Guru Harus Berubah

Suluh Nusa, Denpasar – “Petualangan dalam hidup adalah seberapa banyak anda belajar. Lakukanlah , kalau anda sukses anda bahagia, kalau gagal, anda belajar. Jangan pernah berhenti belajar karena hidup tidak akan pernah berhenti mengajarkan”

 Kutipan diatas menggambarkan bagaimana pentingnya belajar dalam kehidupan terutama dalam hal ini adalah guru yang akan menjadi ujung tombak dari keberhasilan pendidikan bangsa. Maju tidaknya sebuah negara ditentukan oleh kualitas warganya . Kualitas dalam hal ini berkaitan dengan sumber daya manusianya yang menjadi modal utama pembangunan nasional. Dan pendidikan merupakan faktor utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Berbicara tentang pendidikan maka yang terbayang dalam benak kita adalah siswa, guru, dan kurikulum. Ketiga komponen tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Ketiganya saling terkait untuk mencapai tujuan umum pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang termuat dalam alinea ke empat pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang merupakan visi bangsa ke depan.

Namun demikian diantara ketiga komponen tersebut diatas, guru merupakan ujung tombak pendidikan. Mengapa ? Karena guru yang memegang peranan untuk memfasilitasi siswa atau menciptakan kondisi yang merupakan sebuah pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya masing masing yang meliputi  kecerdasan intelektual, emosional, sosial dan spiritual.

Ada sebuah kisah yang mungkin kita sering dengar tentang ucapan Kaisar Hirohito pada para jenderalnya sesaat setelah terjadinya bom di Kota Hirosima dan Nagasaki “Berapa jumlah guru yang tersisa ?” pertanyaan itu membingungkan para jendral yang melindungi kaisar pada saat perang. Namun kemudian dijelaskan oleh Kaisar Hirohito “Kita telah jatuh karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang , tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom sedashyat itu. Kalau kita semua tidak belajar bagaimana kita akan mengejar mereka. Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di pelosok negeri, karena sekarang kepada mereka kita bertumpu, bukan pada kekuatan pasukan” Dari kisah tersebut dapat kita bayangkan, bagaimana pentingnya peran guru bahkan bagi negara semaju Jepang.

Menurut Imran (2010: 23), guru adalah jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus dalam tugas utamanya seperti mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah. Dari pengertian tersebut dapat diambil poin penting seorang guru adalah sebuah perofesi, memfasilitasi baik mengajar, mendidik dan lain lain serta adanya peserta didik atau siswa. Untuk dapat menjalankan tugas dengan baik sehingga mencapai tujuan yang diharapkan guru tentunya harus mempunyai kompetensi. Maka guru semestinya selalu berusaha untuk mengisi diri dengan terus belajar

Perkembangan jaman yang begitu pesat menghadirkan teknologi yang berkembang hampir setiap hari. Berbagai informasi dan hiburan disajikan dengan berbagai aplikasi sesuai dengan kebutuhan. Sebagian besar guru hampir kalang kabut menerima perubahan yang sedemikian dratis melaju bagaikan kereta api cepat. Dunia berubah setiap saat. Dan anak anak yang masih murni belajar lebih cepat dari gurunya sendiri. Akankah guru seperti tikus yang mati di lumbung padi ? Gagap dengan berbagai informasi dari beragam sumber yang disajikan internet?!

Guru harus berubah, guru harus mampu mengejar teknologi, setidaknya sejajar. Bagaimanapun teknologi tidak bisa menggantikan guru karena itu guru harus tetap menjadi sumber utama dalam pembelajaran. Jangan sampai guru dikalahkan oleh informasi yang disediakan oleh ‘mbah google’ sebab demikian mudahnya mengakses informasi oleh peserta didik kita yang kebenarannya belum terjamin. Maka disinilah peran guru diharapkan menjadi penunjuk arah bagi peserta didik agar menggunakan teknologi dengan panduan yang tepat.

Untuk dapat setidaknya sejajar dengan perkembangan teknologi yang dapat memfasilitasi peserta didik dengan mudah, guru harus belajar. Belajar sepanjang hayat. Long Life education. Tidak ada kata berhenti untuk belajar. Belajar bukan hanya aktivitas siswa tapi juga guru dan seluruh mahkluk yang ada di dunia tak terkecuali.

Ada beberapa kelompok guru secara garis besar terkait dengan kemauan untuk belajar. Yang pertama guru yang apatis. Guru tipe ini bersifat kaku, menganggap diri benar, dan tidak mau berubah. Mereka berjalan di tempat dan tidak mau tahu bagaimana teknologi terus berkembang. Tipe kedua adalah guru yang tahu perubahan zaman tapi malas untuk membelajarkan diri. Mereka tahu, mereka mendengar, tapi mereka tetap melakukan tugasnya dengan cara yang sama, tidak memiliki kreativitas dan enggan untuk mencoba. Tipe ketiga adalah yang tahu perubahan dan mau berubah. Guru tipe inilah yang diharapkan akan membawa perubahan baik dalam iklim pendidikan kita.

Bagaimana guru belajar ? Suhadak (2010: 34) dalam desertasinya berpendapat bahwa guru perlu dikutsertakan sesering mungkin dalam berbagai diklat peningkatan profesi guru (inservice training) yang dikelola secara profesional dan merujuk pada kebutuhan guru dalam menjalankan peran dan fungsinya.. Beberapa bentuk diklat yang dapat diikuti guru seperti diklat luring dan daring. Banyak diklat, seminar, workshop yang diselenggarakan baik oleh kementerian pendidikan, dinas pendidikan provinsi, kabupaten, kota dan kecamatan, maupun oleh lembaga lembaga swasta yang bekerja sama dengan pihak tertentu. Pandemi Covid-19 justru memberikan banyak kesempatan guru untuk belajar karena masyarakat termasuk guru lebih banyak berada di rumah.

Demikianlah guru, sebagai ujung tombak pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi sangat penting perannya sehingga perlu untuk selalu mengasah kemampuan dan meningkatkan profesionalisme dengan mengikuti berbagai pelatihan dan bentuk lain lainnya baik secara luring maupun daring. Dimana ada kemauan disana ada jalan. Jika sudah ada kemauan untuk berubah kea rah yang lebih baik demi masa depan bangsa, niscaya selalu ada jalan untuk terus belajar dan belajar.  ***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *