LEWOLEBA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Pencanangan Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) Tahun 2026, Selasa, 8 April 2026.
Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam pelaksanaan program Desa Cantik yang bertujuan untuk meningkatkan literasi statistik serta mendorong pemanfaatan data di tingkat desa.
Sebanyak tiga desa di pilih sebagai Desa Cantik BPS di Lembata yaitu Desa Baopana, Desa Lamatuka, Kecamatan Lebatukan dan Desa Muruona, Kecamatan Ile Ape.
Kegiatan pencanangan Desa Cantik ini dihadiri Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, Kepala BPS Lembata, Muhamad Sukin, Kepala Bappelitbangda drh. Mathias K Beyeng, Kadis PMD Yoseph Raya Langoday, Kaban Kesbangpol Kanis Making, Camat Ile Ape dan Lebatukan.
Koordinator Fungsi Statistik sosial BPS, Yustinus Laba Buyanaya yang juga Ketua Panitia Kegiatan mengungkapkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga yang independen, terpercaya, dan berperan aktif dalam mendukung perumusan kebijakan berbasis data, dituntut untuk terus berbenah dengan menghadirkan program kegiatan yang menjamin keterpaduan data secara nasional maupun regional dalam mendukung perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi pembangunan nasional.
“Data merupakan jenis kekayaan baru bahkan lebih mahal dari harga minyak (kata presiden ke tujuh Ir. Joko Widodo dalam kegiatan repat teknis persiapan pelaksanaan Sensus Pertanian tahun 2023 di istana negara) seruan moral ini menjadi refleksi bagi kita semua untuk lebih peka dan responsif dengan meletakan DATA menjadi dasar pijak dalam merencanakan sesuatu”, ungkap Yusno.
Ia menjelaskan untuk menjawabi dinamika perumusan kebijakan berbasis data, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, BPS berkewajiban untuk memberikan pembinaan statistik secara teknis kepada Kementerian, Lembaga Satuan Kerja Perangkat Daerah bahkan hingga tingkat desa dan kelurahan,l.
Dan amanat UU ini menjadi angin segar untuk memberikan edukuasi dan meningkatkan literasi statistik bagi semua pihak supaya lebih maksimal dalam manajemen tata kelola data untuk kepentingan perencanaan, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi program pembangunan di daerah ini.
Menurut Yusno desa sebagai narasumber dan produsen data mestinya memiliki data yang lengkap dan akurat sebagai landasan informasi dalam pengambilan kebijakan pembangunan pada tingkat desa.
“Namun fakta menunjukan bahwa kita diberhadapkan dengan permasalahan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di pemerintah desa dalam hal pengelolaan data desa, rendahnya literasi statistik di tingkat desa yang pada akhirnya berpengaruh pada pemerintah desa kurang mengoptimalkan pemanfaatan data dalam kebijakan pembangunan, yang berdampak pada pengambilan kebijakan yang tidak tepat sasaran”, ungkapnya
Ia berharap hadirnya program desa Cinta Statistik (Desa Cantik) bisa memberikan edukasi dan menambah pengetahuan dalam tata kelola data guna menunjang penyelenggaraan pemerintahan desa yang efektif dan efisien.
Budaya Sadar Data
Sementara Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq dalam sambutan memberi apresiasi kepada BPS menggagas dan menginisiasi program desa cantik ini sebagai upaya penting membangun budaya sadar data dalam memperkuat literasi statistik mulai dari tingkat desa.
Bupati Kanis mengungkapkan data menjadi sangat penting dan mahal karena selalu menjadi rujukan dalam setiap perencanaan pembangunan dan juga sebagai bahan evaluasi pembangunan di Kabupaten Lembata
Ia menekankan tiga desa yang sudah dicanangkan menjadi desa Cantik harus mulai berbenah dalam pembangunan berbasis data.
“Secara khusus saya juga menyampaikan terimakasih kepada BPS yang telah merilis indikator mikro tahun 2025 terdiri dari data kemiskinan, data peningkatan ekonomi, data angka pengangguran terbuka, data PDRB dan terlihat jelas bahwa tahun 2025 ada peningkatan ekonomi Kabupaten Lembata 4,8 persen”, ungkap Bupati Kanis.

