suluhnusa.com_Dua pria tegap berdiri saling berhadapan. Satu memegang cambuk, yang lain bersiap menangkisnya. Tangan, kepala, dan kakinya bergerak seirama lagu yang diamainkan.
Didahului dengan seorang pemuda yang tampak bernyanyi menantang pria dari kelompok lawan. Tantangan itu disambut senandung dari kelompok sebelah. Pemuda dari kelompok yang ditantang maju dengan gerakan tarian.
Suara cambuk atau pecut menyalak mengenai tubuh pria di depannya. Luka memerah terlihat pada bagian tubuh yang terkena sabetan cambuk tersebut. Pemuda tadi balas memecut. Tapi, sang lawan pandai berkelit, serangannya membentur tameng.
Saat nyambuk mengenai sasaran, ada yang terluka. Tapin aneh, tidak tampak rasa kesakitan pada wajah lawan meski sabetan pecut begitu keras. Bahan, ada gelak tawa dan sorak-sorai membuncah mengiringi adegan menegangkan tersebut.
Itulah tari Caci. Sebuah tarian perang khas Manggarai di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang melambangkan simbol kepahlawanan dan keperkasaan. Tarian ini memang melibatkan dua orang pria. Yang satu bertindak sebagai penyerang dan pihak lain harus bertahan atau penangkis serangan. Terdapat dua kelompok yang saling berhadapan dengan masing-masing beranggotakan delapan orang.
Dan akhir Desember lalu, bertempat di halaman Korem, Jalan Jenderal Sudirman-Denpasar Bali, warga Manggarai di Bali memainkan tarian caci dihadapan ribuan mata yang menonton.
Dari ribuan mata yang menonton, ada Ketua ASITA-Bali, Ketut Ardhana. Menyaksikan tarian caci itu, Ardhana pun mengapresiasi dengan rencana, menjadikan Tarian Caci sebagai obyek wisata budaya.
Menurut Ardhana, dirinya bersama ASITA Balin akan mempromosikan Tarian Caci ini dalam berbagai kegiatan pariwisata di Bali. Hal ini mengingat Tarian Caci memiliki filosofi budaya yang tinggi. Juga merupakan tarian yang mampu menarik minat wisatawan asing untuk berkunjung ke NTT.
Hal ini disambut baik oleh, Kabid Promosi, Dinas Pariwisata NTT, Bonavantura Rumat. Rumat kepada suluhnusa.com, menjelaskan, tahun 2014 pihaknya akan melakukan kegitatan promosi pariwisata NTTbaik itu menyangkut tarian, obyek wisata dan daerah tujuan wisata yang tersebar di seluruh NTT.
Terkait tarian Caci, Rumat yang juga putra Manggarai ini menjelaskan, budaya Manggarai, Caci merupakan salah satu warisan yang terus dilestarikan sampai saat ini. Caci sebagai sebuah tarian perang yang kerap juga disebut sebagai Permainan Caci. Dalam pranata budaya Manggarai, Caci adalah bagian yang menampilkan sisi heroisme dari lelaki Manggarai.
“Secara sederhana, Caci bisa dideskripsikan sebagai pertarungan antara dua orang pria, satu lawan satu, secara bergantian. Yang seorang menjadi pihak yang memukul dalam bahasa setempat disebut Paki dengan menggunakanLarik atau pecut yang biasanya terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi yang sudah kering; sedangkan pihak lain akan menangkis (dalam bahasa Manggarai disebut Ta’ang) pukulan sang lawan dengan menggunakan Nggiling atau perisai, juga terbuat dari kulit kerbau dengan tambahan Agang (dikenal juga dengan nama Tereng) atau busur yang terbuat dari bambu dan di lilit dengan rotan,” ungkap Rumat.
Caci menurut Rumat, bisa dibahasakan sebagai permainan atau tarian perang yang dilakonkan dua pria jawara dari dua kelompok yakni Ata One (warga kampung) dan Ata Pe’ang (pendatang) yang disebut juga Landang (penantang). Mereka mengenakan pakaian perang berupa celana warna putih bersalut kain adat Songke warna hitam, ukuran selutut yang diikat erat agar tidak lepas saat tanding.
Sementara, di bagian dada dibiarkan telanjang. Kepala jawara ini bertutup Panggal, semacam tanduk kerbau terbuat dari kulit kerbau yang keras dan dilapisi serta dihiasi kain warna-warni. Panggal dipasang di kepala sampai menutup sebagian muka dan dilapisi dengan Sapu (destar) atau handuk.
Saat dua orang sedang bermain, anggota kelompok lain akan memberikan dukungan dengan tari-tarian sambil menunggu giliran untuk bertanding. Lokasi pertandingan biasanya adalah di Natas Gendang atau halaman rumah adat, dan biasa dimainkan pada upacara-upacara adat besar seperti Penti.
Dewasa ini tarian Caci bagi orang Manggarai dipentaskan untuk memeriahkan acara-acara khusus baik yang bersifat adat maupun tidak, seperti syukuran hasil panen, pentahbisan imam, atau penerimaan tamu adat maupun kenegaraan.
Caci, sering disebut sebagai olahraga ketangkasan yang jantan, terutama karena aturan bermainnya, di mana ketika yang lain memukul atau paki, maka pihak lain harus menangkisnya (ta’ang) dan juga akan mendapat kesempatan memukul. Begitu seterusnya sampai pada bagian akhir, akan ada pihak yang dinyatakan menang dan ada pihak yang kalah. Menang dan kalah ditentukan oleh hasil atau capain sukses pukulan larik. Jika hanya mengenai atau melukai badan, tidak dihitung sebagai nilai.
“Poin sesungguhnya bisa diraih jika ada pukulan yang mengenai wajah atau muka lawan. Masyarakat Manggarai umumnya mengenal kondisi ini sebagaiBeke, meski beberapa Kedaluan (Hamente) lebih mengenal istilah Rowa untuk kondisi ada pecaci yang luka akibat pukulan lawan di bagian wajah,” jelas Rumat.
Jika dia mampu menangkis pukulan penantang, pukulan cambuk itu tidak mengenai badannya mulai dari pinggang hingga kepala. Kalau tidak, dia akan menderita luka. Tetapi kalau cambuk mengenai mata disebut beke (kalah) dan harus segera diganti baik lawan maupun penantangnya.
Masih menurut Rumat, di masa lalu, beberapa pecaci bahkan mengalami kondisi Beke atau Rowa yang parah seperti biji mata yang jatuh ke tanah. Para tetua adat meyakini, kondisi ini disebabkan oleh sikap si petarung yang melupakan adat, atau tidak menghormati tradisi, atau juga melanggar ketentuan-ketentuan adat.
Caci, selain mengajarkan kemurnian hati, juga memuat unsur seni yang tinggi, karena para jawara tidak saja cakap bertanding, tetapi juga luwes lomes(menari) dan dere (menyanyi). Itu dimaksudkan menarik perhatian penonton, terutama gadis-gadis pujaan yang ikut menyaksikan caci dan ber-danding atau menyanyikan lagu-lagu tradisional mengiringi permainan caci.
Dalam konteks budaya modern, permainan caci sebenarnya adalah warisan sikap sportif dari para leluhur. Pemain tidak harus selalu membalas pukulan sang pemukul. Sang pemukul dapat digantikan yang lain untuk menangkis balasan pukulan. Caci juga tidak menyimpan sikap dendam di antara pemain. Karena setelah pertandingan Caci di siang hari, pada malam harinya para petarung akan berkumpul bersama untuk perayaan atau ritual adat lainnya dalam budaya Manggarai.
Di masa lalu, setelah menggelar caci di siang hari, malam hari biasanya dilanjutkan dengan danding atau tandak. Dalam acara ini peserta berbaris dalam sebuah lingkaran. Pria berdiri dalam satu kelompok, perempuan di kelompok lain. Antara kelompok pria dan perempuan berdiri berselingan. Lagu dan syair danding dijawab bersahut-sahutan antara pria dan wanita.
“Caci di Manggarai mengajarkan banyak hal, seperti Kepahlawanan, Ketangkasan, Keindahan, Sportivitas dan Kemurnian Hati,” kata Rumat yang juga sekretaris Yayasan Cakrawala Nusantara yang mendirikan STIBA CNK ini.
Hal-hal lain yang selalu ada dalam tiap Permainan Caci adalah, kelompok pemusik, biasanya para wanita dan ibu-ibu yang selalu memainkan tetabuhan gong dan gendang untuk mengiringi pertandingan. Caci disebut juga sebagai tontonan kompleksitas budaya Manggarai dalam satu moment. Go’et atau syair pantun adat Manggarai, tari-tarian tradisional Manggarai, relasi sosial yang harmonis bisa dinikmati sebagai satu paket komplit dalam permanan atau tarian ini. (sandro wangak)

Uji nyali dan taruhannya harga diri,
terimakasih atas tulisan yang sangat menarik ini utk mempromosikan berbagai daya tarik wisata di ntt