Amfoang

“Lelogama Tam Fatumonas, Manubelon Tam Soliu, Naikliu poi Oepoli” itulah petikan syair lagu berjudul Amfoang.

Ketika aku mendapat tugas di Kecamatan Amfoang Barat Daya, aku sama sekali buta akan tempat ini karena baru pertama kali mendengar daerah Amfoang.

Amfoang merupakan daerah di Pulau timor yang cukup berdekatan dengan batas negara Timor Leste. Menurut sejarah daerah Amfoang dulu adalah bagian dari kerajaan Sonbai dan memiliki beberapa raja, ketika masa kolonial Belanda Amfoang diberi hak merdeka oleh pemerintahan Belanda sehingga menjadi daerah yang berdiri sendiri sebelum akhirnya kembali menjadi bagian dari kerajaan Sonbai.

Amfoang terbagi menjadi beberapa kecamatan yakni Amfoang barat daya, barat laut, timur, tengah, selatan dan Amfoang utara. Kecmatan-kecamatan tersebut merupakan hasil pemekaran beberapa tahun terakhir.

Jarak antara 1 kecamatan dengan kecamatan yang lain sangat berjauhan. Situasi tersebut tidak sama seperti daerah – daerah di Jawa selain agak berdekatan ditambah juga akses terjangkau dengan kendaraan umum.

Di Amfoang jaraknya sangat berjauhan selain itu kendaraan umum tidak setiap saat ada sehingga sepasang kaki adalah alat transportasi paling utama dan orang Amfoang bilang itu “JK” singkatan dari jalan kaki.

Daratan Amfoang seluruhnya memang belum terdapat pemerataan karena belum semua mendapatkan pasokan listrik bagi masyarakat. Namun terdapat pula daerah yang tidak terdapat listrik namun terdapat sinyal telepon selular. Amfoang Barat Daya tempat dimana aku bertugas termasuk yang belum mendapat pasokan listrik akan tetapi terdapat sinyal selular (itu juga hanya telkomsel yang kadang sinyalnya hilang).

Manu dan Belo
Inilah desa tempatku bertugas dari penamaan jika diartikan dalam bahasa Timor terdiri dari 2 kata Yakni “Manu” dan “Belo” yang mana kata pertama berarti Ayam dan kedua adalah Kera, namun ketika ditelusuri dari masyarakat sekitar bukan itu maksud sebenarnya penamaan Manubelon. Sejak kedatanganku hingga menjelang pulang belum ada yang bisa menjelaskan asal usul Manubelon karena yang mengetahui hal tersebut adalah orang-orang tua dan yang menjadi permasalahan adalah masyarakat Manubelon juga tidak terlalu paham siapa orang tua tersebut.

Menurut cerita setempat masyarakat Manubelon dulu tinggal dikampung lama. Jarak kampung lama dengan desa sekarang ditempuh dengan jalan kaki sekitar 3 jam dengan berjalan kaki disana juga masih terdapat sisa-sisa bangunan rumah masyarakat yang sudah tidak dihuni, ketika masa orde baru penghuni kampung lama diperintahkan untuk turun menempati daerah yang sekarang dengan alasan jarak yang terlalu jauh sehingga pemerintah kesulitan mengontrol daerah kampung lama, namun itu bukanlah hal mudah karena diperlukan pendekatan-pendekatan intensif agar penghuni kampung lama bisa turun.

Kecamatan Amfoang Barat Daya mempunyai 4 Desa yakni Manubelon, Letkole, Nefoneut dan Taen/Bioba Baru. Jarak diantara keempat desa ini sangat berjauhan seperti dari Nefoneut atau Letkole untuk sampai ke Manubelon itu harus menempuh jarak 12 jam perjalanan yang agak sedikit dekat jarak antara Manubelon dan Bioba Baru karena hanya dipisahkan oleh sungai besar atau masyarakat disini menyebutnya kali Taen yang sangat luas dan itu hanya bisa dilewati ketika musim kering.

Manubelon adalah kota kecamatan karena semua lembaga pemerintahan ada didesa ini. Mulai dari kantor Camat, Puskesmas, pospol, sekolah dari SD hingga SMA bahkan Universitas Terbuka cabang Kota Kupang terdapat di desa Manubelon.

Hal yang sedikit merepotkan adalah letak antara setiap lembaga ini tidak berdekatan hanya Puskesmas, kantor desa dan Camat yang berdekatan, lembaga paling jauh adalah SMP sehingga jika ada kegiatan agak sedikit riskan untuk saling membantu.

Kelas darurat di rumah bersama Candra Azari (foto: dok.candraazari)
Kelas darurat di rumah bersama Candra Azari (foto: dok.candraazari)

GAKLI, Gabungan Anak Kali
Penamaan daerah ini diambil dari nama salah satu jenis kayu yang ada di Kab. Kupang. Hingga saat ini aku belum pernah melihat wujud kayu klaob tersebut.

Daerah ini terdapat di dusun 1 desa Manubelon akan tetapi letak Klaob berada paling ujung dusun 1 karena setelah itu hutan lalu masuk ke Desa Bioba Baru setelah melewati Kali Taen. Disanalah tempat aku tinggal.

Daerah Klaob memiliki banyak pohon-pohon besar selain itu rumput-rumput liar juga terdapat disana, sehingga nyamuk terdapat dimana-mana dan siap menggigit siapa saja yang ada disana.

Suasana di Klaob sangat sepi karena memang masyarakatnya tidak sebanyak didusun 2 atau 3 bahkan wilayah yang kami tempati hanya dihuni oleh satu keluarga besar saja akan tetapi wilayahnya luas.

Daerah Klaob merupakan tempat endemik malaria. Menurut pengakuan orang-orang puskesmas jika ada pasien terkena malaria sudah dapat dipastikan itu berasal dari Klaob.

Kebiasaan orang-orang di Manubelon khususnya ialah selain ada nama sebenarnya juga memiliki nama “gaul” untuk Klaob sendiri mempunyai nama Gaul yaitu GAKLI yang merupakan singkatan dari Gabungan Anak Kali hal tersebut dikarenakan Daerah Klaob dekat dengan Kali Taen sehingga dinamakan demikian.

Hari selasa merupakan hari yang sangat dinantikan oleh seluruh masyarakat Manubelon karena itulah hari pasar. Setiap hari selasa seluruh masyarakat desa Manubelon bahkan dari desa lain berdatangan ke area pasar Manubelon yang letaknya persis disamping jalan raya dan sekitar 200 m dari SMAN 1 Amfoang Barat Daya.

Mulai dari penjual sembako, perabotan, baju, perkakas, alat elektronik, sayuran dll terdapat dipasar Manubelon. Pasar mulai ramai sejak senin malam karena para pedagang sudah mulai berdatangan, pedagang yang datang tidak hanya dari Manubelon tapi juga dari Kupang bahkan dari daerah jawa juga mengais rejeki dipasar Manubelon. Aktifitas pasar dimulai pada pagi hari sekitar jam 7 dan berakhir pada pukul 12.00 Wita.

Para pedagang ini datang bersama-sama menggunakan otto truck terutama yang berjualan perabotan dan pakaian. Hari senin mereka berjualan di pasar Barate kemudian selasa di Manubelon dan rabu di Soliu mungkin hari-hari selanjutnya ditempat lain namun aku kurang tahu tepatnya dimana.
Hampir 35% mata pencaharian masyarakat Manubelon berasal dari pasar. Masyarakat Manubelon sebagian besar adalah petani, terdapat juga nelayan yang mempunyai rumah dekat pantai, sisanya adalah pedagang dipasar setiap hari selasa akan tetapi biasanya yang berjualan dipasar mereka juga membuka toko dirumahnya.

Hari selasa merupakan hari yang merepotkan disekolah terutama pertugas piket hari selasa. Hal tersebut terjadi karena adanya pasar dimana para siswa biasanya mampir dulu kepasar begitupun dengan bapak dan ibu guru yang membeli keperluan dipasar.

KBM pada hari selasa kadang berjalan tidak lancar karena pada istirahat pertama banyak sekali para siswa yang izin ke pasar belum ditambah yang tidak izin sehingga siswa yang ada disekolah dapat dihitung dengan jari, lebih parah lagi sering terjadi siswa yang tidak membali kesekolah atau bahasa anak sekolahnya “Madol”.

Kadang bapak-ibu guru harus turun tangan ke pasar untuk menciduk para siswa yang berada dipasar pada jam sekolah dan dengan susah payah mengajak mereka kembali ke sekolah. (candraazhari)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *