suluhnusa.com_menjadi pewarta sudah sejak lama. Selepas kuliah aktif menjadi pewarta radio. Dan semenjak masih di bangku sekolah sudah menjadi pewarta lewat menulis.
Alhasil, saat ini walau sudah berstatus karyawan Negara untuk melayani masyarakat dirinya masih tetap menjadi pewarta lewat menulis. Menulis di suluhnusa.com. Sebab, sesungguhnya, dia bernapas untuk mewarta.
Goris Takene, nama yang satu ini sepertinya tidak asing lagi di telinga masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya. Khususnya bagi pendengar Radio Tirilolok Suara Verbum Kupang pada era 1998 2005.
Tidak hanya itu pria kelahiran 13 November 1975 ini juga cukup familiar di telinga pendengar Radio Suara Kupang di era tahun 2006 – 2008. Bapak tiga orang anak ini ternyata cukup banyak memiliki pengalaman didunia Reportase atau dunia jurnalistik.
Hal ini bisa dibuktikan dengan berbagai tawar pekerjaaan dari sejumlah media lokal maupun nasional yang masih di gelutinya hingga kini. Meskipun demikian Om Goe demikian ia disapa, menyatakan tidak mau berbesar hati.
Karena menurutnya apa yang digeutinya sekarang ini merupakan anugrah yang mestinya disyukuri tidak untuk membesarkan diri.
“Ya saya jalani saja dan mensyukuri setiap berkat yang ada, jangan menyombongkan diri,” ungkapnya sederhana.
Tidak hanya itu ternyata diam-diam Bung Goris juga kini tercatat sebagai Tenga Lapangan Dikmas (TLD) Dinas PPO Kota Kupang. Saat ditanya soal yang satu ini seakan tidak mau berkomentar tetapi akhirnya ia mau berbagi cerita pula dengan pembaca, kalau sejak 2008 silam direkrut sebagai TLD yang digaji dari Dirjen PNFI/ Dirjen PAUDNI Jakarta dengan menempati posisi sebagai Fasilitator Desa Intensif (FDI) untuk wilayah kerja di Kecamatan Maulafa dan sekitarnya.
Dimana tugas seorang FDI yang digaji oleh negara adalah, bertugas untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajar pada beberapa keompok yang ada pada suatu wilayah kecamatan/kelurahan dan sewaktu-waktu berperan menggantikan peran Tutor/pendidik.
Selain mengemban tugas utama sebagai staf pada Dinas PPO Kota Kupang, ia juga aktif diberbgai kegiatan kemasyarakatan diantaranya sebagai koordinator masyarakat pemerhati pelayanan publik di Kota Kupang, bahkan hal positif yang didapatnya selama ini pernah mengadvokasi berbagai keluhan masyarakat terkait layanan publik yang dianggapnya belum maksimal. Seperti gerakan menuntut ganti rugi PUSTU Sokon Kelurahan Fatukoa, PUSTU Bikolan Kelurahan Kolhua yang tidak ada tenaga medis serta beberapa keluhan lain dari masyarakat yang kini telah dilaksanakan pemerintah.
Suami dari Sepriyani Ga Radja ini keseharian hidupnya di lingkungan masyarakat juga mengemban tugas sebagai Ketua RW 03 Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang dan juga anggota komunitas dampingan PIAR NTT.(sandrowangak)
