SULUH NUSA, LEWOLEBA – Kolosal Budaya Warnai Malam Pensi Jelang HUT yang ke-77 RI di Desa Jontona, Kabupaten Lembata.
Dalam rangka memeriahrayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke 77 Republik Indonesia, desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata menggelar pentas seni (pensi) pertunjukkan busana daerah khas Lewohala dan tari meminang di lapangan bola volley Desa Jontona, (Senin, 15 Agustus 2022.
Kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan perlombaan yang diselenggarakan oleh pemerintah desa Jontona dalam rangka menyongsong HUT ke 77 RI.
Kegiatan tersebut dibuka secara langsung oleh Kepala Desa Jontona, Nikolaus Ake Watun. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan kecintaan orang muda Jontona untuk peduli terhadap budaya Lewohala.
“Kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan orang muda Jontona, supaya orang muda kita (desa Jontona) lebih mencintai budaya daerah kita (Lewohala).” Ungkap Niko Ake.
Ia juga mengatakan, kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan untuk tetap diselenggarakan dalam program kerja desa Jontona ke depannya.
Berdasarkan pantauan media, kegiatan pameran busana diperankan oleh anak muda desa Jontona dengan mengenakan ornamen budaya dari masing-masing dusun berlangsung meriah.
Para pemeran busana daerah tampak bangga menunjukan ornamen yang dikenakan. Sedangkan tari meminang juga dibawakan oleh masing-masing dusun pun tak kalah meriah. Tarian tersebut menunjukan bagaimana proses meminang yang dilakukan oleh pria Lamaholot yang berusaha melindungi wanita pujaannya dari lelaki lainnya.
Para penari lelaki begitu perkasa memainkan perannya, sedangkan penari perempuan juga menampilkan tarian yang memanjakan mata. Penampilan apik para penari dan perpaduan musik tradisional melengking merdu di langit desa Jontona.
Kegiatan malam pentas budaya tersebut menghadirkan tiga orang dewan juri. Juri pertama, adalah Sultan Sabatani, putra Lewohala dan juga pemerhati budaya. Juri yang ke dua adalah Patrisuis Belemu Wangak dan juri yang ketiga adalah ibu Petronela Pude.
Untuk diketahui, ada beberapa rangkaian kegiatan perlombaan, di antaranya perlombaan sepak bola, senam lansia dan bola dangdut.
Kolosal Budaya
Malam yang lengah dengan pertunjukan busana daerah dan tarian meminang tak menyurutkan semangat dan antusias warga Desa Jontona.
Bulan merangkak pelan di langit. Di atas panggung tak beratap, lukisan Soekarno dan Hatta memberi semangat juang dari balik latar.
Pemandu acara, Sedon Halimaking mulai mengambil alih. Suara khas dengan nada mengajak melengking merdu. Pentas seni berubah menjadi kolosal budaya.
Hampir semua masyarakat yang hadir memenuhi panggung pentas. Penabuh gong dan gendang memainkan irama tarian perang. Para peserta lomba menari dan pertunjukan busana daerah berdiri dari duduk dan melangkah ke atas panggung.
Perempuan dengan jari lembutnya berirama riang. Matanya mengawasi seluruh isi panggung, membela penari lelaki yang dengan parang membela perempuan yang hendak dipinangnya.
Malam pentas itu ditutup dengan sole oha dan nyanyian oreng oleh semua tamu undangan yang hadir. Tangan lembut saling bercengkrama dan irama kaki melangkah pasti.
“Manusia mati meninggalkan nama, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan nama. Tetapi seni yang didalamnya adalah kebudayaan akan ada selama senantiasa.”+++ama.kewaman



