Biarkan Pestanya Berakhir

Cerpen oleh :Stefyan Kuyo Umang

Musik keras menghantam telingaku dan sama sekali tidak bisa dinikmati. Seorang laki-laki sedang berbicara padaku, aku sesekali mengangguk untuk berpura-pura mendengarkan sambil berharap dia segera pergi.

Jam delapan malam tadi, aku diseret ke tempat ini oleh Sandro temanku. Kami diundang ke pesta wisuda salah satu senior kami di kampus. Aku datang ke sini sebatas menghargai tuan pesta.

Musik keras, orang berjoget, orang-orang asing, sampai sekarang aku tidak tahu letak menariknya pesta seperti ini.

Sandro? Entah ke mana anak itu, mungkin tenggelam dalam keramaian. Aku kemudian bersandar di kursi dan menarik nafas.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang, sontak aku langsung berpaling dan ternyata adalah Andre.

“Heee, kamu ke sini juga?” tanyanya mendekatkan diri ke arahku agar suaranya terdengar.

“Dipaksa Sandro.” jawabku sambil mengarahkan wajahku padanya.

“Ohh pantas.” Dia terkekeh.

Andre adalah temanku selain Sandro dan dia memang sudah tahu sifatku yang ini. Sesuatu yang tidak normal bagi dia kalau menemukanku di tempat seperti ini.

Aku dan Andre kemudian ke luar untuk mencari udara segar. Kami kemudian bertemu dengan Ryan, teman sekelasku. Kami kemudian mengobrol.

“Han, sama siapa ke sini?”

“Sama temen. Kamu?”

“Sendiri.”

“Ohhh. Kamu kenal sama Kak Ronal?”

“Iya, aku sama dia satu UKM di kampus. Kalau kamu?”

“Temanku itu, satu daerah asal sama Kak Ronal, lalu sering main ke kost juga Kak Ronal itu karena sering ketemu akhirnya jadi akrab.”

“Ohhh. Kamu udah dari tadi datangnya?”

“Iya. Kalau kamu baru aja sampe?”

“Iya nih.”

Kami membahas banyak hal. Ada yang kupahami, ada yang tidak, meski begitu saat mereka tertawa, aku ikut tertawa saja sebagai reaksi spontan.

“Ehhh, dua hari lalu di daerah ini ada kerusuhan kan?”, ujar Ryan tiba-tiba berpindah topik.

“Iya. Temanku ada di sana pas kejadian itu.”, balas Andre.

Aku sempat membaca postingan tentang kerusuhan itu di Instagram, tetapi isinya simpang siur. Kerusuhan itu terjadi di restoran dekat sini. Kronologinya seperti ini, tempat itu disewa untuk pesta wisuda. Saat dini hari, sekitar jam 1 atau 2 pagi, kerusuhan mulai pecah. Awalnya dari perkelahian dua orang laki-laki, tiba-tiba kemudian malah melebar dan terjadinya kerusuhan. Beruntung polisi segera datang dan mengamankan suasana.

Dua orang yang menjadi awal dari semua itu diketahui sedang mabuk alkohol. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua sebenarnya, tetapi orang mabuk bisa melakukan hal yang aneh, tidak terprediksi, dan sangat spontan termasuk berkelahi karena alasan konyol. Sudah banyak kejadian seperti itu, perkelahian atau kekacauan karena minuman beralkohol ini.

Saat mendengar soal alkohol, aku baru ingat bahwa di dalam sana ada juga yang sedang minum alkohol. Tepatnya di dekat pintu keluar ada beberapa orang yang sedang duduk berkumpul sambil berbagi minuman dari satu botol yang sama. Botol itu belum ada di sana saat pertama kali aku datang, tetapi saat mau keluar tadi tiba-tiba saja sudah ada. Aku tersenyum sambil membatin, “Wah, sepertinya nanti ada yang berkelahi nih.”

Sandro tiba-tiba datang menghampiri kami, dia mungkin capek dengan kegiatannya di dalam dan memutuskan untuk beristirahat di luar bersama kami.

“Sandro, pestanya selesai jam berapa nih? Tanya Andre begitu Sandro selesai menyapa kami semua.

“Jam 12. Sewanya sampai jam segitu.”

“Sekarang udah jam berapa nih?”, tanya seorang dari kami.

“Baru jam 9”, balas seorang lainnya.

Rasanya 3 jam itu lumayan lama menurutku. Aku berharap Sandro segera mengajakku pulang, tetapi rasanya itu agak mustahil, mengingat dia kelihatannya masih bersemangat di sini.

Ada segerombolan orang yang keluar dari pintu gedung dan mengarah ke sisi yang berseberangan dengan kami. Kelompok itu kemudian terpisah menjadi dua kelompok kecil. Nampak masing-masing kelompok sedang berusaha membujuk soerang laki-laki yang berdiri di tengah mereka.

“Kayaknya ada yang berkelahi tuh.” Ryan tiba-tiba angkat suara saat melihatku memperhatikan kelompok tersebut.

“Oh iya kah?” balasku yang tidak yakin dengan jawaban itu.

“Pastinya itu.”

Aku pun memutuskan untuk mendekat ke kelompok itu, penasaran dengan keadaan di sana.

Orang yang di tengah (pelaku perkelahian), menatap dengan tatapan kosong entah ke mana, sementara seorang senior kami (aku tidak tahu namaya, hanya saja sering kulihat bersama Kak Ronal di kampus) terus mengoceh. Aku tidak dengar apa yang dia katakan, tetapi dari gerak-geriknya sepertinya dia sedang berusaha untuk menenangkan orang di tengah itu. Hal yang sama juga terjadi di kelompok satunya.

Aku kurang yakin apa cara itu berhasil. Mereka ini sedang berbicara dengan orang mabuk kan? Bukannya ini sama saja berbicara dengan orang tidur? Sama-sama berbicara dengan orang yang tidak sadar. Sia-sia sepertinya.

Aku berbalik memutuskan untuk masuk saja ke dalam mencari tempat duduk. Aku menemukan satu tempat yang kosong di pojok ruangan, tempat yang cocok untukku. Musik kali ini menjadi sedikit lebih lembut. Perubahan itu diikuti dengan laki-laki dan perempuan yang kini berpasangan, menempelkan diri satu sama lain dan mulai bergerak mengikuti irama. Ini mungkin yang disebut orang-orang dansa. Apa mereka yang berdansa ini pacaran, suami-istir, atau baru kenal? Aku pribadi tidak mau menempel erat dengan orang yang baru kukenal beberapa jam saja. Aneh rasanya.

Aku tidak tahu berapa lama yang kuhabiskan duduk diam di sini dan hanya melihat keadaan sekitar, tetapi rasanya sangat singkat. Lampu warna-warni itu tiba-tiba diganti dengan lampu biasa dan musik tidak dilanjutkan lagi. Kak Ronal masuk ke dalam kerumunan tadi yang sedang berdansa lalu berdiri di tengah-tengah ruangan sambil menggenggam sebuah microfon.

“Teman-teman sekalian, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang di pesta saya, tapi saya mohon maaf karena keterbatasan waktu terpaksa kita akhiri kebersamaan kita di malam ini. Saya harap kita sekalian masih bisa bertemu di lain kesempatan. Saya doakan teman-teman selamat sampai tujuan dalam perjalan pulang. Terima kasih selamat malam dan sayonara.”

Semua orang yang ada di situ sontak bertepuk tangan ketika Kak Ronal selesai dengan salam penutupnya itu. Kemudian tempat itu perlahan-lahan mulai sepi dari kerumunan orang. Kak Ronal berdiri di pintu keluar untuk menyalami mereka yang hendak pulang.

Tempat itu sekarang hanya menyisakan beberapa teman Kak Ronal, yang lainnya di luar, mungkin membantu tamu dengan kendaraan mereka.

Kami semua yang berada di situ kemudian terlibat obrolan yang kemudian diselingi beberapa candaan. Obrolan ini hanya berputar soal pesta tadi, apa saja yang terjadi waktu itu, termasuk soal perkelahian tadi yang sempat terjadi. Aku akhrinya tahu bahwa dua orang yang sempat berkelahi tadi adalah teman dari temannya Kak Ronal, artinya Kak Ronal sendiri tidak mengenal mereka berdua. Aku sedikit merasa lucu dengan kelakuan dua orang itu. Mereka bahkan tidak mengenal tuan pesta, pantas berani berkelahi di sini. Dasar primitive.

Suara teriakan laki-laki tiba-tiba terdengar dari luar, kami semua yang berada di dalam tanpa aba-aba segera menuju ke sumber suara. Dua orang yang tadi sempat berkelahi ada di sana, tetapi kali ini salah satu dari mereka sudah tersungkur di tanah. Melihat hal itu, teman-teman kak Ronal tidak lagi menahan diri. Mereka semua dalam sepersekian detik langsung menerjang maju, memburu pelaku pemukulan itu. Dia sadar dalam bahaya, segera kabur dari sana.

Aku diam saja menyaksikan kejadian itu, tidak pula ikut-ikutan mengejar pelaku. Kak Ronal yang tidak ikut dalam kerusuhan itu kemudian menyuruh aku dan Sandro serta beberapa junior lainnya untuk masuk ke dalam. Saat hendak masuk, rombongan tadi tiba-tiba masuk kembali ke area parkir gedung dan langsung menutup gerbang.

Sebuah batu tiba-tiba mendarat di depan mataku saat itu juga. Orang-orang yang mengejar segera mencari tempat perlindungan, entah itu di dalam gedung acara atau di halaman belakang. Kak Ronal kali ini meninggikan suaranya, menyuruh kami yang lebih junior untuk mempercepat langkah kami masuk ke dalam. Teman-teman Kak Ronal pun tidak tinggal diam, mereka membalas lemparan tadi dengan lemparan lainnya.

“PRANGGG”, kaca depan gedung yang berhadapan dengan area luar pecah berantakan. Serpihan-serpihannya yang berserakan di lantai membuat keadaan semakin runyam. Terjebak dalam situasi ini membuatku semakin menyesal datang ke tempat ini. Apa sebenarnya isi pikiran mereka yang berkelahi itu hah?! Sekarang sudah tengah malam, aku sudah lelah, ingin tidur, tetapi malah terjebak di tempat ini. Apa lagi kejadian buruk yang bakal terjadi hah?!

Di tengah kepanikan dan rasa was-was yang kualami, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang muncul dari mana. Dia kemudian berbicara dengan Kak Ronal, “Dek, aman. Saya sudah panggil polisi, biar polisi yang urus yang di luar sana tuh.”

Aku terkesan dengan reaksi tenggap si bapak ini. Dari Gerak-geriknya sepertinya dia yang punya tempat ini. Selain itu, reaksinya biasa-biasa saja dengan segalam macam lemparan batu, teriakan, dan perkelahian tadi, jangan-jangan dia sudah terbiasa karena hal seperti itu sering terjadi di sini?

Bunyi sirene polisi kemudian memecah ketengangan kami malam itu diikuti dengan keadaan yang langsung menjadi kondusif seketika. Kami semua yang tadi terjebak di dalam akhrinya bisa pulang. Untuk berjaga-jaga, kami semua sepakat untuk pulang dalam satu rombongan besar.

Akhirnya, seharusnya aku menolak ajakan Sandro, seharusnya daritadi aku sudah tidur, atau mungkin main game kesukaanku, aku tidak boleh lagi terlibat dalam kesalahan seperti ini. Aku semakin tidak menyukai pesta. +++

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *