suluhnusa.com-“Kebangsaan kita hanya jembatan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna, bukan untuk memuaskan diri sendiri kita… Kebangsaan kita hanya satu roman dari pembaktian diri kita kepada kemanusiaan…”, demikian ujar Sjahrir pada suatu ketika. Bagi Sjahrir, derajat kemanusiaan itu sangat penting untuk manusia Indonesia.
Derajat kamanusiaan dimengerti sebagai kemanusiaan yang universal. Kemanusiaan itu adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil karena manusia harus mengakui hak-hak orang lain; beradab karena manusia harus baik kepada semua manusia lain.
Jean Jacques Rousseau, filsuf Prancis, pernah menulis mengikuti Plato bahwa “manusia pada dasarnya baik dan karena institusilah dia menjadi jahat”. Dalam kepolosan manusia lahir ke dunia dan baik adanya. Ketika ia masuk dan bergaul dalam pranata atau institusi sosial/politik, ia mulai berubah. Manusia berubah seturut horison pergaulan, pelajaran dan pengalaman. Dalam kemenjadiannya, manusia bisa baik, bisa juga jahat.
Seperti Sjahrir, dalam bernegara dan berbangsa, Indonesia hanya “komunitas banyangan” (imangined community) yang menjadi menjambatan untuk memperjuangkan derajat kemanusian yang adil dan beradab. Dalam komunitas Indonesia, kita semua satu meski berbeda-beda.
Keberbedaan itu lahir dalam sejarah bangsa yang panjang. Refleksi atas kejayaan dan perang membuat bangsa yang berbeda-beda suku, etnik, adat, agama dan golongan berkonsensus untuk hidup dalam satu ideologi dan konstitusi: Pancasila dan UUD 1945.
Dari refleksi kita menuju praksis. Dari sejarah kita menulis harapan. Per memoar ad spem. Harapan itu dimanifestasi dalam usaha bersama mewujudkan kesejahteraan.
Kesejahteraan dimengerti dalam pemenuhan hak ekonomi, hak politik, sosial, dan budaya. Orang Prancis meramunya dalam istilah liberte, egalite dan fraternite : kebebasan, kesamaan dan kebersaudaraan. Manusia hanya akan lebih baik jika nilai-nilai itu tidak hanya berhenti sebagai slogan.
Kebebasan, kesamaan dan kebersaudaraan merupakan nilai yang membuat manusia terhindar dari hasrat “kebinatangan” (animal).
Filsuf pencerahan Italia Giovani Pico della Mirandola dalam bukunya “On The Dignity of Man” (1486) pernah membuat argumentasi bahwa “the elevated status of human beings consists not in the possession of some fixed nature but in the capacity for free choice…to use this freedom in order to distance ourselves from our animal desires, and to aspire to the condition of the angels…”
Menjadi manusia berarti menjadi bebas: bebas memilih dan bebas membuat keputusan. Yang pasti, dalam kebebasan itu manusia menghargai hak hidup orang lain. Jadi kemanusiaan berarti bebas sekaligus menghargai hak hidup orang lain.
Ada banyak pemikiran yang nyambung dalam kubangan humanisme. Ada yang theistik, ada pula yang atheistik. Ada St. Agustinus, St. Thomas Aquinas, Marx, Sartre, Marleau Ponty, Heidegger, Hannah Arent dan lain sebagainya. Dibalik semua itu keyakinan seperti sastrawan Rusia Dostoyevsky sangat penting, “i love mankind but i find to my amazement that the more i love mankind as a whole, the less i love man in particular” (dalam novel The Brothers Karamazov): mencintai kemanusiaan dalam keseluruhan eksistensi manusia.
Dalam konteks “down to earth”, jamianan keselamatan manusia ada pada penghargaan terhadap hidup orang lain. Seseorang menghargai dan menghormati kemanusiaan seseorang bukan karena status kewarganegaraan, indentitas KTP, status sosial, agama dan etnik.
Kemanusiaan hanya semakin abadi bila manusia meretas perbedaan itu. Sebagai misal, adalah sungguh aneh dan tidak berperikamusiaan jika pelayanan sebuah Rumah Sakit Umum Daerah mensyaratkan indentitas kewargaan setempat (KTP setempat) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Bukankah setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan dan jaminan kesehatan?
Seorang manusia semiskin dan sesederhanaan apa pun dia, dia tetap seorang manusia yang harus mendapatkan perlakuan yang sama. Di mana ada perbedaan, di situ kemanusiaan harus benar-benar terwujud.
Mari kita ingat mas Moek, sapaan Pramoedya Ananta Toer, dalam novel “Bumi Manusia” (1980), “jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput”.
Kebangsaan Indonesia tak pernah kemput tanpa peningkatan derajat kemanusiaan. Marilah merayakan kemanusiaan kita demi manusia itu sendiri, bukan untuk apa-apa.
Borong, 2016
Alfred Tuname
Direktur Lembaga Neralino (Network On Reform Action for the Well-being of Indonesia)
