Eflin. Itulah namanya. Itulah sapaan manisnya. Setiap lelaki yang mengenalnya, pasti tertarik. Tertarik bukan karena parasnya yang cantik. Bukan juga karena fisiknya yang membikin air liur setiap lelaki meleleh dan mencair bak sungai.
Melainkan karena kegigihan, kerendahan hati, kelemah lembutan serta mempunyai asa dalam menggendong kesuksesan dan keberhasilan di bumi nan fana ini. Eflin, merupakan ribuan gadis yang terselip di antara gadis gadis seusianya.
Semasa remaja, ia tergerak hatinya oleh belas kasihan dalam membantu kedua orangtuanya dengan menggembalakan kambing domba.
Bayangkan saja, di usia remajanya yang seharusnya ia meneguk kebebasan dengan bermain sepuasnya, malah ia memilih bermain dengan kambing domba di padang savana. Baginya, menggembalakan kambing domba merupakan kesukaannya tersendiri.
Ia menjalaninya dengan riang gembira bak bunga bunga di taman hatinya yang sedang gemulai membasahi pikirannya. Ia merupakan satu satunya anak desa yang sangat tergolong cantik. Baik secara fisik maupun secara sikap. Sudah cantik secara fisik, tetapi memilih menghabiskan waktunya di usia pubertas dengan kambing domba.
Mungkin ia mempunyai alasan tersendiri, mengapa memilih kambing domba ketimbang memilih bermain di aspal jalanan yang hanya nantinya menghabiskan waktu tanpa suatu makna??
Eflin merupakan anak berbakat dan sekaligus memiliki intelektualitas yang sangat bernas. Di sekolah, ia selalu dijadikan pioneer bagi teman teman serta para gurunya. Di sekolah, ia tak pernah menyombongkan diri bahwa ia anak yang cerdas, dan cantik.
Malahan ia selalu memilih mundur tatkala sebagian teman temannya ingin menggombalinya. Baginya, lebih baik membaca di perpustakaan sekolah, ketimbang menggosipkan sesama rekannya di kantin. Bukannya ia anak orang tak mampu, tetapi ia telah memiliki kesederhaan hidup. Nilai nilai kesederhaan itulah yang selalu mengharumkan namanya, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya.
Dalam hitungan detik, suatu waktu ia pasti menjadi orang hebat dan terkenal. Kedua orangtuanya memberikan waktu dengan sebebas bebasnya. Ia tak merasa dikekang. Ia mempunyai ruang kebebasan yang sangat baik dan bagus, ketimbang memasuki ruangan berasap rokok.
Elfin. Merupakan suatu nama dan kepribadian yang sangat melekat erat dalam darahnya. Setiap adrenalin yang mengairi seluruh tubuhnya, merupakan adrenalin seni.
Ia memang memiliki suara nan merdu, tetapi ia hanya bisa bernyanyi dikala menggembalakan kambing domba. Terkadang kambing domba merasa terhibur dengan suara centilnya.
Ceritanya. Pernah suatu waktu, salah satu kambing dombanya karena salah memungut rumput, mengalami sakit perut. Ia tak menyangka bahwa sakit perutnya kambing domba tak akan terlalu lama. Ia tak kehilangan akal. Ia tak panik sedikit pun.
Ia tetap tenang dalam menghadapi cobaan tersebut. Ia tak berbuat banyak selain bernyanyi. Lagu yang
dinyanyikannya adalah Tuhan, Kasihanilah Kami. Kurang lebih 20 menit ia menyanyikan lagu tersebut. Tak lama kemudian, ia melihat kambing dombanya yang tengah sakit perut, terkekeh sendiri karena sudah dapat membuang hajat.
“Apa benar kambing domba itu sakit perut? Atau kah ini hanya sebuah taktik untuk mendengar suara merdu ku? Atau kah kambing domba itu ingin berduet denganku dalam menyanyikan lagu? Atau jangan jangan kambing domba ingin mengadakan konser tarik suara ala penggembalaan di padang savana ini? Sehingga terdengar ribuan panggung menyobek serta turut memungut rumput rumput belantara?”selidiknya dalam hati.
Dalam hatinya, ia kembali mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan karena berkat lagu yang dinyanyikannya, kambing dombanya yang mengalami sakit perut kini telah tersembuh. Baginya, lagu mempunyai kekuatan magic. Lagu mempunyai kekuatan ganda.
Lagu mempunyai segala galanya dalam menyembuhkan sakit penyakit lainnya termasuk sakit hati sekali pun. Ia memperhatikan kambing dombanya yang barusan mengalami penyembuhan dengan riang gembira.
Kambing domba itu lari ke sana ke mari. Pada hitungan terakhir menurutnya, kambing domba itu menghampirinya. Setiba di depannya, kambing domba itu berlutut serta menciumi kaki dan tangannya sebagai ucapan syukur.
“Tuhan, inilah tuanku yang tidak meninggalkanku disaat aku terkapar dalam sakit. Hanya sakit perut yang dibuat buat, tuanku memperhatikanku dengan sangat baik. Tuhan, aku melakukan itu hanya untuk meminta keadilan soal cinta dan kasih sayang dari tuanku. Memang harus kuakui di antara semua kambing dombanya, aku yang berada di usia uzur. Tuhan kan tahu, seperti apa kambing domba ketika memasuki usia uzur? Tentunya kambing domba itu ingin diperhatikan. Ingin dimanjakan seperti ketika berada di usia kanak kanak dan remaja. Eh Tuhan, tahu tidak aku juga makin sayang dan bahkan sebagian darahku hampir tertumpah ke tanah tatkala aku…”
tumpah batin kambing dombanya berlinangkan airmata.
Eflin terdiam. Bagaikan dihantam petir di sore hari menjelang malam.
Ia berusaha menenangkan kambing dombanya yang tengah terisak tangis. Ia mengusap bulu bulunya dengan jemari lentiknya. Dengan menggunakan kakinya sebagai alat komunikasi, kambing dombanya itu mengerti bahwa ia sementara memberikan cinta untuknya.
Sekilas, ia memperhatikan sebagian kambing dombanya yang tengah berkejaran di padang savana. Yang lainnya tengah asyik masyuk memadu asmara sambil mengunyah tatkala senja menghampiri dan mengajak pulang ke kandang.
Sementara keduanya masih saling menatap. Entah pesan apa yang mau disampaikannya, hanya debu dan hasil pungutan rumput yang telah tersimpan ke dalam kantung perutlah yang maha tahu.
Ia mengakhiri tatapan tersebut dengan melayangkan satu kecupan di jidatnya. Kambing dombanya itu mengejar ketertinggalan kawanannya. Dengan menaiki punggung malam, ia pun beranjak dari perbukitan menuju rumah. ***
Atambua, Januari 2014.