BPK Wil XVI NTT Fasilitasi Lestari Pangan Lokal Desa Bampalola Untuk Generasi Muda

Kami bersyukur dengan kegiatan ini. Terimakasih kepada Kementrian Kebudayaan melalui BPK Wildan XVI kegiatan ini dilakukan adalah ingin terus menjaga,...

KALABAHI – Di indonesia, rasa bukan sekadar soal selera, namun ia adalah warisan, identitas, dan cerminan hubungan manusia dengan alam.
Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Alor khususnya, kekayaan rempah-rempah dan teknik memasak tradisional yang diwariskan lintas generasi tumbuh dari keberlimpahan lumbung-lumbung pangan lokal: hutan, ladang, sawah, dan sungai.
Pangan lokal di daerah ini menjadi pintu masuk yang menggoda untuk menelusuri jejak panjang kearifan lokal dalam menyelami keseimbangan ekosistem pangan yang berkelanjutan.
Namun, perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya alam kini mengancam keberlanjutan ketersediaan bahan pangan lokal tersebut.

Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) pada 2025 mengungkap bahwa lebih dari 500 juta petani skala kecil yang memproduksi 80% stok pangan dunia menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, dengan prediksi potensi bencana kelaparan akibat menurunnya hasil panen atau gagal panen pada tahun 2050.

Krisis ini semakin nyata dengan meningkatnya suhu global dan perubahan pola musim yang mengganggu produksi pangan utama seperti jagung dan ubi ujian.

Di tengah kerentanan global tersebut, masyarakat adat memiliki peluang besar untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh melalui pelestarian praktik-praktik lokal yang telah terbukti adaptif terhadap perubahan alam.


Kabupaten Alor, dengan hutan hujan tropisnya yang kaya akan keanekaragaman hayati, menyimpan potensi luar biasa dalam membentuk ekosistem pangan yang regeneratif.


Di wilayah kampung adat Bampalola, pengetahuan turun-temurun tentang bercocok tanam, panen hasil hutan, serta mengolah bahan pangan alami telah menjadi warisan yang tak ternilai.



Melalui tradisi, praktik ini turut membentuk dasar ketahanan pangan berkelanjutan.

Untuk itu Kegiatan festival lestari pangan lokal Desa Adat Bampalola ini dilakukan dengan tujuan ingin tetap menjaga budaya dan pangan lokal yang ada di Alor, Nusa Tenggara Timur, 7 Desember 2025.

“Kegiatan ini juga difasilitasi oleh Balai Pelestarian kebudayaan XVI wilayah NTT  bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Alor dan pemerintah desa Bampalola”, ungkap pendamping Pemajuan kebudayaan Desa Bampalola, Aja Adiputra Eki Asri.


Dukungan dan ucapan terimakasih juga disampaikan oleh Mukhtar Adang, Kepala Desa Bampalola, Kepala desa Bampalola karena bernuansa budaya dan di selenggarakan dengan melibatkan seluruh generasi muda Bampalola, mulai dari tingkat Madrasah sampai Mahasiswa sebanyak 200 orang. 


“Kami bersyukur dengan kegiatan ini. Terimakasih kepada Kementrian Kebudayaan melalui BPK Wildan XVI kegiatan ini dilakukan adalah ingin terus menjaga, melestarikan serta mewariskan budaya yang telah ada kepada generasi selanjutnya”, ungkap Mukhtar Adang. +++sandro.wangak

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *