Kisah Nathan dan KLB Demam Berdarah di Lembata

suluhnusa.com –Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, dr. Lusia Chandra, kepada wartawan, Jumad  (17/1/2020), mengatakan, sejak meninggalnya Jonatan Petrus Tou Lerek, 10 tahun, Siswa SD Inpres Waikomo 2, Kelurahan Lewoleba Barat, Kabupaten Lembata,   pemerintah langsung membantu melaporkan Demam berdarah demi Kejadian Luar Biasa (KLB). Penetapan KLB yang dilakukan Dinas Kesehatan sejak Kamis (16/1/2020). 

“Ia benar, kita telah tetapkan DBD di Lembata sebagai KLB. Sejauh ini baru 15 pasien diterima terserang DBD. Namun DBD menetapkan sebagai KLB karena ada satu anak, warga Kelurahan Lewoleba Barat yang menjadi korban jiwa. Korban atas nama, Yonathan Petrus Tou Lerek, 10 tahun, warga Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubaduan, diakui pada hari Rabu (15/1/2020), ”ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, dr Lusia Chandra. 

Sementara itu, Kepala Seksi Suvelence dan Imunisasi, Dinkes Lembata, Charles Wutun, Jumad (17/1/2020), di sela-sela kegiatan foging di sekitar rumah korban, di Kelurahan Lewoleba Barat, menjelaskan, pada 2019, melaporkan DBD di Lembata 107 kasus. Namun semuanya dapat dilakukan dengan cepat, sehingga tidak ada kematian. 

“Pada Januari 2020 ini termasuk almahrum ini, total korban akibat DBD sebanyak 13 orang. Namun demikian, karena satu korban meninggal akibat DBD, maka Pemkab Lembata kemudian ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Kasus ini terus meningkat di 7 kelurahan di dalam kota Lewoleba. Khusus di Kelurahan Lewoleba Barat, terdapat 5 pasien DBD positif, ”ujar Charles Wutun. 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, dr. Lusia Chandra, meminta warga untuk selalu menjaga kebersihan lingkugan, dengan cara Menutup, Menguras dan membersihkan setiap wadah penampung udara, tempat hidup nyamuk aides aigepti. 

“Foging hanya membunuh nyamuk dewasa. Sementara jentik nyamuk hanya bisa dibasmi dengan cata perlindungan kebersihan Lingkungan. Saya meminta warga untuk meminta kebersihan. Saya jawab dalam survei di lapangan, jentik nyamuk banyak sekali di setiap rumah dan tidak dibersihkn.   3 m plus, menutup, menguras, dan mengubur. kubur kaleng bekas atau apapun yang bisa menjadi wadah penampungan udara.   Kubur tau ditengkurapkan, ”ujar dr Lusia Chandra. 

Kadis kesehatan berpesan, jika anak panas segera larikan ke Puskesmas. Ketahui gejala Demam berdarah. Lalu panas tinggi tetapi kemudian tiba-tiba dingin atau suhu tubuh turun, terus dingin, itu shok. Kalau sudah begitu susah diselesaikan. 

Setelah mengalami Demam dan panas tinggi, Jonathan Petrus Tou Lerek, bocah kelas 3 SD itu hanya bisa dirawat di rumah. Pertolongan diberikan oleh sang ibunda dengan memberikan obat panas yang dibelinya dari Kios. Namun demam tidak kunjung turun. Hingga hari keenam, sejak terserang demam, Senin (13/1/2020) lalu, Natanpun memperbaiki mimisan. Saat itu ia baru dilarikan ke RS. 

“Pagi hari Senin (13/1/2020) aku bawa dia ke RS Bukit, karena ada darah yang keluar dari hidungnya. Saya pikir panas biasa karena selama 5 tahun tinggal bersama anak saya itu tidak pernah sakit, ”ujar Kristina Duan, ibunda Bocah Jonathan, Jumad (17/1). Mata ibu tiga anak itu masih bengkak karena kebanyakan menangis. 

Jonathan kemudian dirujuk ke RSUD Lewoleba Senin (13/1/2020) petang. Ibunda dari Jonathan Petrus Tou Lerek, Siswa kelas 3 SD Inpres Waikomo 2, kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur tak berhenti   menemani bernyanyi buah-buahan yang berhasil di RSUD Lewoleba untuk menghembuskan nafasnya terakhir. Dokter yang merawatnya, memvonis Natan, menderita Demam berdarah. Kondisi bocah 10 tahun sudah kritis. Pembuluh darah pecah yang terlihat dalam bentuk mimisan.   

Dokter yang merawat bocah di RSUD Lewoleba, mengatur berbagai alat bantu pernapasan dan alat bantu lainnya. Namun usaha dokter dan para medis itu rupanya belum maksimal. Hingga pada hari Rabu (15/1/2020) sekitar pukul 15.15 Wita, Natanpun menghembuskan nafas terakhir. Korban gigitan nyamuk Aides Aigepti itu dikebumikan pada kamis (16/1/2020). 

“Saya menyesal terlambat membawa anak saya ke RS untuk mendapat pertolongan,” ujar Kristin Duan dengan mata menerawang.

Hanya ada suara isak tangis yang parau. Matanya sembab dan bengkak. Suaranya yang parau itu hanya keluar perlahan.   Kristina Duan hanya bisa meratapi jasad anak yang baru lahir 10 tahun itu. Air mati terus mengalir sejak dini itu sekarat di RSUD Lewoleba. Mungkin karena, Air mata Kristina Duan, 49 tahun, seperti mengering. Tangisan dan ratapannya dihadapan jasad yang terbujur kaku itu tak bisa diiringi air mata. 

“Nathan, Mama Minta Maaf. Ama juga sudah meminta maaf. Jalan baik-baik ama, ”kata-katanya mengalir lambat di sela-sela isak tangisnya. Isak tangis Kristina Duan, memantik tangiasan kerabat dan kenalan yang datang mengiringi proses pemakaman Jonathan Petrus Tou Lerek, 10, Siswa Kelas 3 SD Inpres Waikomo 2, Lembata, NTT, Kamis (16/1/2020).    

Kristina Duan sungguh-sungguh tidak menyangka, demam yang menyeret, Jonathan Petrus Tou Lerek, 10 tahun, sejak hari sejak Rabu (8/1/2020) itu, pada akhirnya mengantar anak kesayangannya hingga ke liang lahat. ***

hosea

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *