Seorang Saudara Bernama Fandi Setiyanto

Catatan: Maksimus Makan Kian | Ketua PGRI Flores Timur

LARANTUKA – Ada perpisahan yang selesai setelah berjabat tangan. Ada pula perpisahan yang terus tinggal dalam ingatan, jauh setelah langkah kaki menjauh.

Begitulah suasana yang menyelimuti keluarga besar PGRI Kabupaten Flores Timur saat melepas Pa Fandi Setiyanto kembali ke kampung halamannya untuk mengemban tugas sebagai guru di SMAN 5 Kota Surabaya.

Selama bertahun-tahun, Pa Fandi hadir dalam perjalanan PGRI dengan kesederhanaan, ketulusan, dan kerja yang nyaris tak mengenal waktu. Kepergiannya membawa satu perasaan yang sama di benak banyak orang, Flores Timur sedang melepas seorang saudara yang telah memberi begitu banyak arti.

Mereka yang pernah bekerja bersama Pa Fandi pasti sepakat pada satu hal, ia lebih senang bekerja daripada bercerita tentang pekerjaannya. Pagi dimulai dengan urusan sekolah di SMKN 1 Larantuka, sore berlanjut dengan kegiatan organisasi, malam sering kali masih diisi dengan menyelesaikan berbagai kebutuhan guru di Sekretariat PGRI Kabupaten Flores Timur.

Begitulah hari-harinya berjalan. Lelah seakan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Setiap tugas diselesaikan dengan penuh tanggung jawab, setiap amanah dijaga sebaik mungkin. Banyak orang mengenal Pa Fandi sebagai sosok yang tenang, tetapi di balik ketenangan itu tersimpan semangat pengabdian yang luar biasa. Ia memilih menghabiskan tenaga dan waktunya untuk melayani guru-guru di Flores Timur, tanpa pernah sibuk menghitung apa yang akan diperoleh sebagai balasannya.

Kesibukan yang padat sering membawa orang pada emosi. Pa Fandi justru sebaliknya. Semakin banyak pekerjaan, semakin tenang pembawaannya. Pernah ada saat-saat ia menerima teguran, bahkan kata-kata yang kurang menyenangkan. Namun, tidak seorang pun mengingat Pa Fandi membalas dengan kemarahan. Senyumnya tetap sama!. Setelah itu ia kembali duduk di depan laptop, membuka berkas demi berkas, lalu meneruskan pekerjaan yang belum selesai. Sikap seperti itu tidak lahir dalam sehari. Itu tumbuh dari kedewasaan hati yang membuatnya lebih memilih menyelesaikan persoalan daripada memperpanjang perdebatan. Barangkali karena itulah banyak orang merasa nyaman bekerja bersamanya. Ia menjaga suasana tetap teduh, sementara pekerjaan terus berjalan hingga tuntas.

Ke mana pun tugas membawanya, Pa Fandi selalu membawa suasana yang hangat. Perjalanan ke Pulau Solor, Adonara, atau wilayah lain di Flores Timur dijalani dengan langkah yang ringan. Ia cepat menyatu dengan siapa saja. Rumah guru, rumah kepala sekolah, bahkan rumah warga yang baru dikenalnya pun terasa seperti rumah sendiri. Tikar sederhana sudah lebih dari cukup untuk beristirahat setelah seharian melayani berbagai urusan organisasi. Malam diisi dengan secangkir kopi, obrolan tentang sekolah, tentang keluarga, tentang harapan bagi pendidikan di Flores Timur. “Ikan kuah”di rumah Pak Rauf, Ketua PGRI Cabang Solor Timur pasti akan terus dikenang. Begitu sederhana cara Pa Fandi menjalani pengabdiannya. Tanpa disadari, kesederhanaan itulah yang membuat hubungan organisasi berubah menjadi persaudaraan. Banyak guru mungkin tidak sempat bertemu dengannya berkali-kali, tetapi ketika nama Fandi Setiyanto disebut, hampir setiap orang langsung tahu siapa yang dimaksud.

Ketika pandemi COVID-19 mengubah cara sekolah berjalan, guru-guru di Flores Timur juga menghadapi tantangan baru. Banyak yang sedang mempersiapkan diri mengikuti seleksi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), sementara informasi terus berubah dari waktu ke waktu. Di tengah situasi itu, Pa Fandi memilih berada di barisan yang bekerja. Bersama rekan-rekan seperjuangan seperti Yan Surachman , Antonius Ruron , La Ode Yusman, dan Pak Slamet Wakhyanto , ia terlibat mendampingi para guru melalui berbagai kegiatan pendampingan, menjadi host, narasumber, sekaligus penghubung informasi yang mereka butuhkan. Hari demi hari dilalui dengan diskusi, berbagi penjelasan, menjawab pertanyaan, dan memastikan tidak ada guru yang berjalan sendirian menghadapi proses tersebut. Banyak guru mungkin sudah lupa tanggal dan waktunya, tetapi mereka masih mengingat satu nama yang selalu hadir ketika bantuan diperlukan, Fandi Setiyanto.

Sesudah pandemi berlalu, kesibukan itu tidak ikut berakhir. Meja kerja Pa Fandi tetap dipenuhi berkas dan pesan yang datang silih berganti. Ada guru yang mengurus Pendidikan Profesi Guru (PPG), ada yang membutuhkan sertifikat kegiatan PGRI, ada yang kebingungan memperbarui data di MYASN, ada pula yang sedang menyiapkan berkas kenaikan pangkat dan berbagai urusan kedinasan lainnya. Hampir semuanya bermuara pada orang yang sama. Dengan sabar, Pa Fandi memeriksa dokumen satu per satu, menjelaskan apa yang masih kurang, lalu membantu mencarikan jalan keluarnya. Bagi Pa Fandi, dibalik setiap berkas ada harapan seorang guru, ada masa depan keluarga yang sedang diperjuangkan. Barangkali itulah yang membuatnya selalu melayani dengan penuh kesungguhan, seolah setiap persoalan yang datang adalah urusannya sendiri.

Sekretariat PGRI Kabupaten Flores Timur menjadi tempat yang paling akrab dengan langkah kaki Pa Fandi. Pagi, siang, sore, bahkan di luar jam kerja, pintu sekretariat hampir selalu terbuka karena kehadirannya. Banyak pekerjaan yang selesai sebelum diminta, banyak kebutuhan organisasi yang sudah dipersiapkan jauh sebelum kegiatan dimulai. Ia memahami bahwa organisasi akan berjalan baik apabila ada orang-orang yang setia menjaga hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Dedikasi seperti itu akhirnya mendapat apresiasi dari keluarga besar PGRI Kabupaten Flores Timur melalui penghargaan sebagai Pengurus PGRI Kabupaten Flores Timur Teraktif Tahun 2023. Penghargaan tersebut menjadi penanda atas kerja keras yang selama ini dijalani dalam senyap. Bagi Pa Fandi, penghargaan itu mungkin tidak pernah menjadi tujuan. Namun, bagi rekan-rekan seperjuangan, penghargaan itu adalah cara sederhana untuk mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah memberikan begitu banyak waktu, tenaga, dan pikirannya demi kemajuan organisasi.

Di setiap organisasi selalu ada pekerjaan yang jarang terlihat, tetapi menentukan jalannya seluruh roda organisasi. Pa Fandi memilih berada di ruang itu. Ia menjaga “dapur” PGRI Kabupaten Flores Timur dengan penuh tanggung jawab. Surat-menyurat, administrasi, persiapan rapat, dokumen kegiatan, koordinasi dengan berbagai pihak, hingga hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian, semua diurus dengan cermat. Banyak program berjalan lancar karena ada tangan yang bekerja tanpa ingin disebut. Banyak kegiatan sukses karena ada orang yang lebih dulu datang dan pulang paling akhir. Peran seperti ini sulit digantikan, sebab yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan mengelola pekerjaan, melainkan ketulusan untuk terus hadir setiap kali organisasi membutuhkan. Itulah yang selama ini diberikan Pa Fandi kepada PGRI Kabupaten Flores Timur.

Malam perpisahan itu masih tersimpan utuh dalam ingatan saya. Terus terang, saya menulis bagian ini dengan air mata. Pa Fandi dan keluarga sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Pintu rumah kami di Larantuka maupun di Adonara selalu terbuka untuk mereka. Kebersamaan yang terjalin selama ini telah melampaui hubungan sebagai rekan dalam organisasi. Pada malam perpisahan itu, hadir saya bersama ibu dan Anak-anak, Pa Teddyteluma bersama Ibu dan Anak-anak, Pa Gregorius Kromen , Pa Thom Aresta , Bu Novi Andriani bersama suami, dan Pa Ichal Rianghepat. Pa Fandi menyampaikan kalimat yang membuat kami semua tertegun. Dengan suara yang tenang ia berkata, “Pa Maksi, walau saya sudah pindah, saya ingin tetap menjadi anggota PGRI Flores Timur. Sebab melalui PGRI Kabupaten Flores Timur saya belajar banyak sekali tentang pengetahuan, keterampilan, perjuangan, keberanian, dan juga tentang kehidupan. Saya ada di Surabaya, tetapi saya tetap ingin menjadi anggota PGRI.”

Sejenak tidak ada yang mampu menjawab. Kata-kata itu terasa sederhana, tetapi begitu dalam. Sampai hari ini, setiap kali saya mengingatnya, rasa haru itu masih tetap sama.

Ucapan Pa Fandi pada malam itu tidak berhenti sebagai sebuah kenangan. Kalimat itu kami simpan sebagai sebuah ikatan yang akan terus dijaga. Jika Pa Fandi dengan penuh ketulusan menyampaikan keinginannya untuk tetap menjadi anggota PGRI Kabupaten Flores Timur, maka dengan ketulusan yang sama kami pun menerimanya sebagai bagian dari keluarga besar PGRI Kabupaten Flores Timur. Jarak boleh berubah, tempat tugas boleh berganti, tetapi persaudaraan tidak mengenal batas wilayah. Bagi kami, Pa Fandi akan tetap tercatat sebagai Anggota PGRI Kabupaten Flores Timur, bahkan sebagai salah satu anggota yang kami hormati karena pengabdian, ketulusan, dan jejak baik yang telah ditinggalkan.

Pa Fandi, perjalanan baru telah menanti di kampung halaman. Anak-anak didik di SMAN 5 Kota Surabaya beruntung akan belajar dari seorang guru yang mengajarkan ketulusan bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat cara hidupnya. Kami di Flores Timur akan tetap melanjutkan perjuangan yang pernah kita mulai bersama. Kelak, ketika suatu hari langkah membawa Pa Fandi kembali menginjak tanah Flores Timur, jangan pernah merasa datang sebagai tamu.

Datanglah sebagai keluarga yang sedang pulang ke rumahnya sendiri. Sebab ada persaudaraan yang tidak pernah selesai hanya karena perpindahan tugas. Terima kasih untuk setiap langkah, setiap pengorbanan, setiap doa, dan setiap kebaikan yang telah Pa Fandi tinggalkan di tanah Flores Timur. Semoga Tuhan Yang Maha Baik selalu menjaga setiap langkah pengabdian Pa Fandi dan keluarga, melimpahkan kesehatan, kebahagiaan, serta kesempatan untuk terus berkarya bagi dunia pendidikan. Dan bila suatu saat nanti orang bertanya siapa Pa Fandi Setiyanto, kami akan menjawab dengan bangga, “Ia pernah mengabdi di sini. Ia pernah menjadi bagian dari keluarga kami. Dan sampai kapan pun, ia akan tetap menjadi keluarga PGRI Kabupaten Flores Timur.”+++


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *