Debit Air Berkurang, Hasil Kebun Nyaris Hilang

suluhnusa.com_Tidak bisa dipungkiri bahwa sumber mata air Oelneneno dan Oelnepaut yang merupakan dua mata air harapan bagi kehidupan masyarakat di Kelurahan Bello.

Terlebih para petani di daerah itu, dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Hal ini sangat berdmpak bagi masyarakat petani. Sebab sudah sejak lama kelurahan Bello merupakan salah satu kantong pertanian yang juga andalan sebagian pesar pasar di Kota Kupang.

Namun kini, setelah menurunnya debit air Bello yang dulunya menjadi julukan kantong pertanian kini tinggal nama.

Mengapa tidak, sebab untuk menyesuaikan dengan kondisi ketersediaan air, terpaksa warga petani mengurangi areal tanam yang sudah barang tentu berdampak pada pemasukan ekonomi yang secara perlahan dari tahun ke tahun semakin berkurang pula, pada akhinya petani kehilangan mata pencaharian yang menjadi andalan selama ini.

Soleman Tuan salah satu Ketua Kelompok Tani di Bello luas areal sawah miliknya lebih kurang tujuh ribu (7000) meter persegi biasanya sebelum tahun 2005 luas tanah yang ada semuanya digarap dengan tanaman padi pada musim hujan dan berbagai jenis sayur di musim kemarau.

Tetapi beberapa tahun belakangan ini terpkasa sebagian dari luas tanahnya yang ditanami padi, itupun hanya pada msim hujan sedangkan musim kemarau tidak ditanami karena terbatasnya persediaan air.

“Ya terpaksa sedikit yang digarap karena kondisi air sedikit, serta hasil yang kami peroleh juga sangat berkurang bahkan nyaris hilang,” jelas Soleman penuh haru. Untuk mengatasi persoalan ini, menurut Fanus Toasu salah satu warga sejak Agustus 2013 lalu pihaknya sudah mngajukan permohonan bantuan sumur bor kepada Kantor Balai Sungai wilayah NTT melalui Kantor P2AT Kupang, tetapi sampai saat ini belum ada realisasi.

Karena menurut toasu, informasi yang mereka peroleh dari Sonny Tulle salah satu Kepala Seksi pada Kantor P2AT bahwa untuk tahun 2014 belum ada proyek sumur bor kecuali proyek rehabilitasi.

Pernyataan Sony Tulle ini tak sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, Charisal A. Manu.

Bahwa, Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II sudah membangun sekitar 66 unit sumur bor di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) guna mengatasi kekurangan air baik untuk irigasi maupun air bersih.

Sebanyak 66 sumur bor itu selain untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk setempat, juga dimanfaatkan mengairi irigasi di 57 titik dan air baku 35 titik untuk kepentingan mencetak sawah baru yang selama ini terkendala kurangnya akses irigasi pada musim gadu tanaman padi” kata Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara II, Charisal A.Manu, akhir Mei 2014 lalu

Selain itu, katanya, pembangunan sumur bor tersebut bertujuan untuk menjamin kesinambungan peningkatan produksi dan ketahanan pangan di tengah minimnya ketersediaan air yang memadai.

Dia menjelaskan, wilayah Kabupaten Kupang seluas 542.397 hektare tercatat 18.787 hektare atau 3,48 persen merupakan tanah sawah dan sisanya adalah lahan kering.

Sementara, tanah sawah yang berpengairan ataupun tidak dan sebagiannya tanah kering merupakan potensi produksi tanaman padi, palawija, hortikultura, termasuk sayur-sayuran serta buah-buahan.

Menurutnya, manfaat dari adanya Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) ini sangat terasa pada saat kekeringan, di mana masyarakat tidak mengalami kendala dalam upaya memenuhi kebutuhan air untuk pengairan dan air bersih.

“Kekeringan yang berdampak pada gagal panen di Kabupaten Kupang diakibatkan oleh berkurangnya potensi air permukaan sehingga satu-satunya harapan adalah menafaatkan potensi air tanah” ujarnya.

Kondisi wilayah Kabupaten Kupang, katanya, yang relatif kering dan minimnya sarana irigasi air permukaan, mengharuskan dilakukan upaya pemanfaatan potensi air tanah pada daerah-daerah yang memiliki potensi air tanah untuk meningkatkan produktifitas pertanian dan ketahanan pangan.

Kekurangan air bersih di pedesaan di Kabupaten Kupang, merupakan salah satu penyebab rendahnya kesejahteraan masyarakat pedesaan.

“Untuk itu, Pengembangan Air Tanah NTT mengupayakan pemanfaatan potensi air tanah guna memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat kabupaten Kupang,” paparnya.

Di NTT mayoritas penduduk yang berprofesi petani 3.042.780 orang atau mencapai 64,74% dari total 4,7 juta penduduk NTT itu memiliki potensi lahan kering seluas sekitar 2.379.005 ha dan potensi lahan basah mencapai 127.308 Hektare.

Dari total luas lahan tersebut pemanfaatan untuk lahan kering baru sekitar 1.556.155 ha atau 65,41%, sedangkan lahan basah mencapai 126.993 ha atau 51,33%, sehingga perlu didorong untuklebih dioptimalkan lagi untuk kesejahteraan bersama terutama para petani.

Ia mengatakan pada lahan-lahan kering yang tingkat retensi air tanahnya tidak memungkinkan lagi untuk menanam tanaman pangan secara rutin, banyak yang mengembangkan teknologi kearifan lokal, misalnya menggali sumur, untuk sumber penyiraman tanaman yang sedang dikembangkannya.

Bahkan banyak dijumpai mengembangkan semacam “irigasi tetes” pada batang-batang bambu yang ditutupi dengan sabut kelapa untuk menjaga agar air bisa menetes membasahi tanaman secara perlahan-lahan, dan mengisinya kembali manakala wadah air di potongan bambu itu kosong.

“Ini bukan hanya dikembangkan untuk tanakam keras, bahkan juga untuk tanaman pangan yang cukup produktif,” katanya.

Sementara itu, Goris Takene Ketua RW 03 Kelurahan Bello mengatakan, kondisi berkurangnya debit air pada dua sumber air di wilayahnya itu disebabkan karena sejak dahulu hingga saat ini proses penebangan hutan baik untuk kepentingan kebun maupun untuk kebutuhan ternak, prosesnya penebangan tidak beraturan dan tidak disertai dengan upaya penanaman kembali sehingga dari tahun ke tahun hutan dan ohon besar punah.

Serta akibat sering terjadinya kebakaran hutan pada musim kemarau. Masih menurut Takene, hutan dengan pohon besar merupakan penyangga utama air baku sehingga sangat perlu di jaga kelestarianya.

Dan pihaknya selaku Ketua RW beberapa tahun ini bersama warga sudah melakukan penanaman kembali terutama tanaman umur panjang demi keterseiaan air bawah tanah.

Serta menghimbau masyarakat untuk tidak menebang pohon besar di sekitar sumber air.(goris takene)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *