suluhnusa.com_Modal cuman lima juta. Sejak lima tahun lalu. Seorang Anggota Dharma Wanita Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali ini melakoni hidupnya sebagai pengelolah sampah plastik. Dharmanya pada Bali bukan sekedar untuk meraup keuntungan ekonomi, tetapi lebih pada berbakti menyelamatkan bumi Bali dari sampah plastik.
Rumah sederhana di di desa Medahan, Kecamatan Blabatuh-Gianyar itu nyaris tak tampak. Lahan kosong yang semula hanya 3 are menjadi penih sesak gunungan sampah plastik, walau sudah di tambah arealnya menjadi 10 are.Pun tak cukup menampung gunugan sampah tersebut.
Rumah itu milik seorang ibu rumah tangga yang juga sebagai anggota dharma wanita satuan polisi pamong praja, provinsi Bali. Namanya, Ir. Ni Made Dwi Hermalawati, A.Md.Ak.
Saat ditemui dilokasi tempat pengolahan sampah miliknya, di Jalan cucukan Lama, Blabatuh-Gianyar, 15 Oktober 2013, Made Hermalawati menceritakan dirinya tertarik untuk mengelolah sampah plastic berawal dari keprihatian dan kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan. Dia berpendapat, sesunggunhya sampah itu berasal dari dapur ibu rumah tangga.
Dan dirinya sebagai ibu rumah tangga harus bertanggunfgjawab atas sampah yang dihasilkan itu. Iseng mengumpul sampah plastik yang dihasilkan tersebut seraya mencari informasi tentang nilai ekonomisnya, Made Hermalawati pun mulai menekuni usaha pengolahan sampah plastik ini lima tahun lalu.
“Modal saya waktu itu cumin keberanian. Awalnya pengelolaan sampah ini dilakukan oleh tenaga kerja dalam rumah. Modal tidak banyak, hanya likma juta untuk kontrak tanah bayar membeli sampah dari pengepul,” tutur istri dari Drs. I Ketut Gede Arnawa, M.Ap ini.
Sudah sejak lima tahun lalu Made Hermalawati bersama kelompok pengelolkah sampah miliknya Dwi Mitra Sejati berjuang mendharmakan baktinya demi Bali yang bebas sampah plastik. Alhasil, keuntungan se carta ekonomi memang belum seberapa tetapi niatan menjadikan Bali yang bersih dari sampah plastik sedikit membawa hasil.
Pasalnya, hingga kini, setiiap Bulan Made Hermalawati mampu mengirim 16 s/d 17 ton sampah plastik yang sudah diolah ke Jawa Tengah.
Benar memang. Di samping dan depan rumahnya dikelilingi tumpukan sampah plastik yang menggunung. Limbah plastik yang terdiri dari berbagai alat kebutuhan rumah tangga itu juga tampak berserakan. Tertumpuk dalam karung yang menggunung. Sekitar 17 tenaga kerja dipekerjakan untuk memilah sampah plastik berdasarkan jenisnya sekaligus membersihkan dan menggiling sampai pada proses pengiriman.
Usaha pengelolaan sampah plastik Dwi Mitra Sejati milik Made Hermalawati ini, mampu menyisir hamper 90 persen desa di Gianyar. Bahkan, saat ini pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan pihak SMP 4 Tegalalang, SMAN I Sidemen Karangasem, dan SMAN I Tampaksiring untuk mengumpulkan sampah. “Beberapa sekolah itu mengantarkan sampah plastiknya ke sini. Kita bayar sesuai dengan harga pasaran. Dan kerja sama ini sudah terjalin cukup lama. Dulu ada, forum guru peduli sampah, tetapi sampai dengan saat ini belum terrealisasi dengan baik. Tetapi kami tetap jalan dengan membeli sampah dari pengepul. Itu gunungan emas kami” Jelas Made Hermalawati .
Ibu dua anak ini mengatakan, berkat sampah plastik ini, dirinya bisa menghidupi keluarga dan 17 kepala rumah tangga yang bekerja pada pengelolaan sampah miliknya. Melalui mesin penghancur plastik berstandar pabrik, Made Hermalwa mampu menyulap botol air mineral, wadah kosmetik, peralatan dapur, dan barang lain yang berbahan dasar plastik menjadi biji plastik. Produk tersebut merupakan bahan utama pembuatan poliester untuk dicetak kembali menjadi bahan karpet, busa kasur, hingga busa rokok.
Tentu saja Made Hermalwa tidak benar-benar mengorek tempat sampah seperti pemulung pada umumnya akan tetapi suaminya Gede Arnawa kerap membantu mengangkut sampah dari desa ke desa di seluruh Gianyar sampai ke Karangasem, Klungkung,Bangli dan Denpasar.
Disinggung soal cara pemisahan sampah berdasarkan permintaan Pabrik Made Hermalawati menjelaskan sampah plastik tersebut dipisahkkan menurut warna dan kekeruhan bahannya, sampah plastik itu dibersihkan dari semua jenis noda. Pembersihan itu pun sangat sederhana menggunakan pisau dapur. Khusus tenaga pembersih ini merekrut ibu rumah tangga juga.
Bahkan dalam memisahkan sampah plastik berdasarkan permintaan pabrik ada ilmunya. Bahwa sampah plastik sebeluk digiling atau dicacah dengan mesin, dipisahkan terlebih dahulu sesuai dengan jenis plasrtik dan warnanya. Secara umum, demikian Hermalawati , pengelompokan plastik bias dikenali dari kode yang tertulis dibalik kemasannya yakni, kode 1 jenis PETE untuk kemasan air mineral, kode 2 jenis HDPE biasanya untuk botol susu dan deterjen, kode 3 jenis V/PVC, kode 4 LDPE untuk pembungkus makanan, kode 5 jenis PP biasanya untuk botol minuman sedotan dan kode 6 jenis PS lebih dikenal dengan steroform serta kode 7 jenis lainnya.
“Sederhaanya dari tujuh kode itu dipisahkan menjadi dua yakni plastik bening dan plastik warna,” ungkapnya, seraya membeberkan permintaan pengiriman sampah plastik dari pabrik sesungguhnya tidak terbatas. “Permintaan sebanyak-sebanyaknya tetapi sampai dengan saat ini dengan keterbatasan modal dan sumber daya manusia kami hanya mampu mengirim 16 sampai dengan 17 ton saja per bulan,” tutur Hermalawati di amini Bang Ali, sang Mandor pengelolah sampah plastik Dwi Mitra Sejati.
Disinggung soal kendala, yang kerap dialami Made Hermalawati adalah masih sulitnya mencari kucuran permodalan dari bank dan pemerintah. Sehingga pemasukan yang menetes dari sampah, tidak cukup membantu. Walau demikian Made Hermalawati tetap berkomitmen untuk berbakti demi Bali yang bersih dari sampah plastik. Karena bukan soal untung yang dicari tetapi dharma bakti itu yang lebih penting. Karena alasan minim modal itu pula Made Hermalwa masih bertahan pengolahan sampah plastik jauh didaerah pedesaan. Made Hermalawati lalu menutup obrolan dengan suluhnusa.com, sembari berkata dirinya beremaskan sampah plastik demi dharma dan bakti untuk Bali. (Sandro Wangak)
