suluhnusa.com – Dibalik kisah kegagalan banyak Desa memanfaatkan Dana Desa, NTT ternyata menyimpan sejumlah kisah tentang Desa berprestasi.
Marten Ragowino Bira,SS, Kepala Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, NTT misalnya, berhasil membawa Kampung adat Prai Ijing menjadi Desa Wisata berkelas Dunia. Sejak memangku jabatan sebagai kepala Desa Tebara, Marthen beriktiar menjadikan Desanya tempat orang hidup, berkarya dan bergembira. Desa Bukan lagi menjadi tempat bermukim bagi orang orang lemah dan tak berdaya.
Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, NTT, saat ini menjadi Ikon Wisata di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi NTT.
Pasalnya, Desa yang memiliki Kampung Adat Prai Ijing ini telah telah mendunia berkat kucuran Dana ADD yang digelontorkan pemerintahan RI, Jokowidodo-Jusuf Kalla. Tak hanya itu, Dana Desa yang dikelolanya dengan baik berhasil memacu pendapatan asli desa.
“Saya mengelola Dana Desa dari Tahun 2016 sewaktu menjadi Kepala Desa PAW Rp. 750. 722. 000, Tahun 2018 sebesar Rp. 1. 264. 204. 890, Tahun 2019 sebesar Rp. 1. 377. 094. 000. Karena Dana Desa hadir sebagai stimulan saja agar muncul usaha usaha Produktif sehingga akan terbuka banyak peluang kerja, Memutar Roda ekonomi, sekaligus menghasilkan PADES,” ujar Marthen Ragowino Bira.
Suami dari Theresia Wolu, serta ayah dari Aceline Angela Genya Bira, dan Juan Trystan Tobu Bira ini mulai memuat program yang mengangkat potensi Desa dan dimanfaatkan untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.
Pria Lulusan Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma Jogjakarta ini, mulai mengembangkan 5 unit usaha. Ia menamakan Bumdesnya Iyya Tekki, yang berarti Satu Suara . Unit Usaha Bumdesa Iyya Tekki Desa Tebara yakni Pengelolaan Kampung Wisata Prai Ijing, Pengelolaan Danau Wisata Alami Weeboro sebagai Objek Wisata Air, Pelayanan Simpan Pinjam untuk Usaha Produktif bagi Warga, Pengelolaan Pasar Desa dan Pengelolaan Lumbung Desa.
“Saya mulai membentuk Badan usaha Milik Desa (Bumdes) Iyya Tekki untuk mengelola Wisata Budaya Kampung Adat Prai Ijing yang di mulai pada 2 Juli 2018 dengan penghasilan Bersih selama 5 bulan di Tahun 2018 sebesar 170 juta Rupiah dan menghasilkan PADES Rp. 51.308.000. Dari Pengelolaan
Kampung Adat Prai Ijing sebagai tempat wisata, selain menghasilkan PADES jug Membuka lapangan kerja bagi 60 orang warga masyarakat baik Pemuda Pemudi sebagai tenaga kerja Produktif dan warga usia lanjut dengan penghasilan sehari rata rata Rp. 35.000 per orang,” ujar mantan Editor pada percetakan Gramedia, Jakarta itu.
Tak berhenti di situ, Untuk membantu meningkatkan SDM warganya, Marthenpun bekerjasama dengan sejumlah Lembaga kredibel dari Jakarta.
“Kita melakukan Penguatan Kapasitas Petugas Desa Wisata (Guide, Petugas Loket, Parkir, Petugas Kebersihan, Juru Masak Kuliner, Petugas Homestay), bekerja sama dengan Prita Laura dkk, dari Universitas Podomoro Jakarta, Indonesia International Work Camp (IIWC), Felencia Hutabarat dkk, Co Working Space KEKINI, Tim Halo Sumba Universitas Airlangga Surabaya, Tim LPM Univ Sanata Dharma Jogjakarta. Semua dibiayai dari Dana Desa,” ujar Marthen ketika menghubungi media ini, Kamis (22/8).
Berkat kerja keras dan perjuangannya, Desa Tebara ditetapkan sebagai Desa Percontohan Program Prioritas Nasional Tahun 2018 dalam kategori Pengelolaan Keuangan Desa, Aset Desa dan Inovasi Desa. Penghargaan diterima di Jakarta tanggal 17 Januari 2019. Penghargaan diberikan oleh kementerian Keuangan RI.
“Saya selalu berpikir, hal penting dalam Pengelolaan Keuangan terutama dana Desa adalah soal TRANSPARANSI yang utama. Tetapi setelah kita Mengelola Keuangan dengan baik sekaligus Transparan, Kita perlu melihat sisi yang paling penting, Yaitu EFEK MANFAAT atau NILAI GUNA dari adanya Dana Desa. Contohnya, apakah Bangunan Fisik yang di bangun itu Produktif dan Membuka Lapangan Kerja Baru atau tidak.
Meski sudah berhasil memberikan pegangan hidup bagi 60 warga di Desanya, Lelaki kelahiran 4 Mei 1979 itu, masih berjuang Membuka lapangan kerja untuk lebih banyak lagi rakyatnya.
“Saya ingin Desa Tebara menjadi Desa Mandiri dengan Memanfaatkan Sumber Daya Lokal, Terbuka Lapangan Kerja Produktif bagi masyarakat, berputarnya Sektor Ekonomi Riil sehingga akan Menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADES). Kali ini saya targetkan 500 Juta PADES dari desa Tebara,” kata Marthen.
hosea
