suluhnusa.com – Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur yang dicap bodoh oleh Gubernur NTT, ternyata punya alasan sendiri dalam mengumumkan hasil positip Rapid Test bagi pelaku perjalanan.
Kepada wartawan di Desa Dolulolong, 20 April 2020, usai memantau rumah karantina Meru, Bupati menegaskan dirinya tidak merasa tersinggung apalagi marah dengan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat yang mencap dirinya bodoh.
“Dia teman saya. Saya mengumumkan hasil positip berdasarkan Rapid Test karena saya paham psikologi dan karakter warga Lembata. Saya mau melindungi warga saya. Dan saa tetap mengumumkan kalau masih ditemukan pelaku perjalanan yang positip Rapid Test,” ungkapnya.
Dia pun meminta agar warga Lembata tidak perlu panik sebab dirinya mengumumkan hasil positip Rapid Test agar warga Lembata bisa tetap waspada, menjaga jarak, cuci tangan dan melaksanakan protap kesehatan lainnya.
Dan 21 April 2020 keesokan harinya, bertempat di Kuma Resort usai mengikuti video converence Musrenbang propinsi, bersama semua kepala OPD dan Para Camat, Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur, kembali mengumumkan bahwa berdasarkan hasil rapid test pelaku perjalanan yang saat ini dikarantina di rumah karantina Desa Pada bertambah dua orang positip.
Kedua pelaku perjalanan itu masing masing berasal dari Bau bau dan dari Papua yang msuk ke Lembata melalui jalur tikus di Balauring menyebrangi Kabupaten Alor.
“Sehingga saat ini Lembata sudah tiga orang positip berdasarkan Rapid Test. Dua orang yang positip hari ini, sudah dijemput oleh petugas kesehatan untuk menjalani isolasi di RSUD Lewoleba,” ungkap Bupati.
Walau sudah dicap bodoh, Bupati Lembaya tetap bersikeras mengumumkan pelaku perjalanan yang positip hasil rapid test.
“Saya sudah dibilang bodoh. Dan saya umumkan ini lalu dibilang bodoh lagi juga tidak apa apa. Karena saya yang tau karakter masyarakat Lembata. Psikologi dan karakter masyarakat Lembata berbeda dengan psikologi dan karakter masyarakat Sabu, misalnya,” tegas Sunur.
Data terakhir 22 orang pelaku perjalanan yang dikarantina di rumah karantina Desa Pada dan dua diantaranya dinyatakan positip hasil rapid test, sementara yang lainnya dinyatakan negatif.
Saat ini 20 orang pelaku perjalanan masih dirawat di rumah karantina Desa Pada.
Berdasarkan pantauan suluhnusa.com di rumah karantina Desa Pada, para pelaku perjalanan yang dikarantina setiap pagi menjalani protap kesehatan, sayangnya tidak ada petugas kesehatan yang ditempatkan di rumah karantina selama 24 jam.
Hal ini diakui oleh Kepala Seksi Karantina dan Isolasi Gugus Tugas Penanganan dan Penanghulangan Covid 19 Kabupaten Lembata pun membenarkan soal ketiadaan tenaga medis di rumah karantina.
“Bukan saja tenaga medis yang tidak ada tetapi air juga menjadi salah satu persoalan di rumah karantina. Sampah dan pelayanan makanan juga menjadi keluhan tetapi soal makan pagi kita sudah melakukan koordinasi dan sudah diatasi. Petugas medis setelah saya marah marah tadi pagi baru mereka siapkan tempatnya untuk berjaga di rumah karantina 24 jam dengan sistem shift,” ungkap Apol Mayan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, yang juga juru bicata gugus tugas Covid 19 Lembata, dr. Lucia Chandra dalam kesempatan tersebut, meminta warga Lembata untum tidak panik tetapi tetap waspada. Bahwa hasil rapid test belum bisa memastikan seseorang terkonfirmasi corona, tetapi warga Lembata harus tetap menjaga jarak, mencuci tangan, memakasi masker dan tetap melakukan protap kesehatan sesuai anjuran pemerintah.
Dikonfirmasi terkait ketiadaan tenaga kesehatan di rumah karantina Desa Pada, dr. Lucia membenarkan bahwa petugas kesehatan tidak standby selama 24 jam.
“Benar petugas kesehatan tidak standby 24 jam tetapi tetap melakukan observasi kesehatan. Kalau bukan petugas kesehatan yang observasi, apakah bapa bapa wartawan berani masuk observasi ?. Hari ini dan seterusnya kita sudah punya loket di rumah karantina selama 24 jam,” ungkap dr. Lucia.***
sandro wangak
