Oring Bele, Desa Yang Terisolir Di Flotim

Home » Berita » Humaniora » Oring Bele, Desa Yang Terisolir Di Flotim

suluhnusa.com_Oring Bele Gunung ini identik dengan susah. Jalan rusak, ketiadaan sumber air bersih, listrik tidak ada, biaya transportasi mahal, polindes tidak punya. Semua serba sulit.

Oring Bele Gunung merupakan sebuah wilayah terpelosok di Adonara bagian timur.

Secara administrasi pemerintahan, menjadi bagian dari Dusun Lewobelolon Desa Tuwagoetobi Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur (Flotim) NTT. Lokasinya berada persis di ‘punggung’ Gunung Ile Boleng.

Topografi ini membuat warga serba sulit dalam segala aktivitas hariannya. Ada dua puluh tujuh (27) Kepala Keluarga (KK) dan kurang lebih enam puluh (60) warga bermukin di tempat ini.

Untuk akses ke Desa Tuwagoetobi, warga harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 km melalui jalan setapak di sisi barat. Sementara jalan raya di sisi timur, yang dibuka warga beberapa tahun lalu hanya bisa dilalui oleh warga yang memiliki kendaraan sepeda motor.

Jalan dibuka secara swadaya oleh masyarakat sejauh kurang lebih 5 km dan yang sudah disemenisasi 1 km. Selebihnya jalan tanah berbatu.

Kondisi jalan saat ini memprihatinkan. Banyak lubang menganga dibadan jalan akibat abrasi air hujan. Batu yang dipadatkan terlepas dan tercecer tak karuan pada sisi kiri kanan jalan. Sangat beresiko bagi siapa saja yang berkendaraan roda dua melintasi jalan ini. Rumput mulai tumbuh di badan jalan. Jika tidak segera disemenisasi, ruas jalan ini akan tertutup kembali oleh tumbuhnya rumput yang dari hari ke hari semakin tinggi.

Kunjungan Asosiasi Guru Penulis Indonesia ( Agupena) Cabang Kabupaten Flores Timur (Flotim) Selasa 31 Mei 2016 menemui anak – anak Oring Bele Gunung dalam Gerakan Katakan Dengan Buku (GKDB) melewati jalan ini.

Sungguh menantang, dan menguji nyali. Tidak semua orang mampu menembusi jalan yang curam, dan terjal hingga tiba di perkampungan Oring Bele Gunung. Butuh keberaniaan.

Sungguh sulit kehidupan warga di tempat ini. Selain transportasi, kesulitan juga terasa di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Untuk bisa menjual hasil komoditi ke Pasar Waiwerang Kecamatan Adonara Timur yang merupakan pusat pasar di Adonara, warga harus berjalan kaki sejauh 5 km ke Desa Tuwagoetobi untuk mendapatkan angkutan pedesaan. Tarif angkutan pedesaan dari Desa Tuwagoetobi ke Waiwerang Rp.20.000. Pergi pulang Rp.40.000 Jika menggunakan jasa ojek Oring Bele- Waiwerang, warga harus merogoh kocek Rp.50.000 untuk bisa sampai ke Waiwerang. Pergi dan pulang Rp. 100.000, diluar biaya barang muatan.

Karena mahal, jasa ojek jarang digunakan warga. Dalam kondisi terdesak misalnya menghantar ibu hamil untuk melahirkan, warga terpaksa menggunakan jasa ojek. Bagi warga yang membeli bahan bangunan seperti semen, besi, seng, dll harus rela memikul sendiri dari Desa Tuwagoetobi ke tempat mereka. Tidak ada angkutan pedesaan yang bisa sampai di Oring Bele Gunung.

Ditempat ini, berdiri sebuah Sekolah Dasar (SD) yang diberi nama SDN Oring Bele Gunung. Jumlah siswa yang sementara belajar di sekolah ini sebanyak 42 orang. Mereka diasuh oleh 9 orang guru terdiri dari 5 guru Pegawai Negeri Sipil ( PNS) dan 4 tenaga honorer.

Ketiadaan listrik, membuat siswa kesulitan untuk belajar. Pernah ada bantuan listrik tenaga sinar matahari yang sasarannya untuk warga Oring Bele Gunung namun sampai di Desa Tuwagoetobi, peruntukan bantuan ini, tidak lagi sesuai dengan rencana awal. Pemerintah desa justru memberikan bantuan itu kepada warga lain yang sebenarnya kurang membutuhkan.

Pelita menjadi satu – satunya sumber penerangan warga Oring Bele Gunung. Siswa kesulitan untuk belajar pada malam hari. Menurut Aleksander Muli Boli, (34) guru pada SDN Oring Bele Gunung, anak – anak sekolah pada malam hari memilih tidur lebih awal ketimbang belajar, karena ketiadaan penerangan listrik.

“Anak –anak SDN Oring Bele Gunung pada malam hari lebih cepat tidur. Pilihan ini dilakukan oleh anak –anak karena malam hari gelap. Pada rumah –rumah tertentu, pelita hanya dinyalahkan saat makam malam untuk menghemat minyak tanah. Kondisi ini bertahan dari tahun ke tahun,’ kata Aleks.

Di bidang kesehatan, Oring Bele tidak memiliki Pustu sebagai pusat pelayanan kesehatan. Warga yang sakit, ibu yang melahirkan, terpaksa harus berjalan kaki ke Desa Tuwagoetobi, dan desa tetangga, Desa Riangduli, dan Desa Watoone Kecamatan Witihama untuk mendapat pelayanan kesehatan di Pustu dan Puskemas. Yang tragis adalah ibu hamil yang hendak melahirkan. Akibat kesulitan dalam perjalanan menuju ke Pustu terdekat, tak jarang ibu hamil terancam melahirkan didalam perjalanan. Kondisi seperti itu pernah dialami oleh Ibu Kresensia Anu Kolon warga Oring Bele Gunung. Dalam penuturannya di Oring Bele, 31 Mei 2016.

Ibu Kresensia mengaku nyaris melahirkan dalam perjalanan Oring Bele- Riangduli menggunakan ojek untuk partus di Desa Riangduli.

”Saya tidak malu menceritakan hal ini. Jujur, saya tahun kemarin nyaris melahirkan dalam perjalanan menggunakan ojek dari Oring Bele menuju ke pustu Riangduli. Tahu sendiri kondisi jalan dari Oring Bele. Kehidupan kami serba sulit. Pengalaman saya ini dikemudian harinya pasti dialami juga oleh ibu- ibu yang lain jika jalan tidak segera diperbaiki. Kami minta perhatian dari pemerintah atas kesulitan yang kami alami ini,’pungkas Kresensia.

Untuk pelayanan kesehatan anak, terdapat Kader Kesehatan yang melayani kurang lebih puluhan anak.

Kondisi tanah yang kering di Oring Bele saat musim kemarau (foto; masankian)
Kondisi tanah yang kering di Oring Bele saat musim kemarau (foto; masankian)

Pelayanan kesehatan anak seperti imunisasi digunakan halaman rumah warga. Sekian tahun Margareta Benga Doni mengabdikan dirinya sebagai kader kesehatan di Oring Bele Gunung. Tugas ini ia jalankan, selain mengabdikan dirinya sebagai guru pada SDN Oring Bele. Dalam tugasnya sebagai kader kesehatan, Margareta melakukannya dengan sukarela dan tidak mengharapkan insentif.

“Saya kerja sukarela. Ini menjadi bagian dari pengabdiaan saya untuk anak-anak Oring Bele Gunung. Saya tidak mengharapkan untuk diberikan insentif. Pelayanan saya dengan hati,’ kata Margareta.

Kesulitan warga Oring Bele tak sampai disitu saja. Air bersih hampir tidak dinikmati oleh warga Oring Bele Gunung. Untuk minum dan memenuhi kebutuhan lainnya setiap hari, warga Oring Bele hanya bisa mengandalkan air hujan. Ada dua bak besar yang dibangun pada tahun 1983 persis di samping Kapela St. Pangkrasius Oring Bele digunakan untuk menampung air hujan.

Setiap musim hujan tiba, warga menampung air di dua bak itu menggunakan talang yang terbuat dari bambu. Tirisan air pada seng kapela Pangkrasius ditampung di dua bak tersebut. Air yang terkumpul dimusim hujan, digunakan untuk minum pada musim kemarau. Kondisi bak inipun dari tahun ke tahun semakin parah. Terdapat beberapa titik mulai bocor halus menyebabkan air merembes pada dinding bak.

Wilayah Oring Beleng tergolong subur. Banyak komoditi unggul seperti kacang tanah, kelapa, mente dan pisang kita jumpai di tempat ini. Namun tidak seberapa keuntungan yang didapat. Biaya kendaraan untuk memuat hasil komoditi ke pasar cukup mahal.

Warga pasrah dengan kondisi yang mereka alami. Keluhan tentang kesulitan mereka sudah disampaikan ulang – ulang, baik lewat forum rapat desa, ataupun saat ada reses anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), namun permintaan itu sepertinya diabaikan.

“Oring Bele Gunung ini identik dengan susah. Jalan rusak, ketiadaan sumber air bersih, listrik tidak ada, biaya transportasi mahal, ketiadaan polindes, membuat hidup kami dari hari ke hari semakin susah. Ke mana kami harus mengadu dan kapan kami bisa diperhatikan? keluh Lambertus Lame Babe tokoh adat Oring Bele Gunung.

Menurut Lambertus, banyak janji yang telah diiming – imingkan oleh pemerintah untuk bisa meningkatkan kesehjateraan warga Oring Bele Gunung terlebih perhatian soal jalan, namun janji itu belum ditepati.

“Banyak janji pemerintah untuk membangun jalan menuju ke kampung kami, namun janji itu hanya tinggal janji. Jalan sejauh 5 km dengan kondisi yang terjal dan curam ini hanya disemenisasi 1 km. Rasanya sakit kalau janji janji itu tergiang di telinga. Prihatin juga dengan kondisi kehidupan kita seperti ini. Saya bahkan malam haripun sendirian harus turun membersihkan jalan, meratakan tanah, dan menyusun batu di jalan ini. Kenapa? karena saya dan seluruh warga di Oring Bele, sangat merindukan jalan yang bagus yang memudahkan trasportasi,’kata Lambertus.

Anton Ola Beda, Tokoh masyarakat Oring Bele bahkan mengatakan warga Oring Bele sesungguhnya belum merdeka.

“Kemerdekaan Indonesia yang sudah sekian lama ini, bagi warga Oring Bele hampir tidak terasa. Akses jalan yang sulit menjadi faktor yang paling mendasar keterbelakangan wilayah kami. Perusahan Listrik Negara (PLN) hanya bisa kami dengar dan sebut, namun sumber listrik dari PLN tidak pernah kami nikmati. Anak – anak kesulitan untuk belajar. Beberapa ibu hamil nyaris melahirkan di jalan karena akses jalan yang rusak. Kami orang bodoh ini kadang berpikir negara ini banyak aturan, namun tidak mesehjaterahkan rakyatnya,’kata Anton.

Nasib warga di wilayah – wilayah pelosok, sepatutnya menjadi fokus perhatian pembangunan. Ukuran keberhasilan dalam pembangunan di daerah mestinya dilihat dari seberapa jauh peran pemerintah membawah keluar kesulitan yang dialami oleh warga dan menghantar mereka meraih sejahtera.

Warga Oring Bele Gunung juga mempunyai hak untuk mendapat kue pembangunan dari pemerintah. Mereka adalah bagian dari Kabupaten Flotim, NTT dan Indonesia.

Maksimus masan kian
Orang Adonara

Ketua Agupena Flotim

Bagikan:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *