Sunur Berlayar ke Meko, Ini yang Dia cari

MEDIA WLN – Bupati Lembata Eliazer Yentji Sunur dinilai melanggar aturan yang dibuat sendiri. Sebab, disaat dirinya mengelurkan kebijakan untuk tidak ada perjalanan dari dan ke zona merah dirinya bersama rombongan berlayar menggunakan phinisi ‘Aku Lembata’ ke Dusun Meko, Desa Pledo, Kecamatan Witihama, Flores Timur. Apa yang Sunur Cari ?

Meko adalah salah satu dusun di Desa Pledo, Kecamatan Witihama. Wilayah ini terisolir. Terpencil. Dihuni oleh penduduk suku Bajo yang beragama islam dan seratus persen mata pencahariannya adalah pelaut.

Sebanyak 125 orang yang terdiri dari Kepala OPD, ASN Lembata dan rombongan wartawan diajak Bupati Lembata Plesir ke Daerah Wisata Pulau Meko di Adonara, Flotim.

Kedatangan Bupati Lembata dan rombongan tidak diterima secara istimewa. Tidak ada tari tarian penjemputan layaknya seremonial penerimaan tamu. Pun tidak ada pengalungan selendang apalgi seremonial adat.

Bahkan Bupati Lembata dan rombongan yang turun ke darat dan bertemu warga setempat harus rela basah sebab perahu nelayan dan dua speedboat milik TNi Angkatan Laut dan BNPB Lembata tidaj bisa mengantar rombongan sampai ke bibir pantai.

“Bgini sudah resikonya. Harus buka sepatu. Guling celana dan basah,” ungkap salah seorang Kepala SKPD yang menumpang perahu milik nelayan bersama Sekda Lembata, Paskal Tapobali.

Sekda Lembata pun harus buka sepatu, mengguling celana sebatas betis untuk berjalan ke bibir pantai. Celanapun basah.

Pemandanga Gunung Ile Ape di lihat dari Desa Meko, Adonara-Flotim

Rombongan diterima Camat Witihama, Laurensius Lebu Raya, Kepala Desa Pledo, Samsudin Samon Deran, di rumah singgah pariwisata Dusun III Meko, Desa Pledo.

Meko dengan keindahan pasir putih, serta tiga gugusan pulau kecil termasuk Pulau Kelelawar, menjadi salah satu destinasi wisata yang akan di jual Pemkab Lembata.

Camat Leburaya dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada rombongan Pemerintah Kabupaten Lembata yang datang berkunjung de daerah terpencil, Dusun Meko.

“Terimakasih kepada bapa Bupati Lembata bersama rombongan yang sudah rela berkunjung ke sini. Pa Bupati, Dusun Meko ini adalah daerah terpencil. Daerah tertinggal. Tetapi memiliki potensi pariwisata dan kelautan yang tidak ada duanya. Memang, Meko dan pulau pasirnya menjadi salah satu destinasi unggulan yang dijual oleb Pemerintah Kabupaten Flores Timur. Mudah mudahan kehadiran pa Bupati Lembata ini dapat membuka peluang kerjasama dalam bidang pariwisata bersama pemkab Flores Timur.” ungkap Lebu Raya.

Dusun Meko, Desa Pledo, Kecamatan Witihama, Flotim

Phinisi dan linkage wisata sejarah Solor Watan Lema

Bupati Lembata, Eliazer Yenti Sunur, dalam sapaan dihadapan Camat Witihama, Kepala Desa Pldo dan beberpa toko masyarakat Desa Pledo mengungkapkan Meko memiliki potensi paiwisata yang indah.

Dan karena itu, Sunur mengingatkan agar masyarakat setempat tidak boleh menjual tanah.

“Bapa desa jangan menjual tanah. Silakan investor datang. Lakukan investasi. Jangan menjual tanah sebidag pun,” ungkapnya.

Lebih jauh Sunur menjelaskan dirinya sebagai Bupati Lembata, berusaha untuk menangkap peluang pariwisata di mana Labuan Bajo sebagai entry gate pariwisata di NTT.

“Masyarakat ekonomi NTT yang dicanangkan Gubernur NTT, yang sudah kita deklarasi di Labuan Bajo, nah ini kita mulai mengisi. Bukan asal ngomong tapi Lembata sudah mulai dengan membangun linkage tourism. Kita punya kapal Phinis ini menurut rencana akan menjadi kapal pesiar bagi wisatawan, menghubungkan Daerah-daerah di NTT. Salah satunya adalah Meko,” ujar Bupti Sunur.

Sunur menyerahkan cinderamata berupa sarung kepada Camat Witihama dan Kades Pledo

Menurut Bupati Sunur, Labuan Bajo menjadi entri gate, titik pertumbuhan pariwisata di NTT.

“Kita mendekatkan diri dengan dia, atau dia menarik kita. Kalau kita jauh dari Labuan Bajo kan orang tidak lihat kita. Karena dia tidak lihat, bagaimna diam mau menarik kita. Jadi ada Full Factor dan pull Factor. Daya Tarik dan daya tekan. Dia menarik kita kan ikutannya bisa Meko, kalau ini kita tekan, dia kan menarik lagi dari desa sekitar Witihama,” ujar Bupati Sunur.

“Saya akan membangun komunikasi dengan pemerintah Flores Timur, kita coba bangun presentasi dari sisi bisnisnya seperti apa. Mudah-mudahan ada kesamaan pemahaman, supaya sama-sama mencari jalan, membangun linkage tourism,” ujar Bupati  Sunur.

Menurut Bupati Sunur, Solor Watan Lema, itu sejarah. Hubungan emosional itu harus dijaga, karena kita ini satu. Linkage pariwisata ini salah satu cara membangun emosional Solor Watan Lema itu. Ini juga yang sedang di gagas mau dibangun.

“Kalau budaya Solor Watan Lema itu sudah masuk, sekat ekonomi tidak akan ada lagi. Kita boleh berdagang di pantar, Alor, sama juga orang Alor berdagang di tempat kita, karena ekonomi itu tidak mengenal batas wilayah. Ekonomi diterima kalau melalui kesamaan budaya. Orang Alor bisa jualan ke Lembata, orang Flores Timur juga bisa jualan ke Lembata, nah itu yang kita mau buka lagi trayek pelayaran, Lewoleba-Waiwuring-Solor (Menanga),” ujar Bupati Sunur di Meko, Minggu (14/6/2020).

Linkage pariwisata dalam bingkai kesatuan Solor Watan Lema itu sejalan dengan deklarasi masyarakat Ekonomi NTT yang di deklarasi di Labuan Bajo.

“Supaya, mangga, srikaya dan komoditi lain dari Solor maupun Adonara, bisa dibantu dijual di Lembata. Nah ini yang kita mau jual lagi. Demikian juga sebaliknya. Kita mulai uji trayek,” ujar Bupati Sunur.

Bupati Lembata saat melihat hamparan tanaman endemik Cemara laut dan memberi nama tempat ini menjadi Taman Cemara Meko-TCM
Taman Cemara Meko
Bupati Lembata foto bersama di Taman Cemara Meko. Taman yang namanya diberikan oleh Bupati Lembata.

Taman Cemara Meko (TCM)

Usai tatap muka bersama, Bupati Lembata di damping Camat Witihama, Laurensius Leburaya dan Kepala Desa Pledo, Samsudin Samon Deran, mengelilingi Dusun Meko. Rumah rumah penduduk dibangun dengan menggunakan Dana Desa termasuk rumah tunggu pariwisata yang dibangun dengan menggunakan dana desa tahun 2019.

“Ya kita bangun rumah tunggu dan beberapa lopo menggunakan dana desa tahun 2019. Sebenarnya direncanakan penataan kawasan Dusun Meko di tahun 2020 tetapi karena covid dipending,” Samsudin Samon Deran, Kepala Desa Pledo.

Dia mengatakan kunjungan Bupati Lembata di Dusun Meko dirasa cukup bermanfaat. Banyak informasi dan pengetahuan tentang pariwisata.

“Ini sharing informasi. Sharing pengetahuan agar kita dapat bersinergi membangun Flores Timur da Lembata,” ungkap Samon Deran.

Saat berjalan mengelilingi  Dusun Meko, demikian Samon Deran, banyak hal yang disampaikan oleh Bupati Lembata terkait rencana pengembangan pariwisata.

“Dan tadi di sana, Beliau juga menemukan hamparan cemara laut. Beliau memberikan informssi tambahan tentang Cemara laut. Dan pengembangan sebagai sebuah destinasi wisata. Dia meminta untuk dikembangkan. Dipelihara. Dia yang memberi nama taman tadi. Namanya Taman Cemara Meko,” ungkap Kades Samsudin.

Bupati Lembata sempat mengabadikan beberapa foto di dalam Taman Cemar Meko yang dilatari bukit Meko sebelum kembali ke kapal dan menyinggahi Pulau Meko di tengah laut lalu kembali Ke Lewoleba.  ***

sandro wangak



Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *