Gua, Menjadi Istana Panglima Mabala

SABU RAIJUA – Dalam hikayat masyarakat Kabupaten Sabu Rai Jua, provinsi NTT, pada jaman penjajahan kolonialisme Portugis, hiduplah seorang pemuda, bernama Mabala.

Ia seorang pemuda ganteng, kaya raya dan dijuluki sebagai pahlawan sejati dan hebat. Mabala dengan segala keberaniannya mampu menenggelamkan kapal milik Portugis seorang diri, sehingga Portugis mencari beribu-beribu strategi untuk menangkapnya. Mabala pun berhasil ditangkap dan dibuang ke tempat pengasingan di Madagascar.

Hebatnya, Mabala berhasil kabur dari tempat pengasingan dan pulang ke Pulau Sabu, tempat asalnya. Untuk menghindari kejaran para kolonialis, Mabala mencari tempat pesembunyian di sebuah gua, sehingga gua itu diberikan nama Gua Mabala, terletak di desa Emau Kecamatan Sabu Tengah.

Di ‘istana’ persembunyiannya, sang pahlawan masyarakat Sabu, menjalani masa kehidupannya dengan berbaur dengan masyarakat setempat. Ia berkeluarga dan hidup bertani dengan hasil panen yang sangat melimpah dan ternak yang banyak. Masyarakat pun sangat antusias menjadi pekerja di kebunnya agar dapat memperoleh imbalan untuk menghidupi keluarganya, sehingga ada kampung dinamakan ‘Bakka”, dan disitulah nama kebun dari Mabala.


Anehnya, hasil panen tidak akan habis. Tanaman yang baru dipanen, langsung berbuah dan dipanen untuk mengisi semua lumbung yang ada sampai penuh. Lumbung dalam bahasa Sabu adalah “Hoka’ dan ‘Kedajja’, terbuat dari anyaman daun lontar. Dalam masa selanjutnya, lumbung tadi berubah rupa menjadi batu alamiah, yang berdiri kokoh pada ruang di gua tersebut.

Dalam gua, ada juga sumur disebut sumur Mabala, sebuah sumur kecil dengan air yang tidak pernah berkurang dan kering. Sumber airnya juga tidak dipastikan dari mana. Sumur itulah digunakan untuk kehidupan Mabala serta keluarganya.

Namun, Mabala juga mempunyai musuh yang banyak, sehingga ada upaya untuk membunuhnya. Untuk menghindarinya, Mabala mencari siasat lain, pergi ke mana-mana dengan berjalan di bawah tanah maka banyak lorong-lorong di bawah tanah.

Demikian hikayat dan legenda gua Mabala. Sekarang menjadi sebuah destinasi wisata yang ramai dikunjungi. Tahun 2019, terpilih sebagai salah satu destinasi unik terpopuler urutan kedua oleh Anugerah Pesona Indonesia (API).

Pesona Gua Mabala

Gua Mabala berada di bawah tanah dan terbentuk ruang memanjang dengan ukuran kira-kira 30×10 m. Dalam ruang, ada berdiri beberapa batu ‘stalagmit’ dan ‘stalaktit’ aneka warna. Di bagian atas, seolah-olah terbentuk atap yang sebagian dihiasi aneka warna, ibarat plafon istana dengan warna cat alamiah.

Pada atapnya, ada lubang, sehingga ketika mentari memancarkan seberkas sinarnya menembus membias, membentuk gradasi warna, sehingga semuanya menyatu menampilkan pesona yang sangat indah dan menakjubkan. Ibarat istana raja yang dihiasi aneka warna lampu pijar dari dinding dan atap ‘istana’. Ada juga akar pohon yang bergantungan dari atas atap, menambah keindahan panorama bawah tanah.

Di seputaran gua, berdiri megah-kokoh pohon beringin yang sangat besar, rimbun, tinggi dan pada bodinya, bergelantungan akar-akar yang menancap kuat ke bumi, suatu pemandangan yang tidak kalah uniknya untuk menyempurnakan keindahan gua Mabala.

Untuk mencapai ruang bawah tanah, pengunjung menuruni anak tangga kayu dibuat oleh masyarakat setempat. Kemudian, belok kiri, pengunjung dibuat terkesima atas ruangan bawah tanah. Ruangan yang cukup luas, memantik imajinasi, bagaimana dikreasikan sebuah bangunan mini sederhana dan dilengkapi fasilitas seperluhnya untuk sekedar tempat istirahat? Mengapa tidak! Gua, jaman doeloe menjadi ‘istana’ persembunyian ‘panglima’ Mabala, sekarang bisa disulap dan diarsiteki menjadi vila, tempat istirahat untuk healing dan hospitally di waktu libur.

Dan para pengunjung bisa merasakan sensasi dengan bermalam di ‘vila’ gua Mabala, sekedar melepas kesibukan dan menikmati keheningan suasana malam di seputaran gua Mabala.

Letaknya cukup terpencil, jauh dari pemukiman warga. Jaraknya kurang lebih 11 km dari Seba, ibukota Kabupaten Sabu Raijua. Akses jalan belum memadai, sedikit jalan aspal, jalan tanah dan jalan semenisasi, bahkan mendekat pada lokasi gua, penulis dan beberapa teman harus jalan kaki beberapa ratus meter, namun tidak menyurutkan niat dan tekad para wisatawan untuk mengunjungi destinasi wisata gua Mabala. Selamat berkunjung ke gua Mabala. +++Simon Kopong Seran

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *