KALABAHI – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus memperluas program edukasi literasi keuangan kepada masyarakat. Setelah menyasar kalangan mahasiswa, kini LPS menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank NTT untuk memberikan edukasi kepada masyarakat pesisir dan nelayan di Pantai Mali, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis, 25 Juni 2026.
Ketua Kantor Perwakilan LPS II, Bambang S. Hidayat, mengatakan kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian edukasi literasi keuangan yang sebelumnya diberikan kepada mahasiswa.
“Kalau kemarin kami menyasar mahasiswa, sekarang kami ingin menjangkau masyarakat umum, khususnya nelayan dan masyarakat pesisir,” kata Bambang kepada wartawan usai kegiatan.
Menurut Bambang, masyarakat pesisir merupakan salah satu kelompok strategis yang memiliki peran penting dalam menopang perekonomian daerah, terutama di Kabupaten Alor yang wilayahnya didominasi kawasan laut.
“Alor adalah daerah kepulauan yang dikelilingi laut. Potensi sektor perikanan dan kelautannya sangat besar sehingga perlu didukung melalui akses keuangan yang baik agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, menjaga stabilitas sistem keuangan tidak dapat dipisahkan dari upaya memperkuat perekonomian masyarakat. Karena itu, LPS menggandeng OJK dan Bank NTT agar masyarakat memperoleh pemahaman mengenai layanan keuangan formal, termasuk akses terhadap Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“OJK memberikan pemahaman mengenai regulasi dan kebijakan pemerintah terkait pembiayaan sektor nelayan, sementara Bank NTT menjelaskan fasilitas KUR yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat,” jelasnya.
Bambang menilai skema KUR yang ditawarkan Bank NTT memiliki bunga yang relatif rendah sehingga dapat menjadi alternatif pembiayaan yang lebih aman dibandingkan pinjaman berbunga tinggi.
Selain meningkatkan literasi keuangan, LPS juga berharap kepercayaan masyarakat terhadap perbankan semakin meningkat sehingga semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan keuangan formal.
Ia menambahkan, program edukasi tersebut juga selaras dengan prioritas pembangunan Pemerintah Provinsi NTT yang menitikberatkan pada pengembangan sektor pertanian, perikanan, kelautan, dan pariwisata.
“Kami senang karena program yang dilakukan LPS sejalan dengan program pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor-sektor unggulan tersebut,” katanya.
Sementara itu, Direktur Dana dan Treasury Bank NTT, Heru Helbianto, mengatakan Bank NTT berkomitmen mendukung masyarakat melalui penyediaan akses pembiayaan yang mudah dan terjangkau.
Menurutnya, karakteristik ekonomi setiap daerah di NTT berbeda-beda. Untuk Kabupaten Alor, sektor perikanan, pertanian, dan pariwisata menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat.
“Kami hadir untuk menjembatani kebutuhan pembiayaan masyarakat, khususnya nelayan, melalui program Kredit Usaha Rakyat yang disiapkan pemerintah,” ujar Heru.
Ia mengatakan Bank NTT akan terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dengan menyediakan fasilitas KUR berbunga rendah sehingga pelaku usaha tidak lagi bergantung pada pinjaman online ilegal maupun rentenir yang mengenakan bunga tinggi.
“Bank NTT adalah bank milik pemerintah daerah dan masyarakat NTT. Karena itu kami memiliki tanggung jawab untuk mendukung seluruh aktivitas ekonomi masyarakat melalui pembiayaan yang terjangkau,” katanya.
Heru mengungkapkan, pada tahun ini Bank NTT memperoleh alokasi plafon KUR sekitar Rp300 miliar yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat NTT untuk mengembangkan usaha produktif.
“Kami berharap seluruh plafon KUR tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat NTT agar usaha mereka berkembang dan mampu meningkatkan perekonomian daerah,” tandasnya.+++
j.k
