Jalan Rusak, Danau Asmara Antara Rindu Yang Terbengkalai

suluhnusa.com_Perbaikan jalan akan membuka ruang untuk promosi potensi Obyek wisata daerah.

Saat ini dibanyak tempat di kabupaten Flores Timur, terdapat sekian banyak obyek wisata yang berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) apabila dimaksimalkan dengan baik.

Seiring dengan Program andalan pemerintah Flores Timur “Gerbang Emas” yang salah satu pilarnya adalan pariwisata dan Kelautan maka sudah saatnya, dan sudah pada saat yang tepat bahwa obyek –obyek wisata yang ada di daerah diperhatihkan dan dimaksimalkan.

Baik di wilayah Flores Timur daratan ataupun di Solor dan Adonara, masing- masing memiliki obyek wisata yang mempunyai daya tarik yang luar bisa.

Sebut saja satu contoh, di Adonara ada pasir putih di Watotena, di Solor ada Benteng Lohayong peninggalan bersehjarah, dan satu dari sekian banyak di daratan Flores Timur adalah Danau Asmara.

Danau asmara,  danau yang bernama asli danau Waibelen, terletak di antara desa Waibao riangpuho dan desa Riangkeroko di Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur.

Menurut pengamatan langsung oleh penulis, danau itu secara alam sungguh sangat indah dan mempesona. i memiliki panjang kurang lebih 1 ½ km dan berdiameter kurang lebih satu (1) Km memudahkan pengunjung bisa memandang dari segala arah. Letak danau seperti sebuah kawah yang dikelilingi oleh bukit yang ditumbuhi oleh pohon- pohon yang masih sangat asli dan alamih.

Ada jalan yang dibuat warga mengelilingi Danau ini. Saat pengunjung berdiri di salah satu sisi bisa juga sementara menikmati hamparan bukit, dari yang kecil hingga besar.

Ada banyak lagi ceritra indah yang menarik hati ingin berkunjung ketempat ini.

Namun sayang, keindahan alam di seputaran danau asmara, saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal baik dari sisi promosi sebagai obyek wisata untuk peningkatan PAD ataupun upaya pemanfaatan  sebagai sumber air yang berfungsi untuk budidaya tanaman sayur- sayuran di sekitar danau bagi masyarakat di sekitar danau.

Kanisius Maran, SE Salah satu Warga Desa Waibao yang juga adalah keturunan dari suku tuan tanah mengatakan bahwa,  hingga saat ini danau belum dimanfaatkan secara maksimal baik dari sisi pariwisata maupun dari sisi lain semisal sebagai sumber air untuk warga dan atau untuk membudidayakan sayur atau tanaman – tanaman holtikultura di sekitar danau.

Obyek wisata sunset (foto: masankian)
Obyek wisata sunset (foto: masankian)

Perhatiaan pemerintah daerah Kabupaten  Flores timur juga belum nampak hingga hari ini.

Pernah dibuat planning bahwa akan dibuatkan fasilitas yang layak disekitar danau untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke tempat itu, tetapi hingga saat ini belum juga realisasi planing itu.

Di sekitar danau Asmara sekarang terdapat bangunan Wc tetapi juga sudah tidak layak untuk digunakan, tahun kemarin juga ada gerakan penghijauan di sekitar danau tetapi penanaman anakan pohon mahoni waktu itu dilakukan di saat musim panas yang hujannya belum baik maka kemudiaan dari sekian ratus anakan mahoni yang ditanam, sisa sekarang  yang masih hidup hanya satu dua pohon saja.

Saya pernah  beberapa kali menemani wisatawan menikmati indahnya alam di sekitar danau asmara, tetapi waktu mereka untuk bertahan di danau tidak lama karena penginapan atau tempat untuk bisa menikmati makanan atau minuman tidak disediaakan disekitar danau, ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Waibao Petrus Guna Kelen saat  ditemui penulis pada jumad malam 17 oktober 2014 dikediaamannya, mengaku sangat senang kalau ada media yang bisa menjembatani penyaluran informasi dalam upaya perbaikan akan sebuah hal, demi peningkatan kesehjateraan bersama.

Bermodalkan  pengalaman pernah hidup dibanyak tempat di luar Flores, Bapak Petrus sangat fasih saat menyampaikan ide- ide positif dalam upaya pembangunan di bidang pariwisata terkhusus untuk potensi diwilayahnya Danau Asmara.

Menurutnya, warga secara swadaya bisa mengembangkan sendiri potensi yang ada di desanya. Kami warga mungkin hanya membutuhkan pendampingan dan bantuan dana sedikit, selanjutnya kami bisa menyiapkan fasilitas disekitar danau dalam menarik minat wisatawan bertamsya di danau.

Dibanyak tempat rekreasi yang pernah saya kunjungi diluar Flores, fasilitas yang sering disiapkan di tempat pariwisata biasanya tidak moderen –moderen amat, tetapi justru kearifan lokal yang ada didaerah itu yang ditonjolkan semisal  makanan lokal, kerajinan- kerajinan tangan lokal, tarian adat dan lain –lain, katanya.

Untuk Danau Waibelen atau yang sering dikenal dengan danau Asmara, potensi indahnya sudah tidak diragukan lagi. Dari semua sisi diseputaran danau Asmara kita bisa mengamati dan melihat langsung .

Di sisi lain, mata kita dimanjakan juga dengan hamparan bukit- bukit dari yang kecil hingga besar semakin menambah keindahan saat berada disekitar danau asmara.

Kami tidak butuh harus adanya investor yang datang mengolah obyek wisata ini, tetapi baik kalau perdayakan masyarakat di wilayah kami ini dengan memberikan dampingan dan suport dana sedikit untuk menyediakan fasilitas diseputaran danau.

Di danau Waibelen, sudah ada jalan yang mengelilingi danau, ada jalan masuk yang sudah disemenisasi dari jalan umum, pepohonan masih rindang. Yang menjadi soal sekarang adalah bahwa kita belum bergerak untuk memaksimalkan potensi obyek wisata ini.

Secara swadaya, warga saya sudah sering melakukan pembersihan diseputaran danau., dan baru sebatas itu yang kami lakukan. Jika didampingi dan disuport baik, maka kami bisa menyiapkan tumpangan di sekitar danau, kami bisa menyuguhkan makanan dan minuman lokal, kami bisa menampilkan tarian – tarian adat, dan kerajinan- kerajinan tangan lokal bisa kami siapkan sebagai oleh – oleh saat wisatawan mengunjungi danau.Ungkap Kepala desa.

Saat disinggung soal jalan menuju ke Danau Asmara dari Kota Larantuka, kades mengatakan bahwa praktis memang di wilayah tanjung Bunga ini, tidak memiliki jalan baik. Kami di Tanjung Bunga praktis tidak memiliki jalan yang baik.dari dulu hingga sekarang jalan masih itu itu saja. Walau hanya 48 Km menuju kota Larantuka, kami harus menempuh hingga 3-4 jam baru tiba di Larantuka.Bayangkan saja sulitnya warga yang harus berurusan di Larantuka atau menjual hasil komoditinya.

Saya malah berpikir bahwa jika saja kita masih menganut sistem kerajaan seperti kala itu, maka mungkin saja jalan kita ini secara swadaya sudah dikerjakan oleh kita sendiri. Tetapi sekarang sudah tidak bisa, karena ada batasan – batasan jalan negara, jalan provinsi dan lain- lain.Sebagai pimpinan di wilayah ini, harapan saya bahwa supaya obyek wisata bisa dikenal, dikunjungi, dan dapat meningkatkan PAD maka perbaiki dulu jalan menuju ke Obyek wisata itu.

Lanjutnya, diwilayah desa Waibao dan desa Riangkeroko  ini bukan hanya ada danau Asmara tetapi potensi keindahan alam lain yang bisa menjadi obyek pariwisata adalah pantai Kwuta dimana di tempat ini kita bisa melihat sunset yang sangat indah.Pantai Kwuta, memiliki pasir putih yang halus dengan luas kurang lebih 750m, ada batu Payung (Batu berbentuk seperti Payung), ada prasasti Nopi Jaga, Pantai Pain Haka yang terdapat peninggalan prasasti dan bekas kaki Gajah Mada, tulang belulang manusia kanibal sejak 4000 tahun yang lalu, Menurut Dr. Ph. Grange, dan Dr. J.C.Galipaud dari Universitas La Rochelle dan Institut De Recherchepour le Developpement (Lembaga Penelitiaan untuk Pembangunan) Prancis. Kata kepala desa Waibao yang masa bahkti satu periode kepemimpinannyaakan berakhir pada tanggal 7 November ini.

Dari tuturan dua warga ini, tentunya mewakili sekian banyak warga yang menginginkan adanya perbaikan kesehjateraan hidup masyarakat. Semua kita tentu sepakat bahwa untuk bisa mempromosikan sebuah obyek wisata maka, penyiapanya harus komplit. Misalkan, Yang mau kita promosikan adalah keindahan danau Asmara, Maka website di daerah pada Dinas Pariwisata harus ada.Di website itu nantinya kita akan memberikan informasi secara lengkap dan mudah untuk diakses. Informasi itu diantaranya; jarak tempuh dari pusat kota ke lokasi Obyek wisata (Danau Asmara), ditempuh dalan waktu berapa jam, menggunakan trasportasi apa menuju ke lokasi, berapa biaya transportasi, siapa yang mendampingi, apa saja keindahan alam di sekitar lokasi sebuah obyek wisata, bagaimana dengan tumpangan, bagaimana dengan makanan dan minuman, tarif dari jasa yang diberikan, dan lain- lain yang intinya memberikan kenyaman bagi siapa saja yang datang dan bertamsyah di obyek wisata yang dituju. Dan semua itu kuncinya hanya satu yakni jalan harus diperbaiki.(Maksimus Masan Kian)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *