Birokrasi Kita, Amboi!

suluhnusa.com_Kalau urbanisasi itu setan menurut Schumacher dalam bukunya Kecil Itu Indah (Hal 165), maka birokrasi adalah binatang buas (Mechanized beast)! Ini menurut Alvin Toffler dalam bukunya Future Shock (hal 112). Urbanisasi di negeri kita tampaknya tak dapat dihalangi oleh birokrasi kita. Di era industri modern ini, birokrasi kita tampaknya jalan di tempat seperti masa feodalisme di mana tampak selalu pemandangan yang mengingatkan kita kepada masa ekonomi agraris dan ekonomi feodal.

Dalam kota di masa Orde Lama, di antara mobil kayu (oplet) tampak cikar yang ditarik sapi bermuatan bambu panjang yang ujung belakangnya ditaruh bendera merah. Orang Jakarta yang pindah rumah biasa menyewa gerobak yang ditarik sapi. Rumah-rumah petak kontrakan di Jakarta berlantai tanah yang seminggu semkali dibasahi dan disebari serbuk gergaji lalu dipukul-pukul dengan sapu lidi sehingga tampak bagaikan lantai semen. Dinding gedek ditempeli kertas koran atau kantong semen bekas lalu dilabur dengan kapur putih. WC di halaman, ada yang tertutup ada yang cuma ditaruh dua balok sehingga tinjanya tampak jauh di bawah. Sewanya murah, sehingga urbanisasi jadi murah dan menarik ribuan orang dari desa. Tampaknya birokrasi kita waktu itu tak dapat membendung arus urbanisasi.

Di masa Orde Lama orang tak perlu punya kartu keluarga dan kartu penduduk. Naik motor pun tanpa SIM dan surat-surat motor segala, jika terjebak polisi, KUHP saja alias Kasih Uang Habis Perkara. Masa itu birokrasi mengalami hibernasi . Jakarta ketika itu adalah sebuah desa besar. Di masa Orde Lama, Presiden terlalu sibuk dengan mengangkat muka dan harga diri kita di dunia internasional, ‘mengadu domba’ dua kekuatan dunia Amerika Serikat dan Rusia dan sibuk dengan perebutan Irian Barat di mana semua birokrat berbaris dan berlatih perang, merayap, menembak dengan bambu runcing, walapun di sana-sini gaji mereka yang selalu menciut.

Ganyang Malaysia menyusul sehingga ekonomi hancur lebur. Lapangan Banteng, Senen, Jatinegara, Kebayoran, penuh dengan pelacur karena di masa ekonomi negeri ambruk, laki-laki terkulai tak berdaya, kecuali perempuan. Perempuanlah yang kaya di negeri di mana birokrasi tak sanggup memperbaiki ekonomi. Perempuan negeri ini cantik-cantik dan kaya, kemana-mana bawa cek. Kalau lapar atau perlu uang untuk membantu anak atau orangtua di kampung, tinggal buka cek dan ceknya tak pernah habis, tinggal buka saja sembarang waktu.

Akan tetapi penderitaan ekonomi ini berhasil memenangkan Irian Barat, bergabung dengan Ibu Pertiwi. Namun sebagai bangsa yang lahir dari kawah Candra Dimuka revolusi, tentulah tidak segera dewasa (lihat The Rebel karya Albert Camus) dan akan lahir diktator. Syukur diktator totok tak lahir di negeri ini, kecuali setengah diktator. Para sastrawan dan pemikir seperti Kafka, Orwel, marcusse, dan Ellul melihat birokrasi sebagai binatang buas, biang dehumanisasi (Future Shock, hal 112).

Walaupun dalam sejarah ada struktur baja birokrasi yang tak berubah selama 2000 tahun seperti Gereja Katolik dan partai Nazi selama seperempat abad, namun menurut Max Weber, birokrasi berubah di abad industri. Industrialisme mendatangkan organisasi futuristik yang disebut Ad-hokrasi baru berupa manajemen ‘project’ atau ‘task-force’. Ketika Lockheed Aircraft Corporation memenangkan kontrak untuk membuat lima puluh delapan pesawat transport militer raksasa C-5A, terlibatlah sebuah organisasi manusia sebanyak 11.000 orang untuk keperluan pembuatan pesawat raksasa itu. Ada 6000 perusahaan terlibat karena setiap pesawat memerlukan 120.000 komponen (Future Shock hal 119). Itulah adhokrasi. Adhokrasi memang sudah ada di Indonesia. Kontraktor diawasi oleh birokrat yang disebut Pimpro (Pimpinan Proyek). Tetapi dananya kecil dan dana yang kecil itu disunak–sunat sehingga menjadi bunting.

Tampaknya adhokrasi yang semula berniat menjinakkan birokrasi, dirusak oleh mentalitas feodal Jawa. Para birokrat ingin menjadi ‘ndoro’, babu-babu di rumah para birokrat harus ‘ngesot’ di depan ‘ndoro’ putri dan ‘ndoro’ putra.

Misalnya dana daerah Istimewa Papua yang jumlahnya sangat besar dibawa oleh orang pusat, dipergunakan untuk macam-macam proyek, tetapi sangat mencurigakan karena gubernurnya pernah berkata di televisi, “Saya cuma penonton saja!” Beberapa pemborong teman penulis, pernah mengeluh, “Saya pernah diminta duit untuk biaya pernikahan anak-anak pejabat.” Seorang bupati di Aceh berkoar di televisi, “Kalau dananya datang, tetapi tak datang sarjana yang bisa membangun daerah ini, ya, sia-sia!” Sang Bupati tampaknya membutuhkan adhokrat sarjana.

Seorang pejabat pernah berkata pada penulis di rumahnya yang bak istana, “Kita manfaatkan China yang jadi adhokrat.” Adhokrasi yang sedianya dapat menjinakkan birokrasi buas masih terhalang kendala absurd. Perlu kita membaca sastra : Kafka!. (Pikiran Gerson Poyk; ditulis kembali oleh Fanny J. Poyk)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *