LARANTUKA – Tulisan ini adalah sebuah penghormatan akan kesetiaan dari Pater Maxi di tengah bencana.Karena itu, untuk menghindari kontroversi yang mungkin timbul dari judul tulisan di atas, perlu saya jelaskan bahwa kata ”bencana” bukan merujuk pada sosok Pater Maxi sebagai pembawa petaka, melainkan sebagai simbol kehadiran Pater Maxi sebagai gembala di tengah amukan gunung Lewotobi Laki-laki.
Di tengah gemuruh gunung Lewotobi Laki-laki, Pater Maxi tetap setia mendampingi umatnya. Bagi seorang gembala, kesetiaan diuji bukan saat situasi tenang dan nyaman tetapi ketika umat dilanda ”badai”. Kesetiaan Pater Maxi bersama umat memberikan kekuatan dan peneguhan di tengah derita bencana alam.
Dan kesetiaan sang gembala mencapai batasnya seiring kabar duka yang menyelimuti umat paroki St. Maria Ratu Semesta Alam Hokeng pada Sabtu 30 Mei 2026. Pater Maximus Seno, SVD meninggalkan umatnya untuk selamanya. Pastor asal Lengkosambi, Riung ini menghembuskan nafasnya yang terakhir di RSUD TC Hillers Maumere.
Pater Maxi Seno, SVD lahir dari pasangan Simon Seno dan Theresia Rawi. Anak keempat dari sembilan bersaudara ini lahir pada 1 November 1957.
Pendidikannya dimulai di SDK Lengkosambi lalu pindah ke SDK Tanawolo. Pendidikan jenjang SMP dan SMA diselesaikannya di Seminari Menengah St. Yohanes Berkhams Mataloko.
Benih imamat yang mulai tumbuh ia semai di Ordo Serikat Sabda Allah (SVD). Perjalanannya dimulai dengan menjalani novisiat di Seminarai Tinggi St. Paulus Ledalero. Ia lalu mengikrarkan kaul pertama pada 1982.
Setelah kaul, ia menjalani studi filsafat di STFK Ledalero yang diselesaikannya tahun 1985. Selanjutnya ia menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Menengah Lalian, Atambua. Sekembalinya dari Atambua, ia melanjutkan studi teologi di STFK Ledalero.
Pada Agustus 1987 ia mengikrarkan kaul kekal dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Disusul tahbisan diakon pada November 1987 oleh Mgr. Gregorius Monteiro, SVD. Praktek diakonat dijalani Pater Maxi di Paroki St. Yosep Onekore, Ende. Lalu pada 1988, ia tahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Donatus Dagom, SVD di Riung.
Tugas partoral dimulai dengan menjadi pastor pembantu Paroki St. Yosep Onekore Ende hingga tahun 1992. Pater Maxi kemudian dipercayakan menjadi Pastor Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Watuneso.
Dua tahun di Watuneso, Pater Maxi kemudian berangkat ke Filipina untuk mengikuti kursus pastoral di East Asian Pastoral Institute dari tahun 1994 – 1995. Sekembalinya dari Filipina, ia bekerja di Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Agung Ende.
Pada 1998, Pater Maxi diangkat menjadi anggota dewan provinsi Ende. Setahun kemudian, pada 1999, ia ditunjuk menjadi pemimpin rumah ret-ret Kemah Tabor Mataloko. Selama di Mataloko, ia juga dipercaya menjadi Rektor Seminari Mataloko. Pelayanan di Mataloko dijalani hingga tahun 2005.
Pada 2006, ia diangkat menjadi Pastor Paroki Mater Dolorosa Mangulewa. Pada masa itu, ia menjabat juga sebagai rektor distrik SVD Ngada periode 2008-2011.
Pelayanan panjangnya di Keuskupan Ende berakhir ketika Pater Maxi mendapat tugas baru yaitu sebagai Pastor Paroki St. Ignasius Waibulan di Keuskupan Larantuka. Pelayanannya di Paroki Waibalun sejak tahun 2014 hingga 2023.
Sembilan tahun di Waibulan, Pater Maxi ditunjuk menjadi Pastor Paroki Maria Ratu Semesta Alam Hokeng.
Di Paroki Hokeng, pelayanan Pater Maxi begitu singkat. Pater Maxi menjabat Pastor Paroki St. Maria Ratu Semester Alam Hokeng sejak September 2023. Dihitung, hanya dua tahun delapan bulan masa kegembalaannya.
Pelayanan di lembah Hokeng dilalui di tengah bencana. Baru beberapa bulan di Hokeng, sang gembala bersama umat harus menghadapi kenyataan pahit, ditimpa bencana alam letusan gunung api Lewotobi Laki-laki. Letusan pertama terjadi Desember 2023. Lalu disusul ledakan dahsyat November 2024.
Bencana letusan gunung api Lewotobi Laki-laki membuat umat paroki Hokeng tercerai berai. Sebagian umat harus mengungsi. Saat ini mereka yang mengungsi tinggal di hunian sementara Konga sambil menanti hunian tetap dibangun pemerintah.
Hokeng adalah salah satu daerah yang terdampak paling parah akibat bencana alam ini. Gereja dan rumah pastoran rusak parah. Bersama rekan pastor, Pater Maxi juga harus mengungsi.

Awal mengungsi, Pater Maxi lari ke Boganatar. Tetapi kemudian ia memilih kembali ke Hokeng dan tinggal di stasi Plue.
Di Wulanggitang, Plue adalah wilayah yang akses transportasinya rusak parah. Kondisi jalan menuju ke Plue hancur total. Banyak orang tidak mau kalau pergi ke Plue. Karena ke Plue adalah perjalanan menyiksa diri.
Ketika orang lain menolak ke Plue, Pater Maxi justru memilih ”jalan” ke Plue. Ia pergi dan tinggal bersama umat di stasi Plue. Sebuah pilihan untuk terlibat, merasakan penderitaan umatnya.
Dalam kondisi bencana, Pater Maxi tetap setia melayani umatnya. Tiap hari ia bolak balik Plue – Hokeng. Pagi ia datang ke rumah pastoran di Hokeng untuk melayani umat yang membutuhkan pelayanan. Sore ia kembali ke Plue.
Praksis hidup ini menunjukkan bahwa Pater Maxi tidak hanya hidup ”bersama” umat. Tetapi hidup ”sebagai” umat. Di tengah umat, Pater Maxi juga melakukan apa yang umat lakukan. Umat paroki Hokeng piara babi dan ayam, Pater Maxi juga piara ayam, anjing, babi.
Dalam kondisi bencana, Pater Maxi selalu menekankan pentingnya ekaristi. Ekaristi sebagai pusat dan puncak seluruh hidup umat Katolik adalah sumber kekuatan. Mengambil bagian dalam ekaristi berarti menjadikan Kristus sebagai pedoman hidup.
Teladan ini ia tunjukkan hingga ajal menjemputnya. Bersama umat lingkungan St. Antonius Padua Kemiri, Boru, Pater Maxi punya jadwal misa setiap hari Selasa dan Jumat sore.
Pada Jumat, 29 Mei 2026, ketika sedang memimpin misa di gereja lingkungan St. Antonius Padua Kemiri, Boru, Pater Maxi tiba-tiba terjatuh.
Sempat dirawatkan di Puskesmas Boru, Pater Maxi dirujuk ke RSUD TC Hiller Maumere. Hingga menghembuskan napasnya yang terakhir, beliau dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Dalam kebersamaan yang singkat, saya bersyukur bisa mengenal Pater Maxi. Ada banyak kenangan bersama Pater. Ia tegas secara prinsip tetapi lembut dalam pelayanan.
Pater Maxi memang punya watak yang keras. Tidak jarang ia memarahi umat. Kemarahannya bukan karena benci. Tetapi Pater karena rasa cinta. Sebagai gembala, ia ingin umatnya hidup secara baik.
Di balik kemarahan itu, selalu terselip rasa humor. ”Muka buruk”, ”rambut keriting” adalah kata-kata mutiara Pater Maxi untuk umatnya. Ketika kata-kata mutiara ini diucapkan, suasana yang tegang berubah menjadi cair.
Pada satu kesempatan mengantar Pater Maxi dari gereja Kemiri ke rumah pastoran di Hokeng, saya bertanya kepada Pater Maxi bila sudah pensiun nanti Pater mau tinggal di mana.
Pater Maxi mengatakan bahwa dia punya keinginan untuk menghabiskan masa pensiunnya di pondok SVD Riung. Di sana ada rumah ret-ret. Sehingga ia bisa menjadi pembimbing umat yang mau mengadakan rekoleksi.
Sebuah kerinduan untuk kembali ke kampung halaman. Kini, Pater Maxi telah tiba kembali di ”rumah” ret-ret abadi. Selamat jalan Pater, doakan kami umatmu.+++
Gerardus Kuma Apeutung

Pater Maksi memang sosok seorang ayah d gembala yg baik.hari minggu sebelum pamit u berpisah dgn umat huntara ia mengajak pulang.pulang ke hokeng…bekerjalah u hidup mu.terima kasih tuan u amanah d kegembalàan mu.kami selalu mengenangmu dlm doa kami.kita saling mendoakan.
Kami selalu ingat tuan.
Minggu sebelum kepergian mu.
Tuan kasih tau…pulang.
Pulanglah ke hokeng.bekerjalah u memenuji kebutuhan mu.TUHAN SELALU MENOLONH KITA.Terima kasih tuan u semua nya.