Galungan, Jangan Dirayakan Dengan Hitungan Matematis

Hari raya galungan memang berbiaya tinggi, tapi bagi orang Bali, perayaan suatu peristiwa keagamaan tidak boleh dihitung secara matematis, logis dan realistis. Karena menyangkut sebuah keyakinan, dia melibatkan rasa bukan hanya hitungan untung rugi. Hal ini disampaikan Ida Pedanda Gede Telaga, kepada suluhnusa.com, di Sanur, 21 Oktober 2013.

Menurut Pedanda Gede Telaga, Galungan merupakan hari raya paling penting di Bali. Dirayakan setiap 6 bulan sekali atau hitungan 210 hari menurut Kalender Hindu Bali, dengan penuh kekhusukan, kemegahan, keagungan, kemeriahan dan keindahan.

Semua orang akan datang dengan menggunakan pakaian adat, berdestar, berkain panjang dan berkaos oblong saja, karena hanya menyapu dan membakar sampah yang berserakan di seantero tempat suci di Bali. Kemudian menjelang 2 hari sebelum puncak hari galungan, mereka akan berduyun duyun menyerbu tempat penjualan aneka macam perangkat untuk membuat penjor.

“Mulai dari bambu, kelapa, janur dan asesories lainnya harus di beli karena saat ini kebanyakan serba instan,” Ungkapnya.

Di tempat seantero penjor dibuat sangat megah, dan bisa menghabiskan Rp 100.000 hanya untuk ragam hias dan bambunya saja. Selain membuat penjor untuk menyambut hari galungan ini penduduk beragama Hindu juga harus membuat aneka sesajen. Mulai dari sesayut, pajegan sampai yang namanya pejenengan. Mereka juga harus membuat canang yang membutuhkan banyak bunga dan janur. Mempersiapkan banten yang menggunakan buah yang kebanyakan masih impor.

“Pada puncak hari raya umat hindu juga harus sembahyang ke berbagai pura yang disebut dengan kahyangan tiga, dengan aneka macam sesajen dan tentu dengan pakaian baru juga,” kata Pedanda Gede Telaga.

Untuk urusan busana baru ini, Ni Komang Suciati,  seorang Umat Hindu yang berdomisili di Jalan Hayam Wuruk mengaku harus merogoh kocek tak kurang Rp 250.000 sampai dengan 1 juta. Selain pakain baru, KOmang Suciati juga harus membeli buah-buahan misalnya apel, mangga, manggis, salak, jambu, duren pisang tak kurang dari Rp 500.000.

“Memang kalau galungan pasti biayanya tinggi sekali,” ungkap Suciati.

Baik suciati maupun Pedanda Gede Telaga mengakui untuk penjor dan bambu serta aneka macam sampian sebagai ragam hiasnya mereka juga harus mengeluarkan sedikitnya Rp 100.000. ada pula yang sangat mahal bias mencapai Rp. 500.000.

Sedangkan untuk bunga sebagai pelengkap canang, yang sangat penting pada perayaan galungan setidaknya dikeluarkan Rp 100.000 juga. Selain itu pada hari galungan juga harus dibuat lawar, biasanya mereka memotong babi, tapi sekarang demi praktisnya mereka membeli daging di pasar. Anggarannya sekitar Rp 100.000 untuk bahan lawar yang terdiri dari kulit, lemak, daging, tulang iga dan tulang kaki untuk garangasem.

Tidak hanya itu, bumbunya yang disebut dengan basa gede terdiri dari jahe, kunyit, lengkuas, bawang merah, jangu, cengkeh, jebug garum, sampai ketumbar dan merica, menghabiskan tak kurang dari Rp 100.000 juga.

“Untuk pelengkap lawar saya juga harus menyiapkan aneka macam sayur, terdiri dari kacang pancang, labu siam, nangka, kobis sampai wortel dan sawi putih yang kemudian diberi santan maupun Cuma sekedar di urap saja, untuk membeli sayur mayur tak kurang dari Rp 200.000,” tutur Suciati.

Sebagai pelengkap sesajen Umat Hindu juga harus membeli aneka macam kue dan jajanan pasar, paling banyak adalah rengginang, uli, satuh, tape dan juga kue bolu. Sedikitnya Rp 100.000 harus dikeluarkan untuk belanja kue ini.

“Jadi anggaran untuk membeli aneka macam pernik buat menyambut galungan yang terdiri dari bambu, janur, bunga, daging, bumbu, daging, buah, sayur, kue dan baju baru ini sekitar Rp 3 juta untuk setiap keluarga di Bali yang merayakannya,” ungkap Pedanda Gede Telaga, senada dengan Suciati.

Sementara itu Berbagai jenis kue untuk upacara menyambut hari raya Galungan dan Kuningan, kini juga ramai dibeli masyarakat. Tidak terkecuali kue kering berbentuk pasung. Kue dengan keunggulan warna menarik tersebut banyak dilirik masyarakat, sebagai pengganti emping melinjo.

Ni Wayan Ariani, pebisnis pasung warna di Pasar Agung-Peguyangan, mengakui, emping melinjo sebelumnya memang menjadi kue favorit Umat Hindu tiap hari raya Galungan.

Emping melinjo umumnya dipergunakan sebagai tambahan begina jaja uli, jaja sirat, sato dan lainnya dalam sarana upacara. Kini, makin banyaknya warga takut terkena asam urat, emping melinjo sudah mulai ditinggalkan. Penggantinya, kue pasung warna-warni yang lebih menarik serta tekstur lebih lembut.

“Penggunaan kue kering pasung sama seperti emping melinjo yaitu, dibungkus plastik,” katanya.

Menurut dia, kue pasung memiliki warna menarik mulai merah, hijau pandan, kuning, putih hingga cokelat. Memiliki warna menarik inilah membuat masyarakat jatuh hati. Kue pasung warna bisa digunakan sebagai bahan pajegan pengganti emping melinjo maupun roti kukus, isian sodan, pejatian, dan lainnya.

‘’Kue pasung warna memiliki bentuk bulat kojong seperti bunga mawar, sehingga cantik bila dirangkai menjadi pajagan. Di samping itu, kue ini tahan lama tidak seperti roti kukus karena dibungkus plastik,” paparnya.

Harga jual kue yang murah turut mempengaruhi permintaan masyarakat. Harga kue pasung ditawarkan berkisar Rp 16.000 per kg, sedangkan emping melinjo berkisar Rp 22.000 per kg.

‘’Harga jual yang murah inilah yang banyak dilirik masyarakat. Daripada membeli emping melinjo, masyarakat lebih senang membeli kue pasung warna, karena bisa dinikmati anak-anak hingga orangtua,” tuturnya.Mulai rerahinan Sugihan hingga Galungan, berbagai jenis kue untuk upacara meramaikan pasaran.

Salah satu yang menjadi tren saat ini adalah, kue pasung warna.‘’Kue pasung warna merupakan produk kerajinan masyarakat Gianyar. Kue ini banyak diminati masyarakat karena multifungsi, bisa sebagai camilan sekaligus kue upacara,” tuturnya.(sandro wangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *