suluhnusa.com-Orang NTT dibuat tersinggung oleh Linus Lusi. Mantan guru Sekolah Dasar yang menulis Buku Garis Merah pendidikan seri Benarkah Orang NTT itu Bodoh ??
Pertanyaan yang yang menjadi judul buku seri pertama ini dilontarkan oleh pemimpin umum Pos Kupang, Damian Godho tahun 2009 silam.
Pertanyaan ini menggelitik. Juga menghasut rasa orang NTT untuk tersinggung.
Benarkah orang NTT itu Bodoh, demikian kata Damian Godho. Kalimat ini mengusik nurani seorang Guru Sekolah Dasar. Namanya Linus Lusi. Dia lalu menulis opini di Pos Kupang dengan judul Garis merah Pendidikan.
Tidak hanya itu, Linus tetap merasa terusik. Sebaga guru dia tersinggung. Dan menjadikan sekitat 200 judul opininya yang pernah dimuat di berbagai media massa itu menjadi sebuah buku. Garis Merah Pendidikan, seri I, Benarkah Orang NTT itu Bodoh ?. Begitulah judul buku yang disunting oleh Sandro Balawangak, Pemred suluhnusa.com, satu satunya media online yang ber ISSN di Bali Nusra.
Kepada Pos Kupang, Sabtu, 01 Oktober 2016, Linus Lusi mengungkapkan, dirinya sejak tahun 2003 mulai menulis opini pendidikan.
“Dan saya memilih fokus menulis opini pendidikan karena saran dari pa Toni Kleden dan Dion. Stanly Boymau juga selalu mendorong saya untuk fokus di opini pendidikan”, kisah Linus.
Terkait buku yang diakan diluncurkan pada pertengahan Oktober 2016 mendatang, Linus menjelaskan, buku ini sebagai autokiritik dirinya sebagai seorang guru Sekolah Dasar yang tidak mau mendengar bahwa orang NTT iti bodoh.
Apa yang salah dari pendidikan di NTT.? Menurut Linus, kurikulum boleh bagus, kesejahteraan guru boleh baik, sarana pra sarana boleh bagus, program boleh mentereng tapi kalau miskin komitmen pendidikan di ntt akan tetap berada di garis merah.
“Kita orang NTT, miskin komitmen”, tegas Linus.
Untuk itu, dia sengaja menulis buku Garis Merah
Pendidikan seri Benarkah Orang NTT Iti Bodoh ??, agar menggugaj ketersinggungan orang NTT seluruhnya untuk komit membawa pendidikan di NTT menjauhi garis merah.
Buku ini juga dikimentari oleh beberapa pembesar media sebagai bentuk dukungan atas kemajuan pendidikan di NTT. Sebut saja, Dami Godhi, Toni Kleden, Dion Putra, Sandro Balawangak.
Bahkan, Danel Hurek sebagai akademisi politisi pendidikan juga ikut memberikab andorsment. Juga Maksimus Masan Kian dan Alfred Ezra Tnuname, para penulis muda potensial.
Menariknya dari buku ini adalah menyajikan fakta bersanding dengan referensi sehingga ada ide bernas yang muncul dalam buku ini. Bukan sekedar mengkritik tanpa solusi. Ada ribuan solusi konstruktif yang dilahirkan Linus dalam buku yang dicetak atas dukungan Pos Kupang, Timex, Kursor, suluhnusa.com, Kabar NTT, Teras NTT dan Teropong NTT itu.
Siapa itu Linus Lusi, dia dilahirkan dari keluarha petani. Tapi tidak menyurutkan niatnya mengenyam pendidikan. Menyadari akan Keterbatasan ekonomi keluarga, Linus menjadi loper Koran Kompas untuk membiayai pendidikan sampai meraih gelar akademik sarjana pendidikan.
Hebatnya, niat Linus untuk mengenyam pendidikan saat itu demikian besar, dua gelar sarjana diraih dalam tahun yang sama. Sarjana Pendidikan olaraga dan sarjana Pendidikan Sejarah.
Linus, anak kampung tiga bersaudara, dilahirkan di Desa Waiwaru, Lembata, 28 September 1972. Sejak kuliah menjadi aktivis di PMKRI, API Reinha dan AMMAPAI Kupang.
Fokus menulis opini pendidikan sejak tahun 2003, saat dirinya masih sebagai Guru Kelas. Karena menulis itulah, Linus meraih prestasi menjadi guru berprestasi tingkat nasonal 2005 dan kepala sekolah berprestasi 2009.
Berprestasi menulis Calistung terbaik Nasional oleh Lembaga Mitra Indonesia dan Australis 2008. Fokus menulis pendidikan dan publikasi di beberapa media.
Sampai dengan saat ini Linus tetap menulis. Terutama fokus menulis pendidikan. Sebab, baginya menulis seibarat kebutuhan makan dan minum.
Dan karena itu, Linus ingin menyinggung Orang NTT dengan bukunya, Garis Merah Pendidikan Seri Benarkah Orang NTT itu Bodoh ?

keren…..salute