LEWOLEBA – Manakala tangan-tangan yang tulus bersatu, keterbatasan bukan lagi penghalang. Dalam sehari, mimpi panjang anak-anak SMPN 7 Maret Hadakewa tentang sebuah lapangan yang layak akhirnya menjadi kenyataan.
Pagi itu, Selasa, 13 Oktober 2026, halaman SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa tampak berbeda. Bukan sekadar karena aktivitas sekolah yang lebih ramai dari biasanya, melainkan karena ada sebuah mimpi besar yang sedang diperjuangkan bersama. Para orang tua, guru, murid, alumni, dan donatur datang membawa sesuatu yang mungkin berbeda-beda: tenaga, keahlian, material bangunan, bantuan dana, makanan, bahkan air minum.
Namun, semuanya memiliki satu tujuan yang sama: menghadirkan lapangan multifungsi yang layak bagi anak-anak.
Di tempat itu, semen, pasir, dan batu bukan sekadar bahan bangunan. Semuanya menjadi simbol kepedulian dan cinta terhadap pendidikan. Setiap tangan yang bekerja seolah menyampaikan pesan yang sama: masa depan anak-anak adalah tanggung jawab bersama.

Dua Puluh Satu Tahun Menanti Sebuah Lapangan
Sejak berdiri pada 16 September 2004 berdasarkan SK Pendirian Nomor 119 Tahun 2004, SMPN Tujuh Maret Hadakewa belum memiliki lapangan olahraga dan upacara yang layak. Berbagai kegiatan sekolah, mulai dari apel bendera hingga aktivitas olahraga, selama ini dilaksanakan di atas tanah kosong di halaman tengah sekolah.
Bagi sebagian orang, lapangan mungkin hanyalah fasilitas pelengkap. Namun, bagi sebuah sekolah, keberadaannya menyimpan arti yang jauh lebih besar. Di sanalah kedisiplinan dilatih, kebersamaan dibangun, bakat olahraga diasah, dan karakter anak-anak ditempa melalui pengalaman nyata.
Keinginan untuk memiliki lapangan yang layak telah lama menjadi harapan keluarga besar sekolah. Sayangnya, keterbatasan anggaran membuat impian itu tidak mudah diwujudkan. Meski demikian, harapan tersebut tidak dibiarkan padam.
Ketika jalan yang diharapkan belum tersedia, keluarga besar SMPN Tujuh Maret Hadakewa memilih membuka jalan sendiri melalui kekuatan kebersamaan. Para guru dan tenaga kependidikan memulai langkah dengan mengumpulkan dana secara sukarela.
Gerakan kecil itu kemudian disambut oleh para orang tua dan wali murid, alumni, serta para donatur. Ada yang menyumbangkan uang, ada yang menyediakan semen, pasir, batu pecah, dan batu pondasi. Ada pula yang membantu menyediakan air minum bagi mereka yang bekerja sejak pagi.
Sedikit demi sedikit, bantuan itu terkumpul. Apa yang semula terasa sulit dijangkau perlahan-lahan mulai mendekati kenyataan.

Tulun Talin dan Gemohing: Budaya yang Menjelma Menjadi Tindakan
Di tanah Lamaholot, khususnya Lebatukan, kebersamaan bukanlah sekadar kata yang indah diucapkan.
Nilai itu hidup dalam tradisi Tulun Talin dan Gemohing, yakni semangat saling membantu, bekerja bersama, dan memikul tanggung jawab secara kolektif.
Pada hari itu, kedua nilai budaya tersebut hadir dalam bentuk yang sangat nyata. Para orang tua yang memiliki keterampilan sebagai tukang langsung mengambil posisi di lapangan. Mereka bekerja mengerjakan bagian-bagian konstruksi yang membutuhkan keahlian. Para ibu membagi diri dalam kelompok-kelompok kerja. Sebagian menyiapkan makanan di dapur umum, sebagian memastikan ketersediaan air minum, sementara yang lain membantu menyuplai pasir dan batu pecah. Para guru dan murid turut mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing. Alumni dan donatur yang sebelumnya memberikan dukungan materi pun hadir langsung, membaur bersama orang tua dan para pekerja. Tidak ada sekat yang memisahkan mereka. Pada hari itu, semua hadir sebagai satu keluarga besar yang sedang memperjuangkan masa depan anak-anak.
Kebersamaan tersebut terasa pula ketika makanan lokal dinikmati bersama sekitar pukul 10.00 WITA, dilanjutkan makan siang di pelataran sekolah sekitar pukul 13.00 WITA. Sore hari, kopi bersama menjadi ruang untuk melepas lelah sekaligus mempererat persaudaraan. Setelah pekerjaan selesai, makan malam bersama menutup hari yang penuh perjuangan itu.
Di antara suara peralatan kerja dan langkah orang-orang yang berlalu-lalang, ada sesuatu yang tumbuh semakin kuat: keyakinan bahwa pekerjaan besar dapat diselesaikan ketika banyak hati bergerak menuju tujuan yang sama.

Satu Hari yang Mengubah Sebuah Harapan
Pekerjaan berlangsung sejak pagi hingga malam. Waktu terus bergerak, tenaga terkuras, tetapi semangat tidak surut. Semua orang ingin melihat mimpi yang telah lama diperjuangkan itu menjadi kenyataan. Sekitar pukul 19.00 WITA, pekerjaan penyelesaian lapangan multifungsi tersebut akhirnya tuntas. Satu hari mungkin terdengar singkat untuk sebuah pekerjaan besar. Namun, di balik waktu yang singkat itu terdapat proses panjang berupa pengorbanan, kepercayaan, dukungan, dan kesediaan banyak orang untuk berjalan bersama.
Kepala SMPN Tujuh Maret Hadakewa, Fransiskus B. K. Kaona, S.Fil., mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam perjuangan tersebut. Menurutnya, lapangan multifungsi itu merupakan mimpi besar sekolah yang akhirnya dapat diwujudkan melalui kekuatan Tulun Talin dan Gemohing, ketika anggaran pemerintah untuk pembangunan lapangan tersebut belum tersedia.
Ia juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Bapak Paskalis Witak beserta istri, selain kepada para orang tua dan wali murid, murid, guru, alumni, serta seluruh donatur yang telah memberikan dukungan.
Bagi kepala sekolah, lapangan ini bukan sekadar hasil pekerjaan fisik. Lapangan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak harus mengakhiri perjuangan, selama masih ada kemauan untuk bersatu dan bekerja bersama.
Ia berharap Tuhan dan Lewotanah Lebatukan senantiasa memberkati semua pihak yang telah memberikan bantuan dan melipatgandakan rezeki mereka.
Lapangan multifungsi ini pun menjadi salah satu kado istimewa bagi sekolah yang merayakan ulang tahun ke-21 pada 16 Oktober 2026 mendatang, yang akan dipadukan bersama peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 nanti.
Hadiah bagi Anak-Anak, Tanggung Jawab bagi Sekolah
Kegembiraan atas selesainya pembangunan lapangan juga disampaikan Ketua Komite Sekolah, Atanasius Samun. Ia menegaskan bahwa komitmen orang tua untuk mendukung kemajuan pendidikan tidak berhenti pada kegiatan pembangunan ini. Baginya, dukungan tersebut merupakan wujud nyata kepedulian terhadap bakat, minat, dan prestasi anak-anak.
Ia berharap pihak sekolah memberikan ruang dan semangat yang besar agar para murid dapat mengembangkan potensi mereka. Harapannya sederhana, tetapi penuh makna: suatu hari nanti, anak-anak SMPN Tujuh Maret Hadakewa mampu mengangkat trofi kejuaraan dalam berbagai bidang, terutama olahraga, dengan lapangan baru itu sebagai tempat mereka berlatih dan menempa diri.
Sementara itu, Ketua OSIS, Nicky Wuhan, menyampaikan rasa terima kasih mewakili teman-temannya. Baginya, memiliki lapangan yang layak merupakan salah satu mimpi terbesar para murid. Kini, mereka memiliki tempat yang dapat dimanfaatkan untuk latihan futsal, sepak bola mini, kegiatan Pramuka, apel bendera, dan berbagai aktivitas sekolah lainnya. Dengan penuh harapan, Nicky menyampaikan bahwa jika sebelumnya mereka sudah mampu menorehkan prestasi ketika hanya memiliki halaman berupa tanah kosong, maka kehadiran lapangan yang lebih layak seharusnya menjadi dorongan untuk meraih prestasi yang lebih tinggi.
Ucapan terima kasihnya menjadi pengingat bahwa di balik pembangunan sebuah fasilitas sekolah, ada anak-anak yang menaruh harapan besar kepada orang-orang dewasa di sekeliling mereka.

Lapangan yang Menyimpan Pesan Masa Depan
Lapangan multifungsi SMPN Tujuh Maret Hadakewa kini menyimpan lebih banyak makna daripada sekadar tempat beraktivitas. Ia menjadi saksi bahwa pendidikan tidak hanya dibangun melalui ruang kelas, buku pelajaran, dan penjelasan guru. Pendidikan juga tumbuh melalui keteladanan, kepedulian, kerja sama, dan pengalaman nyata yang dialami anak-anak.
Dari kegiatan ini, para murid belajar bahwa sebuah impian dapat diwujudkan ketika diperjuangkan bersama. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana orang tua bekerja, guru berkorban, alumni kembali mengambil bagian, dan para donatur berbagi dari apa yang mereka miliki. Pelajaran seperti ini mungkin tidak tertulis dalam buku teks, tetapi akan membekas dalam ingatan mereka: bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kelimpahan sumber daya, melainkan juga dari kesediaan untuk saling menopang. Tentu, pekerjaan sekolah tidak berhenti ketika lapangan selesai dibangun.
Tantangan berikutnya adalah merawatnya, memanfaatkannya secara bertanggung jawab, dan memastikan bahwa fasilitas ini benar-benar membuka kesempatan yang lebih luas bagi perkembangan karakter, bakat, minat, dan prestasi peserta didik.
Pada akhirnya, lapangan ini bukan hanya milik sekolah. Ia adalah milik seluruh keluarga besar SMPN Tujuh Maret Hadakewa, hasil dari tangan-tangan yang bekerja dan hati-hati yang tergerak oleh cinta terhadap pendidikan. Dua puluh satu tahun perjalanan sekolah kini ditandai dengan sebuah hadiah istimewa.
Namun, hadiah yang paling berharga sesungguhnya bukanlah lapangan itu sendiri, melainkan nilai kebersamaan yang mengantarkannya menjadi kenyataan.
Sebab, ketika Tulun Talin menyatukan kepedulian dan Gemohing menggerakkan tindakan, sebuah mimpi yang semula terasa mustahil dapat berubah menjadi kenyataan.
Dan di lapangan itulah, anak-anak SMPN Tujuh Maret Hadakewa akan belajar berlari lebih jauh, berjuang lebih keras, bekerja sama lebih erat, dan bermimpi lebih tinggi.
melkior.muda.makin
