suluhnusa.com_Satu komoditas perikanan lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi di samping udang yang dibudidayakan di tambak ikan bandeng (Chanos chanos Forsk) baik untuk konsumsi domestik dan ekspor ke negara-negara asing dalam bentuk segar maupun olahan. Bandeng juga Memiliki manfaat kesehatan.
Kegiatan budidaya ikan bandeng di tambak telah dikembangkan untuk waktu yang lama, hal ini didukung oleh potensi sumber daya alam yang sangat baik, terutama ketersediaan benih ikan bandeng (Nener) baik secara alami atau dari hatchery dalam Keperawatan – Keperawatan Hatchery (Hatchery), tapi produksi dan produktivitas relatif masih rendah.
“Rendahnya produksi dan produktivitas antara lain disebabkan terbatasnya pengetahuan dan keterampilan tentang teknis ikan petani ikan budidaya bandeng yang perlu diperbaiki, antara lain, melalui Technical Reference Guide Budidaya bandeng,” ungkap Ketua Kelompok Tite Hena, Leonardus Kebung Emar di sela sela panen Perdana Bandeng di Lewoleba, 27 Maret 2015.
Menurut Leonardus, Bandeng merupakan ikan yang tinggi protein. Bandeng merupakan ikan yang mengkonsumsi tumbuhan dengan berat rata-rata 0,6 kg pada usia 5-6 bulan.
Bandeng dalam bahasa Inggris (Chanos chanos), disebut ikan bandeng menetas di laut dalam, setelah menetas 2-3 minggu kemudian bermigrasi ke tepi, pantai dan bakau-bakau dan kembali lagi ke laut tengah untuk berkembang biak.
Dan Kelompok tambak Bandeng Tite Hena memanfaat Bakau disekitar Pantai Lamahora untuk budidaya bandeng. Dengan luas areal tambak 10 x 40 dua kolam dan 10 x 30 dua kolam, tambak Ikan Bandeng milik Kelompok Tite Hena mampu menghasilkan 1500 ton ikan bandeng.
“Ikan Bandeng hasil budidaya kami satu ekor berat 500 – 700 gram,” ungkap Leonardus.
Pengalaman dari bangku pendidikan memang tidak ada untuk budidaya bandeng. Mengandalkan pengalaman dari peranatauan kelompok Budidaya Bandeng Tite Hena mampu member inspirasi bagi banyak orang.
Sebut saja misalnya, Anggota DPRD NTT, Alex Ofong dan Gabriel Suku Kotan pun meluangkan waktu untuk ikut melakukan panen perdana bandeng, 27 Maret 2015 lalu.
Bentuk tubuh bandeng ramping seperti torpedo dan berenang cepat, keperakan putih dan biru dalam sisi kulitnya. ikan ini pemakan tumbuhan plankton ganggang, lumut, klekap (herbivora) yang tumbuh di dasar perairan. Ikan ini dibudidayakan untuk konsumsi rumah tangga dan restoran dalam bentuk susu kari, digoreng, direbus, asap dan panggang.
Alex Ofong dalam sambutannya mengungkapkan dirinya bersama anggota DPRD NTT Dapil Lembata akan memberikan bantuan dalam penyusunan APBD I nanti untuk membantu mengembangkan budidaya tambak di Lembata.
Sebab menurut Ofong apa yang dilakukan oleh kelompok Tite Hena ini mampu melahirkan inspirasi bagi masyarakat Lembata lainnya untuk ikut mengembangkan usaha kecil menengah dalam bidang tambak. (sandrowangak)
