilokasi saat sedang berbelanja buah buahan, mengaku bahwa ia membeli buah buahan untuk ole-ole keluarga.

“Saya membeli beberapa advokat dan juga rambutan,” ungkapnya.  (maksi masan kian)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *