Union Power People Power

Tulisan ini tidak ditujukan untuk siapa pun, hanya sebuah bentuk pemahaman pada diri sendiri setelah mengikuti pelatihan dalam John Thompson Fellowship di Bangkok Thailand selama sepuluh hari. Terima kasih kepada PGRI dan EI. 


Bergabung dan aktif dalam organisasi adalah salah satu bentuk aktualisasi jiwa kepemimpinan yang bersemayam pada masing-masing individu.

Jiwa kepemimpinan bukan sesederhana bagaimana cara duduk di atas kursi tertinggi tapi lebih bagaimana cara kita memahami visi misi organisasi dan mewujudkan bersama dalam lalu lintas komunikasi yang harmonis.

Jiwa kepemimpinan juga meliputi kemampuan mengendalikan ego, tidak menang sendiri, serta menaati aturan yang berlaku dalam organisasi. Beda pendapat? Sekali lagi ada aturan main (mekanisme, AD/ART) dalam setiap kondisi, tinggal selapang apa dada kita menerima, sejernih apa logika kita mencerna. Dengan kata lain, jika belum bisa menjadi follower yang baik, jangan bermimpi menjadi leader yang baik.

Dalam satu sesi pelatihan, saya mencatat “You don’t need to be the president or the general secretary of the union to be a leader”.

Disini sangat jelas bahwa kepemimpinan tidak ada korelasinya dengan jabatan atau kedudukan. Kita bisa menjadi pemimpin pada posisi masing-masing dengan memahami dan menjalankan tugas pokok dan fungsi, menghargai, menghormati, dan focus pada tujuan organisasi.

Karena jika kepentingan pribadi sudah menjadi agenda yang lebih diutamakan, keutuhan organisasi menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.

No one size fits all” adalah catatan lain yang saya buat. Disitu dijelaskan, dalam satu organisasi, dengan anggota yang heterogen, range demografi yang luas, pasti ada ketidakpuasan dalam beberapa keputusan atau kebijakan, dan ini lumrah karena suatu kemustahilan untuk memuaskan setiap orang dengan karakter yang telah disebutkan di awal. Justru disinilah pembelajaran itu terjadi.

Bukankah keberagaman sudah kita sadari dan kuasai sejak kita mengenal Pancasila?

Keberagaman atau perbedaan tidak hanya tentang suku, budaya, ras, dan agama, fenomena ini juga terjadi dalam organisasi. Jadi, tidak perlu penjelasan panjang mengenai sila ke tiga Pancasila ini, bukan?.

Satu hal penting yang perlu diingat, tidak ada ‘siapa saya’ dalam organisasi, tapi ‘siapa kita’.

Masalah pasti ada tapi tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan, banyak cara dan alat yang bisa ditempuh, banyak kepala dengan otak pintar, daun telinga untuk mendengarkan, dan yang paling penting, hati yang terbuka untuk meminta maaf dan memaafkan. “Though we can never go back and create a new beginning we can start from now and create a new ending”.

Maknanya (kurang lebih) kita tidak bisa memutar waktu, tapi kita punya kesempatan untuk mengukir akhir yang indah.

Union Power is People Power organisasi yang kuat adalah kendaraan terbaik untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Hidup Guru! Hidup PGRI! Solidaritas! Yes!+++

Lailatul Musyarofah
Wakil Ketua Perempuan PGRI Provinsi Jatim
Sekbid Hubungan Luar Negeri PGRI Kabupaten Sidoarjo

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *