Siswa Bioba Baru vs Kali Taen

suluhnusa.com_SMAN I Ambada Terletak di jalan Jurusan Kupang Naikliu Desa Manubelon.

Ketika sampai di pasar Manubelon terdapat papan yang tidak terlalu besar bertuliskan “SMAN I 300 Meter” jika dari arah Kupang 300 m kearah kiri dan jika dari arah Naikliu ke arah kanan.

SMAN 1 Amfoang Barat Daya merupakan satu-satunya sekolah menengah atas di kecamatan Amfoang Barat Daya atau disingkat AMBADA.

Sejarahnya sekolah ini adalah sekolah paralel dari SMAN 1 Amfoang Utara yang dibuka sejak 2007 dan letak sekolahnya di SMP 1 Amfoang Barat Daya dengan bermodalkan ruangan darurat dari daun gewang beralaskan tanah sehingga meskipun terletak di Amfoang Barat Daya namun sekolah ini bernama Amfoang Utara.

Awal berdirinya sekolah paralel Amfoang Utara hanya berjumlah 1 kelas, ketika bertambahnya tahun siswa-siswi menjadi banyak dan terdapat 3 rombongan belajar sehingga terdapat kelas X sampai XII.

Tahun 2010 Bupati memberikan SK untuk pendirian sekolah menengah atas negeri untuk sekolah paralel ini. Sehingga pada 2010 sudah resmi berdiri SMAN 1 Amfoang Barat Daya dan lokasinya sudah berpindah ke lokasi sekarang dibelakang pasar Manubelon dan sekitar 500 m dari pantai Manubelon sehingga deru ombak laut terdengar sampai sekolah.

Pada tahun 2012 tepat pada peringatan hari pendidikan nasional 2 Mei 2012 Bupati bersama dengan pihak Dikti meresmikan SMAN 1 Amfoang Barat Daya karena bertepatan dengan selesainya pembangunan ruangan permanen.

Sehingga sekolah ini sudah sah menjadi satu-satunya SMA di kecamatan Amfoang Barat Daya. Sejak dikeluarkan SK hingga tahun 2013 atau lebih singkatnya dalam 3 tahun terakhir SMAN 1 Amfoang Barat Daya selalu mencapai kelulusan 100%.

Sebagai satu-satunya SMA di Kecamatan Amfoang Barat Daya di SMAN 1 Ambada masih terdapat kekurangan guru mata pelajaran. Di sekolah ini hanya terdapat 4 guru berstatus PNS, 3 guru kontrak dan 1 guru honorer.
Sehingga terdapat guru yang mengajar mata pelajaran rangkap. Hal yang menarik yang kutemui disekolah ini adalah rata-rata usia siswa. Pada tahun ajaran 2012-2013 siswa kelas XII rata-rata kelahiran 1993 bahkan ada siswa yang lahir tahun 1991 begitupun pada kelas XI dan X ada beberapa siswa yang lahir tahun 1994 bahkan ada yang lahir tahun 1992.

Siswa Bioba Baru, Amfoang setiap hari harus melewati kali taen agar bisa sampai ke sekolah (foto: dok.candraazhari)
Siswa Bioba Baru, Amfoang setiap hari harus melewati kali taen agar bisa sampai ke sekolah (foto: dok.candraazhari)

Usia mereka jika di pulau jawa sudah usia kuliah namun di daerah ini kesadaran akan sekolah masih sangat kurang padahal sekolah di Kabupaten Kupang tidak dipungut biaya sama sekali. Bahkan ketika sudah belajar disekolah kadang terdapat anak yang putus sekolah dan memilih menjadi konjak atau menjadi kuli dipasar.

12 November 2012 tepat satu minggu aku mengajar di SMAN 1 Amfoang Barat Daya Kecamatan Amfoang Barat Daya, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur sebagai guru SM3T.

Seminggu sudah aku beradaptasi dengan lingkungan sekitar tempat tinggal dan khususnya beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang menurutku sangat jauh berbeda dengan lingkungan sekolah di Jakarta maupun Bandung tempat asalku. Sejak pertama kali aku menginjakan kaki di SMAN 1 Amfoang Barat Daya atau disingkat Ambada, aku mulai memperhatikan setiap sudut sekolah dan terutama siswa-siswi di sekolah tersebut.

Secara tidak sadar perhatianku mulai tertuju pada sekelompok siswa-siswi dari desa Bioba Baru. Bioba Baru adalah salah satu dari 4 Desa yang menjadi bagian dari kecamatan Amfoang Barat Daya selain Manubelon, Letkole dan Nefoneut.

Desa Manubelon menjadi ibukota Kecamatan dan SMAN 1 Ambada terdapat di Manubelon. SMAN 1 Ambada merupakan satu-satunya SMA di kecamatan Amfoang Barat Daya sehingga semua siswa-siswi dari 4 desa sebagian besar melanjutkan sekolah di SMAN 1 Ambada tidak terkecuali dari desa Bioba Baru.

Desa Bioba Baru dengan Desa Manubelon jaraknya cukup dekat hanya terpisahkan oleh sungai besar atau masyarakat sekitar menyebutnya kali yang bernama kali Taen, sungai atau Kali ini lebarnya mencapai lebih dari 1 Km dan merupakan jalan utama yang menghubungkan desa Bioba Baru dengan desa Manubelon.
Tempat tinggalku terletak di Dusun 1 dan berada di ujung desa Manubelon karena setelah itu sudah memasuki area Kali Taen. Jarak dari tempat tinggalku hingga ke sekolah berjarak kurang lebih 3 Km dan ditempuh dengan berjalan kaki.

Siswa-siswi dari Bioba Baru juga berjalan kaki dan jarak yang mereka tempuh dari rumah yang terdekat dengan kali taen mencapai lebih dari 4 km dan rumah siswa yang terjauh di Bioba Baru mencapai jarak lebih dari 6 Km. Kadang-kadang setiap pagi aku pergi bersama-sama dengan mereka, raut wajah gembira dan sukacita selalu mewarnai pagi mereka menuju ke sekolah, hal itu membuatku semakin bersemangat untuk mengajar.

Kadang disepanjang jalan mereka mengajakku bersenda gurau atau mengajarkanku bahasa daerah timor selama perjalanan menuju sekolah.

Sepintas mereka tidak jauh berbeda dengan siswa-siswa di SMAN 1 Ambada yang aku lihat di sekolah. Keseharian mereka sama seperti siswa lainnya mengikuti pelajaran, mengikuti kegiatan pengembangan diri dan kegiatan-kegiatan lain di sekolah. Ketika aku mengabdi tahun ajaran 2012-2013 jumlah mereka ada 13 siswa dari total 138 siswa di SMAN 1 Ambada.

Lalu apa yang membuat mereka istimewa sehingga aku harus menuliskan cerita tentang mereka? Ketika musim panas tiba mereka datang ke sekolah seperti biasa tanpa hambatan karena berjalan kaki lebih 3 Km bukanlah hal yang aneh untuk masyarakat disini begitu pula dengan siswa-siswi dari Bioba Baru.

Meskipun berjalan kaki setiap hari mereka tetap bersemangat menuju ke sekolah meskipun keringat dari tubuh mereka mengucur deras ketika sudah sampai disekolah. Semangat mereka yang begitu luar biasa dalam menuntut ilmu di sekolah harus mendapat tantangan yang begitu berat ketika musim hujan sudah mulai datang di desa ini.

Musim hujan tiba berarti tantangan besar siap menanti masyarakat di desa Bioba Baru karena kali Taen akan meluap dan melumpuhkan aktifitas transportasi antara desa Bioba Baru dan desa Manubelon.

Setiap tahun ketika musim hujan tiba kali Taen selalu banjir dan arus sungai yang begitu deras dan ditambah kedalaman maksimal diatas kepala orang dewasa dan paling rendah sepinggang orang dewasa membuat kali Taen seringkali memakan korban jiwa dari hanya terbawa arus hingga merenggut nyawa.

Dalam 3 tahun terakhir setiap tahun terdapat korban jiwa, di area sekitar kali Taen terdapat dihutan dimana dihutan tersebut terdapat kuburan tanpa nisan yang menurut masyarakat setempat itu adalah kuburan orang yang terseret arus kali taen.

Inilah salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi murid-murid dari desa Bioba Baru setiap tahun pada musim hujan yang datang sekitar bulan Desember hingga Februari.

“Ketika musim hujan tiba Katong takut untuk pi sekolah, pa guru“, kata Afliana Sonis salah satu siswa dari Bioba Baru, namun apa mau dikata mereka harus tetap berusaha menerobos banjir tersebut untuk pergi ke sekolah karena jika mereka tidak pergi maka mereka akan ketinggalan pelajaran.

Dalam situasi seperti ini kebersamaan mereka sangat luar biasa, ketika akan menyebrang sungai mereka semua saling berpegangan tangan untuk menahan arus yang bisa menyeret mereka sampai hanyut , inilah bentuk kebersamaan mereka untuk bisa bersama-sama menaklukan tantangan agar bisa sampai menuju sekolah.

Pada musim hujan banjir di Kali Taen tidak terjadi sepanjang bulan pada musim hujan, namun banjir tersebut kadang surut kadang meluap namun yang menjadi masalah adalah ketika air tiba-tiba meluap, hal inilah yang membuat kali Taen selalu memakan korban karena lebar kali yang begitu luas kadang masyarakat yang menyebrang ketika sampai ditengah kali, banjir sudah datang sehingga bisa terbawa arus.

Hal tersebut membuat mereka harus memasukan sepatu, seragam dan buku ke dalam tas atau kadang mereka tinggal disekolah. Kesedihan mereka datang ketika esok hari akan diadakan ulangan harian oleh bapak dan ibu guru di sekolah. Pagi-pagi sekali mereka sudah siap pergi ke sekolah, namun ketika sampai di muka kali Taen ternyata kali tidak bisa dilewati karena banjir terlalu besar sehingga mereka tidak bisa untuk menyebrangi kali dan tidak bisa mengikuti ulangan.

Keadaan yang seperti itu kadang-kadang para orang tua juga tidak tinggal diam, jika banjir sudah tidak bisa dilewati maka orang tua akan menggendong siswa –siswi dari Bioba Baru untuk bisa menyebrang kali Taen sehingga siswa-siswi bisa tetap datang ke sekolah.

Fenomena alam yang harus mereka hadapi setiap tahun ini kadang membuat beberapa dari mereka iri dengan kawan-kawan mereka yang berasal dari desa Manubelon.

Karena siswa-siswi yang berasal dari Manubelon bisa datang setiap hari ke sekolah tanpa hambatan apapun sehingga kehadiran mereka selama 1 semester bisa 100%, berbanding terbalik dengan siswa-siswi dari Bioba Baru yang mungkin hanya 75 %.

Musim hujan berakhir siswa – siswi Bioba Baru sudah melewati satu tantangan dan tantangan baru siap menyambut didepan. Di SMAN 1 Amfoang Barat Daya terdapat 2 kelas permanen 1 ruang guru dan 1 ruangan yang merupakan gabungan ruang Kepsek dan TU.

Sisanya merupakan kelas darurat yang terbuat dari daun gewang dan beralaskan tanah. Sepintas ketika aku datang pertama kali sangat terkejut melihat keadaan ini dimana para siswa harus belajar dengan ruang kelas yang hanya memakai daun gewang.

Suatu hari jadwal pelajaran menunjukan bahwa aku harus mengajar kelas di kelas darurat, karena tidak ada kaca sehingga dari luar siswa terlihat aktifitas siswa didalam kelas. Aku sangat heran mengapa tidak hujan siswa-siswa membawa payung dan mereka gantungkan dengan posisi terbuka kemudian dibalik diantara kayu-kayu penyangga ruangan.

Ketika aku sudah membuka pelajaran aku bertanya pada murid, “Kenapa kalian menggantung payung seperti itu” dan siswa-siswa menjawab dengan serentak

“Awwiiii Ulat pung banyak pak guru”, sahut mereka. Inilah tantangan siswa – siswi Bioba Baru yang kedua setelah musim hujan berakhir dan harus melawan banjir.

Setelah musim hujan berakhir dan berganti musim panas daun-daun penutup kelas darurat menjadi lembab dan basah. Hal tersebut membuat ulat-ulat muncuk dari atap –atap daun tersebut. Jumlah ulatpun tidak cukup banyak sehingga mengganggu KBM didalam kelas karena siswa menjadi tidak fokus dalam pelajaran.

Tidak jarang pula ketika aku sedang asik menyampaikan materi pelajaran selalu ada siswa yang berkata “Pak guru itu ada ulat di pak pung baju”, ujar salah satu siswa.

Ketika aku lihat ternyata benar ada 2 ulat tepat di pundakku dengan seketika aku membuangnya. Bahkan pernah suatu ketika jam pelajaran selesai dan aku kembali ke ruang guru, aku pikir aku terbebas dari serangan ulat ternyata ketika aku duduk aku merasakan ada sesuatu yang menggerayangi di leher ternyata ada 2 ulat yang ikut ke ruang guru.

Keadaan seperti ini membuatku harus melakukan sesuatu agar KBM tetap berjalan seperti biasa. Lokasi sekolah terdapat ditengah – tengah hutan sehingga masih banyak terdapat pohon- pohon rindang, siswa – siswi Bioba Baru dan siswa lain aku bawa untuk belajar di luar ruangan.

Situasi diluar ruangan aku buat senyaman mungkin dimana para siswa ada yang duduk dipotongan pohon yang sudah ditebang ataupun duduk dibawah sehingga KBM tetap berjalan dan siswa – siswi masih bersemangat untuk mengikuti pelajaran.

Lokasi Kecamatan Amfoang Barat Daya yang jauh dari kota Kupang ditambah akses jalan yang buruk membuat sarana prasarana untuk sekolah menjadi terhambat salah satunya adalah sumber belajar. Sejak pertama datang ke SMAN 1 Amfoang Barat Daya banyak sekali kekurangan yang terdapat disekolah sehingga tidak dapat menunjang kegiatan pembelajaran secara maksimal.

Sumber belajar paling utama adalah guru mata pelajaran, inilah yang membuatku berpikir untuk memberikan pelajaran tambahan yakni bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan computer ( Laptop).

Dasar pemikiran untuk memberikan ketiga materi tersebut yang pertama adalah penggunaan bahasa daerah yang sangat kuat kedua untuk dapat menjawab kebutuhan yang serba digital melalui computer. Pelajaran tambahan aku berikan pada Rabu malam untuk pelajaran computer (laptop) dan sabtu malam selepas ibadah siswa – siswi untuk bahasa Inggris/bahasa Indonesia. Dengan keadaan serba terbatas karena di desa Manubelon belum masuk aliran listrik maka dengan bermodal senter dan patungan membeli bensin untuk menyalakan genset kegiatan pelajaran tambahan selalu rutin dilakukan.

Siswa – siswi sangat semangat mengikuti kegiatan pembelajaran ini meskipun awalnya mereka tidak banyak yang hadir. Awal mula kegiatan hanya 3 siswa setelah itu semakin bertambah bahkan siswa SMP yang sebenarnya bukan dari sekolahku juga ikut hadir mengikuti pelajaran.

Hal ini sangat membuatku senang karena siswa – siswi dari Bioba Baru begitu bersemangat meskipun malam hari hanya bermodalkan senter dan menyebrangi kali Taen yang sangat luas bukanlah hambatan bagi mereka akan ilmu pengetahuan.(candraazhari)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *