suluhnusa.com – Pergumulan terberat yang harus dihadapi orang yang percaya kepada Tuhan adalah ketika ia harus memilih antara melepaskan miliknya dan mengikut Tuhan atau memegang miliknya dan meninggalkan Tuhan.
Oleh karena selama manusia masih hidup di dunia ini, ia selalu ingin memiliki sesuatu yang bisa menjamin atau mengamankan hidupnya. Milik itu bisa berupa harta benda, status dan kedudukan, kepandaian atau relasi kekeluargaan yang kuat yang dapat melingkupi dan melindunginya.
Itulah sebabnya, keterikatan pada milik tersebut membuat orang percaya akan berpikir seratus kali, bahkan ribuan kali, untuk melepaskan miliknya demi mengikut Yesus.
Meminjam istilah Budhisme, inilah yang disebut “lobha” atau “kemelekatan” manusia terhadap miliknya, yang menyebabkan dirinya kehilangan orientasi hidup dan kebahagiaan yang sejati.
Bagi Tuhan Yesus, tidak ada logika both – and (baik ini maupun itu) dalam Kerajaan Allah, melainkan hanya either – or (pilih ini atau itu). Itulah sebabnya, melalui pilihan tersebut Ia menantang para pengikut-Nya untuk mempertimbangkan dan memutuskannya secara sadar agar kelak mereka tidak kecewa ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan saat mengikuti diri-Nya.
Reflektif, tantangan yang sama selalu Tuhan ajukan, ketika kita memilih untuk mengikut-Nya.
Tanggal 2 september 1920 lahir seorang anak perempuan di kampung San Rocco del Porto, di tepi sungai Po(sungai terpanjang di Italia), Propinsi Lodi, wilayah Lombardia Italia Utara.
Bayi mungil itu diberi nama Marianna.
Pada usia lima thn dia di asuh oleh tantanya dan diapun harus pindah mengikuti keluarga baru dn tinggal di kota Milan.
Marianna bertumbuh sehat seperti anak2 lain. Kemudian dia masuk sekolah SD, sesudah itu ke SMP dan melanjutkan ke SPG. Sesudah tamat dia menjadi guru. Kemudian pecalah perang dunia II. Semua sekolah ditutup.
Dia ikut wajib militer dan bekerja di Balai Kota karena para pegawai ikut berperang dn ada di medan pertempuran. Tiap hari dia membagi roti bagi yang membutuhkan. Sesudah perang pd thn 1946 Marianna merasa terpanggil oleh Tuhan untuk masuk biara. Dia melepaskan keluarga, pekerjaan, teman-tema dan masuk biara Passonis di Ovada Italia.
Sepanjang jalan dia menyaksikan sendiri sisa sisa perang. Puing – puing kehancuran karena bom, pertanian yang tak terurus dan kemelaratan dimana mana. Alat alat transportasi pun sangat sulit dan di jalan tertentu dia terpaksa minta numpang dikendaraan militer yang sedang patroli.
Syukur Marianna bersama temanya tiba dengan selamat dibiara.
Tahun ini, 2019, genap 73 tahun beliau hidup membiara. Dia mempersembahkan hidupnya bagaikan kurban suci di altar kehidupan sehari – hari melalui doa dan laku tapa.
Dia sangat bahagia bahkan tiap hari, hidupnya dibiara dia merasa seperti hari pertama masuk biara.
Dia sendiri mengatakan: “Mengikuti Yesus itu indah. Selalu ada hal baru karena Allah hadir ditengah kita.”
Hari ini dia merayakan ulang tahunnya ke 99. Dengan penuh syukur Madre panjatkan kehadirat Tuhan Sang pemberi kehidupan atas segala kurnia yang dia terimah sampai detik ini. Dan kamipun turut berbahagia atas kurnia umur panjangnya. Kalau Tuhan menghendaki, tinggal setahun lagi Madre Matilde, nama susternya akan merayakan 100 tahun. Tidak semua orang bisa mencapai umur ini.
Kami semua mengucapkan bagi Madre Matilde: “Selamat Ulang Tahun, semoga berkat dan kasih Tuhan senantiasa menemanimu selalu. Doa2 dn kasih sayang kami selalu bersamamu.”
Sebab motivasi mengikuti Tuhan bukan untuk mencari kemakmuran, keteneran nama dihadapan Tuhan, tetapi disebutkan dalam kitab Nabi Yesaya bahwa Allah memang melakukan yang terbaik bagi orang-orang yang mengikutinya.
Italy, 2 September 2019
Sr. Yuliana Kidi, CIP


