SULUH NUSA, SIDOARJO – Zaman telah menggulirkan perubahan yang membawa posisi perempuan semakin baik.
Gerakan dalam rangka memperjuangkan hak perempuan dan kesetaraan gender di Indonesia sudah dimulai lebih dari satu abad.
Sejarah mencatat, Dewi Sartika membuka akses pendidikan untuk perempuan dengan mengepalai sekolah pada 1904 di Bandung. Di Semarang, Kartini membuka Sekolah Kartini pada 1913. Di Manado, Maria Walanda Maramis mendirikan sekolah rumah tangga Indonesia pertama pada 1918.
Puncaknya pada 1928, Kongres Perempuan pertama dilaksanakan di Yogyakarta. Kongres tersebut menghasilkan komitmen penting perjuangan perempuan Indonesia, yakni pelibatan perempuan dalam pembangunan bangsa.
Tidak ada perjuangan yang sia-sia, perempuan Indonesia telah berdaya, perempuan telah diperlakukan setara. Lalu apa?
Pertama kali dikirim ke Jakarta untuk mengikuti workshop Perempuan PGRI pada tahun 2018, pertanyaan itu yang berputar dalam kepala saya. Perempuan, kalian mencari apa? Perlu waktu yang agak lama saya merenungkannya.
Lalu pada hari terakhir workshop, saya mulai mengerti bahwa perjuangan keadilan dan kesetaraan gender ternyata bukan untuk peserta workshop (saat itu), bukan untuk saya. Perempuan dalam organisasi, adalah kepanjangan tangan untuk menebar manfaat, membangkitkan kesadaran, dan menolong perempuan lain yang belum seberuntung kita, yang terkungkung dalam _unconscious_ _bias_ dimana orang memandang perempuan sebagai makhluk nomor dua.
Perempuan dalam organisasi, semestinya menjadi warna, cahaya, keceriaan, dan semangat dalam membangun organisasi yang lebih kuat. Perempuan dalam organisasi tidak perlu mencari panggung, karena dengan peningkatan kapasitas diri, panggung yang akan mencari perempuan.
Keadilan dan kesetaraan tidak berarti bersaing dengan laki-laki, tapi menjadi partner yang baik, yang mengerti, dan tidak “ngerepoti”. Perempuan dengan kualifikasi seperti ini, tak diragukan lagi, adalah perempuan yang “berbahaya”, yang menggerakkan dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya.
Perempuan PGRI, mari memantaskan diri, untuk organisasi dan untuk negeri. +++
Lailatul Musyarofah
Perempuan PGRI Sidoarjo Jawa Timur

Memang spt nya perempuan mahluk lemah, ttp kenyataannya perempuan itu mmng kuat dan sangat kuat, punya daya tarik yg luar biasa dan mmng bisa berbahaya, selamat berkarya bunda Laila, perempuan yg luar biasa……..