KUPANG – UPAYA pelestarian permainan rakyat kembali digalakkan melalui perlombaan permainan tradisional Sikidoka, Talimerdeka, Galasing, dan Gasing yang berlangsung di Kelurahan Bello dan Kelurahan Kolhua, Kota Kupang, pada 5–6 Desember 2025.
Kegiatan ini digagas oleh Gregorius Takene Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia Kota Kupang, sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan warisan budaya lokal yang mulai tergerus oleh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda.
Gregorius Takene menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur yang telah memberikan dukungan penuh melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK).
Selain itu kegiatan ini dilaksanakan berkat dukungan dari Wakil Walikota Kupang, Sekda Kota Kupang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Dinas Perhubungan Kota Kupang, Sekolah SMP dan SD di Kota Kupang, Lurah Bello, KPOTI Pusat dan KPOTI NTT.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pimpinan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur yang telah memfasilitasi dan mendukung kami melalui Program FPK, sehingga kegiatan pelestarian permainan rakyat ini dapat terlaksana dengan baik,” ujar Gregorius.
Ia menjelaskan bahwa melalui program tersebut, berbagai permainan tradisional yang hampir jarang dimainkan kini kembali dihidupkan dan diperkenalkan kepada anak-anak serta masyarakat.
“Melalui program ini, permainan tradisional seperti Sikidoka, Galasing, Talimerdeka, dan Gasing kembali dihidupkan dan dimainkan oleh anak-anak serta masyarakat. Kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang kegembiraan yang sarat nilai budaya, di tengah derasnya gempuran teknologi yang kian menjauhkan generasi muda dari akar tradisinya,” jelasnya.
Menurut Gregorius, permainan rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak.
“Kami meyakini bahwa permainan rakyat bukan sekadar hiburan. Di dalamnya tertanam nilai kebersamaan, sosial, gotong royong, sportivitas, serta kejujuran. Nilai-nilai ini sangat penting dalam membangun mental anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berempati, dan berakar kuat pada jati diri budaya bangsa,” tegasnya.
Ia berharap sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam upaya pelestarian budaya dapat terus terjalin ke depannya.
“Semoga kepedulian terhadap pelestarian budaya ini terus berlanjut, sehingga warisan permainan rakyat yang nyaris punah dapat tetap hidup, diwariskan, dan dicintai oleh generasi masa kini dan generasi yang akan datang,” tambah Gregorius di Kupang Senin (22/12-2025).
Sementara itu, salah satu staf Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT, Siti, juga menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Kami juga berterima kasih karena permainan rakyat yang hampir dilupakan digagas kembali oleh Bapak Gregorius.
“Semoga ke depannya permainan-permainan tradisional ini dapat terus dimainkan oleh anak-anak masa kini,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat setempat dan menjadi bukti bahwa permainan rakyat masih memiliki daya tarik serta relevansi dalam membangun karakter dan identitas budaya generasi muda.+++max.milian
