LEMBATA, SULUH NUSA – BADAN Pusat Statistik Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, membeberkan Data Capaian Indikator Makro Pembangunan Lembata tahun 2022.
Data Capaian Makro tersebut penting, sebagai acuan dalam penyusunan perencanaan pembangunan daerah.
Mewakili Kepala BPS Kabupaten Lembata berbicara dalam forum Musrenbang RKPD tingkat Kabupaten Lembata, Rabu, 29 Maret 2023.
Statistisi Ahli Muda/Koordinator Fungsi Statistik sosial BPS, Yustinus Laba, menekankan, dalam perencanaan Pembangunan daerah, diperlukan data capaian indikator makro pembangunan daerah.
Ia menjelaskan, indikator makro daerah yakni, jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin dan prosentasenya, tingkat pengangguran terbuka, indeks pembangunan manusia,
angka partisipasi sekolah, angka buta huruf dan laju pertumbuhan ekonomi.
Yustinus Laba mengatakan, jumlah penduduk Lembata tahun 2022 diproyeksi sebanyak 137.787 jiwa.
Jumlah penduduk miskin tahun 2022, sebesar 37.88 ribu jiwa, atau menurun 0,87 ribu jiwa.
Pada tahun 2022, terdapat penurunan presentase penduduk miskin sebesar 1,03 persen.
Adapun tingkat pengangguran terbuka tahun 2022 sebanyak 4.74 persen atau menurun 0, 2 persen.
Sementara indeks pembangunan manusia (IPM) kabupaten Lembata, yang terbentuk melalui pendekatan Umur panjang dan sehat (angka harapan hidup), pengetahuan (angka harapan dan lama sekolah dan rata rata lama sekolah) dan kehidupan yang layak (pengeluaran perkapita).
IPM di Kabupaten Lembata meningkat 0,72 poin, pada tahun 2022.
IPM angka harapan hidup atau bayi yang dilahirkan pada 2022,memiliki peluang untuk bertahan hidup 67,52 tahun.
Harapan lama sekolah di Kabupaten Lembata tahun 2022, sebanyak 12, 45.
Pengeluaran riil perkapita, lima tahun terakhir, 7,622 juta.
Sedangkan angka partisipasi sekolah penduduk usia 16-18 tahun 2022 di Lembata, sebesar 63,61%.
Statistisi Ahli Muda/Koordinator Fungsi Statistik sosial BPS, Yustinus Laba mengatakan, dari data yang dibeberkan, semua indikator capaian makro Lembata rata rata meningkat, namun tidak signifikan.
“Silahkan Pemerintah daerah melihat seluruh capaian makro yang ada dan dapat dijadikan acuan untuk membuat program untuk memacu laju pembangunan di daerah,” ungkap Yustinus. +++hosea/sandrowangak
