suluhnusa.com_Karnaval di Kabupaten Flores Timur tahun 2016 tidak berlangsung seperti biasanya.
Jika tahun – tahun sebelumnya peserta karnaval hanya didandani dan “berjalan manis” sepanjang rute perjalanan, tahun ini tidak demikian. Ada barisan anak kampung yang menampilkan nuasa dan warna yang berbeda. Mereka adalah siswa dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Lewolema.
Sekolah yang berlokasi di Dusun Welo Desa Painapang Kabupaten Flores Timur atau berjarak kurang lebih 15km dari Kota Larantuka ini menjadi satu- satunya peserta karnaval dari luar Kota Larantuka.
Dari kampung bukan berarti mereka “kampungan”. Kehadiran mereka sebagai peserta karnaval yang pertama kali sejak sekolah ini berdiri pada 18 Mei 2015 mampu mengangkat 3 tema yang memberi pengaruh positif kepada pelajar lain di Kabupaten Flores Timur secara khusus dan masyarakat Flores Timur pada umumnya.
Tiga gerakan yang mereka angkat diantaranya Gerakan Literasi, Gerakan Sanitasi dan Gerakan Menulis di kalangan pelajar. Tentang gerakan literasi (membangun budaya membaca) sepanjang perjalanan siswa membaca koran, majalah, dan buku sambil mengkampanyekan kebiasaan membaca dengan membagikan koran Pos Kupang dan selebaran yang berisi ajakan untuk mencintai aktivitas membaca.
Warga nampak antusias menyambut aksi anak –anak kampung ini. Melangkah pasti menyambangi sekian warga di pinggir kiri dan kanan jalan membagikan koran sambil menyampaikan ajakan untuk gemar membaca.
Sebagian isi selebaran yang dibagikan, mengajak orang tua untuk menyediakan waktu membaca nyaring kepada anak secara rutin, menjadikan rumah yang ramah buku dengan memberi kesempatan kepada anak memilih bukunya sendiri, menyediakan rak/ keranjang buku di rumah yang dapat dijangkau anak untuk menyimpan buku, mengajak anak mengunjungi perpustakaan, mengunjungi toko buku, pameran dan even buku lainnya.

Berlanganan bahan – bahan bacaan anak- anak, orang tua diajak untuk bisa mendongeng kepada anak, menjadikan buku sebagai hadiah untuk anak – anak pada pristiwa yang dialami anak seperti ulang tahun juga mendorong dan mendampingi anak untuk menghasilkan karya (mengarang, puisi, gambar,dll) yang dapat dipublikasikan di media massa.
Pada barisan sanitasi nampak beberapa siswa dilengkapi dengan sapuh, dan tempat sampah yang sudah dipisahkan ( tempat sampah organik dan anorganik) mereka melakukan pembersihan di jalan dan memungut sampah (sampah yang dibuang peserta karnaval lainnya) kemudian memisahkan antara sampah organik dan anorganik. Satu kondisi riil yang ditemukan adalah kurangnya tong sampah di pinggir jalan.
Siswa mampu memungut dan membersihkan sampah namun kesulitan membuangnya. Praktis hanya ada dua tempat sampah yang masih bisa dipakai yakni di depan Pasar Inpres Larantuka.
Kebersihan lingkungan kota sangat penting dalam mendukung kualitas kesehatan. Kebersihan kota menjadi tanggungjawab bersama mulai dari pihak pemerintah hingga unsur warga yang paling bawah yakni keluarga. Lingkungan bersih merupakan dambaan semua orang. Namun tidak mudah untuk menciptakan lingkungan kita bisa terlihat bersih dan rapih sehingga nyaman untuk dilihat.
Tidak jarang karena kesibukan dan berbagai alasan lain, kita kurang memperhatikan masalah kebersihan lingkungan di sekitar kita, terutama lingkungan rumah. Budaya membuang sampah di halaman rumah, di jalan dan selokan, menyebabkan lingkungan yang bersih sulit dicapai. Kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya meski mulai dihilangkan untuk bisa menghasilkan lingkungan yang bersih.
Lingkungan yang bersih menjamin kualitas kesehatan. Ini adalah kata – kata ajakan yang termuat dalam selebaran yang dibagikan kepada warga dalam membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.
Bagian lain ajakan ini memuat tips dan trik menjaga kebersihan lingkungan diantaranya menjaga kebersihan lingkungan harus dimulai dari pribadi kita masing- masing Paling sederhana buanglah sampah pada tempatnya. Perbanyak tempat sampah di sekitar lingkungan kita (Tempat sampah organik dan anorganik).
Sosialisasi kepada masyarakat untuk terbiasa memilah sampah organik dan anorganik. Selalu libatkan tokoh masyarakat yang berpengaruh untuk memberikan pengarahan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Libatkan pemuda untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan.
Pekerjakan petugas kebersihan lingkungan dengan memberi imbalan yang sesuai pada setiap bulannya. Kreatif membuat souvenir atau kerajinan tangan dengan memanfaatkan sampah. Pelajari teknologi pembuatan kompos dari sampah anorganik agar dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Atur jadwal untuk kegiatan kerja bakhti membersihkan lingkungan secara rutin. Menggelar lomba kebersihan antar RT,RW, Kelurahan dan antar kecamatan.
Memberikan penghargaan kepada RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan yang menjuarai lomba kebersihan lingkungan. Jadikan Kota Larantuka sebagai kota yang bersih, asri dan indah. Kurang lebih 400eksmplar selebaran tentang sanitasi diberikan kepada warga sepanjang perjalanan rute karnaval.
Tiba di depan Rumah Jabatan Bupati, Elsa Tukan dan Vian Tenawahang yang merupakan jurnalis muda dari SMPN 1 Lewolema penuh percaya diri mewawancarai langsung Penjabat Bupati Flotim Emanuel Kara.
”Mohon maaf Bapak Penjabat Bupati Flotim, kami Jurnalis Sekolah SMPN 1 Lewolema ingin melakukan wawancara kepada Bapak. Demikian sapaan Vian Tenawahang.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan dengan meminta pandangan dari Penjabat Bupati tentang Gerakan Literasi, kemudian disusul pertanyaan dari Elsa Tukan tentang Gerakan Sanitasi. Didampingi Ketua DPRD Flotim Yoseph Sani Bethan, bersama Wakil Ketua DPRD Anton Hadjon, Matias Enay, dan Kapolres Flotim serta Dandim Flotim Eman Kara menyatakan sangat mendukung dua gerakan ini.
“Membaca sudah menjadi kebutuhan semua orang jika ingin maju dan sukses. Budaya membaca memang perlu menjadi gerakan bersama dalam menciptakan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih baik. Demikian juga sanitasi, penting dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan warga. Wisatawan merasa betah ada di daerah kita jika lingkungan kita bersih dan sehat. Saya mendukung dua gerakan ini,” kata Emanuel Kara.
Barisan karnaval dari SMPN 1 Lewolema terdiri dari 142 orang (semua siswa) didampingi 12 guru. Solirus Soda Kepala SMPN 1 Lewolema mengaku bangga dengan antusias warga sepanjang jalan menyambut gerakan literasi dan sanitasi yang dikampanyekan oleh siswa.
”Saya bangga dengan antusias warga sepanjang jalan menyambut gerakan literasi dan sanitasi yang dikampanyekan oleh siswa kami. Apalagi ini menjadi pengalaman kami yang pertama mengikuti kegiatan seperti ini. Terima kasih kepada panitia yang telah memberi ruang kepada anak – anak kami mengambil bagian dalam kegiatan ini,” kata Solirus.
(maksimusmasankian)
